Advertising by :

Advertisement

Saturday, June 12, 2010

Black Diary






Minna, fic ini Kuro buatkan special untuk 'Micon' sebagai tanda permintaan maaf Kuro.

Bukan maksud Kuro menganggap review-nya sebagai flame.

Tapi Kuro tersadar dari kata-kata di review-nya yang menandakan bahwa apabila Kuro tak menuliskan kalimat itu maka fic Kuro akan terancam mendapat banyak flame.

Kuro justru berterimakasih pada Micon yang sudah mengingatkan Kuro.

Semoga ia membaca fic ini.

Dan sekali lagi, Kuro minta maaf.

Happy Reading






Author: Kuronekoru

Disclaimer : Masashi Kishimoto

Rated : T

Genre : Mystery/Horror

Pair : SasuNaru

Warning :

AU, OOC, Oneshot

Summary :

Black Diary, milik Uchiha Sasuke. Siapa pun yang membaca buku harian itu mulanya akan melihat berbagai hal yang tidak wajar. Setelah selesai membaca buku itu, maka orang itu akan mati.






22 Juli 2010, Konoha City.

"Hei! Ayo cepat, cepat! Nampaknya masih ada yang hidup di tumpukan batu ini!" ucap seorang berseragam putih. Dengan lambang (+) plus berwarna merah di dada seragamnya. Atau lebih sering kita sebut, Tim Medis Konoha (TMK). Di dada kirinya tertera nama 'Uzumaki Naruto'.

"Baik! Hei kalian cepat ambil peralatan untuk membongkar tumpukan batu ini!" ucap seorang lagi dengan seragam yang sama. Di dada kirinya pula tertera nama 'Sabaku no Gaara'.

Sekitar sejam yang lalu, Konoha City terkena gempa berskala 7.2. Sekitar 80% daerah sana hancur. Saat ini, TMK sedang berusaha menyelamatkan orang yang masih hidup, maupun jenazah-jenazah yang masih tertumpuk beton dan sebagainya.

"Tumpukan batunya sudah disingkirkan sebagian! Ayo cepat tarik orangnya!" ucap Naruto. Anggota TMK pun bekerja sama untuk menarik orang yang tertumpuk beton itu. setelah berhasil di tarik, apa yang mereka temukan?

Seorang pemuda berambut seperti pantat ayam hitam, berkulit putih pucat. Ia tengah memeluk erat sebuah buku. Setelah diperiksa, ternyata pemuda itu sudah meninggal.

"Cih sial! Lagi-lagi sudah meninggal! Sulit sekali kita menemukan orang yang masih hidup!" ucap Gaara kesal. Kemudian hendak menyuruh anak buahnya memasukkan jenazah itu kedalam kantung mayat.

"…. Tunggu, buku yang dipeluknya itu jangan ikut dimasukkan. Biar aku yang pegang, ini akan menjadi barang bukti." Ucap Naruto.

"Hmm? Dasar kau ini aneh-aneh saja. Barang bukti apa? Dia kan meninggal karena gempa. Tak perlu ada bukti lagi." Sahut Gaara.

"…."

"Huhh… Kau terlalu percaya pada hal-hal mistis Naruto. Terserah kau lah! Ambil ini!" ucap Gaara sembari melemparkan buku itu ke arah Naruto. Naruto pun menangkap buku itu, kemudian membaca sampulnya.

'My Diary, Uchiha Sasuke.'

'… Buku harian rupanya. Jadi nama jenazah pemuda itu Uchiha Sasuke.' Batin Naruto sembari mulai membuka lembaran pertama.

Aku, Uchiha Sasuke. Saat ini aku berumur 17 tahun. Duduk di kelas XII Konoha Senior High School. Yah.. Aku termasuk anak yang bermasalah di sekolah. Aku sering memalak adik-adik kelasku, berkelahi, merokok di sekolah, minum minuman keras pun tak jarang bagiku.

'Pemuda yang bermasalah ya?' batin Naruto, lalu mencari tempat duduk kemudian mulai membaca lagi.

Dan yang lebih parah.. Aku pernah membunuh orang, kau tahu?

'Eh? Sampai membunuh orang kah? Benar-benar sangat bermasalah.' Batin Naruto.

Yang kubunuh itu adalah kakakku sendiri, Uchiha Itachi. Apa kau merasa aku sudah gila? Ya, mungkin begitu. Tapi kakakku itu jauh lebih gila dariku!

'Ka-kakak sendiri? Yang dibunuh olehnya? Tapi mengapa ia mengatakan kakaknya lebih gila darinya?'

Inilah alasan mengapa aku membunuhnya. Sebenarnya sejak awal aku adalah murid teladan di sekolah. Guru-guru pun semua sayang padaku. Aku juga terkenal di sana, memiliki banyak fans pula. Tetapi sejak saat itu semua berubah…

Saat aku baru pulang sekolah, saat itu aku masih berumur 7 tahun. Aku merasakan rumah sangat sepi, ah tidak bukan hanya rumahku saja. Tapi seluruh kompleks perumahan Uchiha. Ini tumben sekali, biasanya saat aku pulang sekolah, pasti ada bibi yang menyapu di depan rumahnya. Sepupu-sepupuku yang sedang bermain di taman kompleks Uchiha, dan lain-lain. Perasaanku mulai tidak enak, aku berlari masuk ke dalam rumah. Memanggil-manggil ayah dan ibuku. Namun tak ada jawaban, Hei jangan bercanda. Ini bukan kejutan hari ulang tahunku kan? Tentu saja tidak ini bukan hari ulang tahunku. Aku berlari mencari ke segala ruang yang ada, namun aku tak menemukan yang aku cari. Sampai akhirnya terdengar suara jeritan wanita. Ibu? Ya. itu pasti ibu. Tapi kenapa menjerit? Ibu terlihat begitu ketakutan. Aku pun berlari menuju asal suara itu. apa yang kutemukan? Sebuah ruangan rahasia Uchiha. Aku tak pernah masuk ke dalam sini karena ayah tak mengijinkanku. Lagi-lagi terdengar suara jeritan ibu. Aku mengurungkan niat untuk membuka pintu itu, aku berlari ke dapur, mengambil sebuah pisau besar untuk melindungi diri. Kemudian kembali ke tempat itu.

Perlahan ku buka pintu itu. namun apa yang kutemukan? Lantai yang bersimbah darah. Darah… Darah… Darah ayah dan ibu yang sudah mati dengan kepala terpisah dari tubuhnya. Lalu pandangan ku teralih pada lelaki yang berdiri di samping ayah dan ibu. Siapa? Kakak? Ya. itu adalah kakak-ku. Ia tengah tersenyum menyeringai sambil memegang sebuah Kusanagi yang bersimbah darah, kemudian menjilat darah itu. aku sungguh ketakutan, kemudian bertanya padanya dengan gugup. Perasaanku sudah bercampur aduk, takut, marah entahlah apa yang kurasakan sekarang. Aku bertanya mengapa, dan ia menjawab dengan santai. Hanya untuk mencoba ketajaman kusanagi yang baru ia dapatkan. Ia berkata sudah membunuh 99 Uchiha yang ada. Tinggal 1 orang Uchiha lagi terpenuhilah keinginannya. Lalu ia berkata akulah orang Uchiha terakhir, kemudian berlari ke arahku, bersiap memenggal kepalaku juga sama seperti ayah dan ibu. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Berlari? Sudah terlambat. Berteriak meminta pertolongan? Semua orang di kompleks ini sudah mati. Saat ia sudah berada pada jarak yang sangat dekat denganku, dan ia bersiap untuk memenggal kepalaku. Reflex…. Pisau dapur yang kupegang menghantam perutnya. Darahnya muncrat mengenai wajahku. Perlahan ia mundur kebelakang sembari memegang perutnya yang tertancap pisau itu. kemudian ia terjatuh, berbaring di samping ayah dan ibu lalu…. MATI.

Aku berjalan mendekati mayat mereka bertiga, mereka bertiga terbujur kaku. Kemudian aku mengusap wajah dengan tangan kananku, merah.. merah karena darah. Darah kakak, darah kakak yang kubunuh dengan tanganku sendiri. Pandangan mataku kosong, kemudian aku tersenyum menyeringai. Aku tak tahu apa yang harus kulakukan. Bagi anak umur 7 tahun, ini terlalu berat. Tak ada yang bisa kulakukan selain tersenyum. Tak ada lagi yang kumiliki.

"…Ruto..…"

"Naruto…."

"Naruto!" ucap Gaara mulai kesal karena panggilannya tak dihiraukan oleh sahabatnya itu.

"Ah! I-iya!" ucap Naruto terbata-bata sembari menutup Diary itu, lalu berlari ke arah Gaara.

"Ayo kita pergi meninggalkan tempat ini, di tempat ini sudah tak ada siapapun lagi." Ucap Gaara.

"Hn."

-Kuronekoru-

Naruto yang kebetulan mendapat tugas menjaga jenazah-jenazah tersebut, duduk di belakang ambulance bersama jenazah pemuda yang bernama Sasuke itu.

'Yang tadi itu benar-benar menakutkan. Tragedi yang di alami pemuda ini sungguh menyedihkan.' Batin Naruto. Ia memandang kosong kantung yang berisi jenazah itu tepat di bagian wajahnya. Sekilas Naruto melihat bayangan, wajah di balik kantung itu tersenyum menyeringai ke arah Naruto. Naruto tersentak kaget, kemudian memberanikan diri untuk membuka risleting kantung tersebut. Tak ada apa-apa selain wajah yang pucat. Naruto menghela napas lega. Dengan sangat tiba-tiba tangan putih pucat menyentuh pundaknya. Naruto pun berteriak.

"Oi, oi.. Ada apa denganmu? Ini aku Gaara. Kita sudah sampai dari tadi, namun kau tetap tidak keluar dari sana." Ucap Gaara.

"Ga-Gaara.." napas Naruto terengah-engah. Jantungnya berdebar kencang. Ia sungguh ketakutan tadi.

"Hn? Apa kau melihat sesuatu tadi?"

"… Ti-tidak…" Naruto mengelak, kemudian mengambil Diary itu lalu berlari keluar dari dalam ambulance itu. ia tak ingin berlama-lama berdekatan dengan jenazah itu.

Malam hari

Naruto memang sekamar dengan Gaara. Kamar dengan ukuran minim, di tambah dengan ranjang susun, sebuah meja dan lemari pakaian sudah cukup untuk kamar anggota TMK. Seusai mandi Naruto naik ke ranjang-nya yang paling atas, sedangkan Gaara di bawah. Kemudian ia membaca kembali Diary itu.

Jadi seperti itulah alasanku membunuhnya. Setelah kuceritakan, sekarang apa pendapatmu? Aku atau kakakku yang gila?

'Hmm, aku rasa yang gila adalah kakakmu.' Batin Naruto.

Setelah kejadian itu, aku dimasukkan ke asrama sekolah. Semua biaya di tanggung oleh kerabat ayahku. Setiap bulan kerabat ayahku selalu mengirimi aku uang yang cukup banyak. Ya ia orang yang kaya. Namun, sejak saat itu pula, sikapku berubah. Aku berubah menjadi anak yang bermasalah. Sudah berkali-kali aku di bawa ke kantor kepsek, hingga kantor polisi atas perbuatanku. Tetapi aku pasti diloloskan dengan alasan 'Ia anak yang mengalami trauma. Ini bukan salahnya' anak yang mengalami trauma? Begitukah?

'Ya, biasanya anak yang mengalami kejadian itu pasti trauma.' Batin Naruto. Kemudian Ia membalik ke halaman selanjutnya. Namun apa yang ia temukan? Kosong, nampaknya pemuda itu tak melanjutkan untuk menulis diary-nya.

Ketika Naruto ingin menutup diary itu, ia di kejutkan oleh setitik warna merah yang muncul di halaman yang kosong itu. warnanya merah pekat, seperti darah. Perlahan titik merah itu berjalan membentuk tulisan. 'Untuk kejadian selanjutnya akan kuperlihatkan padamu secara langsung.'

Naruto tersentak kaget, kemudian menutup buku itu memasukkannya ke bawah bantal kemudian menutupi seluruh badannya dengan selimut. Ia sungguh ketakutan.

'Apa? Apa maksud tulisan itu? akan di perlihatkan secara langsung? Oh tidak…' batin Naruto ketakutan kemudian berusaha untuk tidur.

-Kuronekoru-

Di sebuah kamar yang asing.

"Eh? Ada di mana aku? Kamar siapa ini?" ucap Naruto ketakutan.

Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka muncul seorang pemuda berambut seperti pantat ayam hitam, bermata onyx, dan berkulit pucat. Itu…. Jenazah pemuda itu kan? Naruto menutup mulutnya karena kaget.

Pemuda itu berjalan, menembus Naruto. Sekali lagi Naruto dibuat kaget. Ia baru menyadari kalau tubuhnya hanya berupa bayangan yang tembus pandang, dan pemuda itu tak bisa melihatnya.

Pemuda yang bernama Sasuke itu berjalan, membuka lemarinya. Mengambil sebilah pedang kusanagi. Tunggu, kusanagi? Jangan-jangan itu pedang yang di gunakan kakaknya untuk membantai seluruh orang Uchiha.

"Kakak, hidup ini membosankan." Ucap Sasuke pada kusanagi itu.

"Eh? Apa yang ia lakukan? Bicara pada kusanagi?" ucap Naruto bingung.

"Dan ini semua gara-gara kau kakak." Tambah Sasuke.

"Sampai sekarang aku masih tidak mengerti dengan keinginanmu untuk membantai 100 orang Uchiha."

"Tinggal 1 lagi ya… tercapai lah tujuanmu."

"Apa perlu aku yang mewujudkan keinginanmu?"

"Tapi siapa Uchiha yang tersisa selain aku?"

"Khukhukhu… Baiklah, akan kuturuti permintaanmu." Ucap Sasuke menyeringai kemudian mengarahkan pedang kusanagi itu ke arah perutnya.

"A-apa yang akan ia lakukan? Ia bunuh diri?" ucap Naruto.

Setelah Sasuke menghujamkan pedang tersebut ke perutnya, gempa besar terjadi.

"Ge-gempa!" ucap Naruto.

Tubuh Sasuke telah terjatuh, ia berbaring dengan keadaan kusanagi menancap di perutnya kemudian mengatakan sesuatu.

"Ugh.. ja-jadi inikah, tu-tujuanmu…."

"Kau i-ingin me-memusnahkan se-seluruh umat ma-manusia dengan men-menciptakan gempa i-ini kan."

"A-apa maksudnya?" Naruto semakin bingung.

"Kalau begitu, a-aku setuju denganmu…. Kakak…."

Sasuke mencoba berusaha bangkit, walau rasa sakit menjalar di tubuhnya, ia mengambil sebuah buku bertuliskan 'My Diary, Uchiha Sasuke'.

Ia ingin menuliskan sesuatu di diary itu, namun terlambat. Darah keluar dari kerongkongannya kemudian di muntahkan lewat mulutnya. Waktunya sudah tiba. Darah Sasuke mengalir di halaman kosong itu. seketika itu, Sasuke mati, dan jenazah-nya tertimpa beton-beton.

Setelah itu, pemandangan yang dilihat Naruto menghilang dalam sekejap. Semua menjadi hitam. Kosong, tak ada apa pun di sana. Tiba-tiba terdengar suara.

"Fufufufufu…"

"Si-siapa itu?" Naruto menoleh ke asal suara tawa itu. dan yang ditemukannya adalah, Sasuke.

"Bagaimana Naruto? Cerita yang menyenangkan bukan?"

"Me-menyenangkan apanya! Aku masih tidak mengerti dengan apa maksudmu itu!"

"Khukhu.. rupanya otakmu masih tidak bisa mencerna kejadian ini, kau memang pantas di panggil dobe.

"Jangan panggil aku dobe, teme!"

"Biar kujelaskan. Tujuan kakakku yang sebenarnya adalah memusnahkan seluruh umat manusia. Karena itu ia mencari pedang sihir kusanagi warisan turun temurun di keluarga Uchiha. Pedang yang apabila telah membunuh 100 orang Uchiha maka akan terjadi gempa dahsyat. Sampai akhirnya aku juga setuju dengan pendapat kakak. Aku akan membantunya memusnahkan umat manusia. Tapi… kenapa masih ada yang hidup ya?"

"Karena masih ada Tuhan yang melindungi umat manusia yang baik! Kau tidak akan pernah bisa memusnahkan umat manusia!" ucap Naruto.

"Aku bisa melakukan apapun yang aku mau…. Karena itu, aku akan membunuh umat manusia satu persatu!" ucap Sasuke.

"Oh ya? memangnya kau bisa apa? Apa yang akan kau lakukan untuk membunuh umat manusia? Kau mungkin bisa saja membunuh yang lain, tapi kau tak mungkin bisa membunuhku!" ucap Naruto sambil tertawa.

"Kau bodoh, Naruto. Fufufufufufu…" ucap Sasuke sambil tertawa mengejek.

"A-apa maksudmu tertawa seperti itu?"

"Kau bilang aku tidak akan bisa membunuhmu? Kau salah! Sejak awal aku kau sudah masuk perangkapku."

"Eh?"

"Setiap orang yang membaca buku harianku, orang itu akan mati. Itulah caraku. Dengan kata lain. Kau sudah mati, Naruto."

-Kuronekoru-

Pagi hari

Gaara sudah siap untuk bekerja. Tapi ia bingung melihat Naruto yang biasanya rajin bangun pagi itu, mengapa ia belum bangun? Akhirnya Gaara memutuskan untuk membangunkan Naruto.

"Oi, Naruto ini sudah pagi. Ayo siap-siap, nanti kau di marahi ketua." Ucap Gaara sembari mengguncangkan tubuh Naruto. Namun tak ada respon.

"Oi, Naruto! Ayo bangun jangan bercanda!" lagi-lagi tak ada respon. Sebagai anggota medis, Gaara pasti tahu langkah apa yang harus dilakukan. Ia memeriksa detak jantung Naruto, tapi tak berdetak. Ia juga memeriksa denyut nadi Naruto, tapi tak ada denyut sedikit pun. Percuma…. Naruto…. Sudah mati….

-Kuronekoru-

Naruto mati secara tidak wajar, itulah kesimpulan Gaara. Gaara sangat terpukul atas kematian sahabatnya. Kemudian ia melihat buku harian itu.

'Naruto mati setelah membaca buku ini…' batin Gaara sembari mengambil buku itu.

'Buku ini pasti ada apa-apanya. Aku harus membacanya.' Batin Gaara.

Dari atas sana, Sasuke tertawa menyeringai.

"Sedikit demi sedikit umat manusia akan musnah. Dengan adanya Black Diary itu. Hahahahahahahahahaha." Ucapnya.

FIN






Save Sakura from Danzou!

Hohoho~ ide baru muncul dari otak sang author nista kita! Ok, ini special request dari teman-temanku se-sekolah. Anehnya yang minta anak laki ==''
Okelah… ini terinspirasi sama fict-na G n K senpai yang berjudul 'Save Sakura' juga. Tapi yang Rin ceritana lebih beda(?)
OK, daripada denger basa babi Rin, meningan langsung baca aja! Abisna langsung Review! Multichap yeuuh…^^d





Author: Uchiharuno Rin
Disclaimer: Naruto©Om Kishimoto, fict-na punya Rin.
Warning: Super-duper-killer OOC, Gaje, Jayus, de-el-el…





Chapter 1: Welcome back to Konoha, Sasuke!

Tap…tap…tap….

Sasuke melompati cabang demi cabang pohon segede alaihim gembrong.

"haaaaah…emaaaak~ nasib gue kacaauuu~" Lenguh Sasuke sambil membersihkan ingus ijo yang mengalir cepat dari lubang hidungnya *Kirin*

"Haai Sasuke!" Sapa sang author yang tiba-tiba muncul di hadapan Sasuke.

"AAAAAKHHH! SIAPE LU!" Teriak Sasuke sambil melempar sepatu baunya ke muka sang author. Alhasil Author nista itu tepar tak berdaya dan nyemplung ke kolam yang airnya berwarna hitam keijoan(?)

"hah…hah…" deru nafasnya terdengar serak seperti kodok yang lagi keselek ikan(?)

Sebenarnya apa sih yang terjadi dengan si ayam *chidori* ganteng itu?

PLES BEK: ON *lagi-lagi authorna norak!*

"Saskey-cake…" Panggil seorang suketi berkacamata berambut merah. Sasuke yang melihatnya langsung ingin pingsan. Lalat…eh ralat… ingin mati malah…

"AAAAGH! SUKETI, SUKETI, KUNTI! AAAAAKH! Karinnn! Ngapain luu?" Tanya Sasuke membetulkan poni rambutnya dengan tangan bergetar. Karin tersenyum lebar membuat Sasuke pingin muntah.

"Saskeey…" Karin membelai pipi Sasuke dan…

BUAAAGH! PLENTANG! MEONG…(?)

"MABOK LU YA? GUE LEBIH MILIH SAK―" Sasuke menutup mulutnya keceplosan. Karin menatapnya dengan air mata buaya.

"Si…siapa Sak, Saskey-kun?"

"Siapa aja boleeh! Bukan urusan lu, suketi! Emang lu siape gue, sih?" Ketus Sasuke sambil mencekek-cekek leher Karin.

"Ukh…ka-kamu 'kan suamiku…"

"AMIIITTT! HOEEEEEEEK!" Dan Sasuke memuntahkan semua makanannya TEPAT di atas kepala merah(?) Karin.

"SASUKE!" Sasuke langsung ngibrit sementara Karin mengejarnya dengan maksud 'memberi' hukuman pada anak ayam *plak* itu.

"KAPOK GUE PERGI DARI KONOHA! EEH KAGAK TAUNYA KETEMU MA ELU! HWAAAA! SUIGETSU, JUUGO! KEMANA ELU-ELU SEMUAAA? TOLONG GUEE!" Teriak Sasuke sambil meloncati satu persatu cabang pohon. Sementara dua orang yang dipanggil? Stay enjoy~ =='' di dalem markas Akatsuki.

"TOLOOONG! GUE MAU DIPERKOSAAAA!" Teriak Sasuke lebay semua swt. Kenapa Sasuke bisa ngomong gitu? *readers: kagak tau bego!* Coz celana Sasuke diperosotin ma Karin. Tapi untungnya Sasuke makek celana boxer gambar kodok ijo(?) buat cadangan…ckckckck….

PLES BEK: OP

"Ekh?" Sasuke yang lagi meloncat-loncat gaje itu hampir terjatuh gara-gara sebuah kelopak bunga Sakura hinggap di jidatnya(?)

"Kelopak Sakura? Eh… nape gue jadi inget ke si sadako itu, ya?" Ujar Sasuke seenak jambul. Kemudian ia menyeringai mesum dan berkomat-kamit…

"Udah saatnya gue menebarkan serbuk kejantanan gue ke keperawanan si pinky itu! Lama-lama gue jadi…akh! Apaan sih gue ini?" Sasuke jadi blushing sendiri dan mengacak-ngacak rambut emo-nya. Sasuke tau kalo dia ntu jatuh cinta ma Sakura semenjak ketemuan di markas mbah Oro itu lho… setiap ngomongin Sakura dalem atinya, dia pasti jadi blushing sendiri. Sampe Suigetsu dkk ngira Sasuke ntu rada-rada 'autis'

"Ah, udah deh! Kalo gitu gue balik aja ke―"

BUGHHH

"Anjrit makan *piiiip*!" Latah Sasuke. Orang yang tadi nabrak Sasuke langsung membelalakan mata hitamnya.

"Sasuke-kun!" Orang itu menampar-nampari pipi mulus *halah…* Sasuke dengan tangan pucatnya.

"Adaaauw! Sakit bego! Lu siapa siiih…eh! LU MAYAT IDUP YANG WAKTU ITU, 'KAN?" Teriak Sasuke histeris sambil memegangi pipinya. Sedangkan orang tadi tersenyum khas. Siapakah diaaa? Yak! Sai, si mayat hidup!*plak*

"Aku juga punya nama, kok… aku Sai…" Sai mengelus pipi Sasuke lembut. Sedangkan Sasuke merinding dan menepis tangan buduk *BUAGH!* itu.

"bacot lu! Anter gue balik ke Konoha, yuk! Lu mau ke mana?" Tanya Sasuke. Sai menatap onyx-nya datar.

"Mau nyari elu. Tapi lu-nya ada di sini… yaud, yuk atuh ke Konoha! Pasti gue dikasih gaji lebih ma Hokage-sama!" Sai menyeret tangan Sasuke yang lagi swt.

'semenjak gue gak ada… Konoha jadi pada edan semua…' Batin Sasuke ke-PD-an. Padahal dia sendiri lebih edan. *dichidori*

"Sas… lu capek gak?" Tanya Sai lembut. Bagaikan uke yang lagi ngerayu seme-nya.

SasuSai: HOOI! GEBLEK LU AUTHOR NISTA!

Rin: Ekh! Ampun om! Saya belum nikaah!

SasuSai: -bikin si Rin tepar-

Back to story…

"Ya capek lah! Lu gendong gue dong!" Ujar Sasuke tiba-tiba naik ke punggung Sai.

"AAKH! NYERI NYERI NYERI MOAL BISA DIUBARAAN!" Teriak Sai GAJE. Sasuke sweatdrop.

Sementara itu di Konoha…

"Sai lama sekali, sih…" Keluh seorang gadis berambut merah muda sebahu.

"Geblek tuh anak! Jangan-jangan gagal!" Naruto melambaikan tangannya di depan muka Sakura.

"DIAM NARUTO! GUE LAGI GAK ENAK FEEL NIH!" Jerit Sakura esmosi. Tiba-tiba Sai dan Sasuke datang ke hadapan mereka dengan posisi nggak nyaman. Sasuke menggendong Sai. Kenapa?

"SAI! SASUKE-KUN! KENAPA DENGAN KALIAAN?" Geram Sakura khawatir. Sasuke yang nggak sengaja ngeliat muka Sadako-nya Sakura *Shannaro* langsung blushing.

"Slow Sakura… gue encok! Jadi si Saskey ini nge-gendong gue…" Jelas Sai sambil tersenyum menyebalkan. Sasuke, Sakura, dan Naruto mencibir.

"What ever lah… HEI TEME! APA KABARMU?" Teriak Naruto cempreng. Sasuke swt

"Dobe… diem ah! Gue capek habis dikejar Suketi, tadi!" Sasuke meronta dalam pelukkan si Dobe.

"Naruto! Lepaskan Sasuke-kun! Dia capek!" Ujar Sakura sambil melepaskan Naruto yang memeluk Sasuke. Bagian Sakura deeh…

"SASUKE-KUN! AKU RINDU PADAMU!" Sakura memeluk Sasuke dengan erat. Nggak nyadar tuh, kalo dari tadi Sasuke lagi ngegendong Sai. Karena lupa, Sasuke melepaskan tangannya yang tadi menahan Sai. Ia membalas pelukan Sakura. Membiarkan Naruto yang cengok dan Sai yang terjatuh dari pangkuannya.

"Heei, teme… tadi kok pas gue meluk lu kagak dibales? Sakura-chan ajaa…" Gusar Naruto. Sasuke blushing. Sakura pengen pingsan. Tiba-tiba saja semua Rookie 12 keluar dari persembunyiannya dan bersorak sorai gembira.

"SASUKE-KUN! WELCOME BACK TO KONOHA!" Teriak semuanya kecuali orang-orang tertentu seperi Neji, Shino, dan sejenisnya.

"Cieeeh… dateng-dateng langsung meluk Sakura… kangen kesumat(?) niih…" Goda Tenten memanas-manasi. Bukannya dilepas, pelukannya pada Sakura malah dipererat.

"Wuiih… tau blushing bukannya dilepas, lagi!" Kali ini Ino yang menggoda. Sasuke dan Sakura semakin blushing.

"Banyak bacot nih cewek-cewek! Tidur aja, napa…sih?" Gerutu Shikamaru yang ada di gendongan Chouji.

"Sas… akhirnya lu balik juga! Gue seneng nih Sas…" Kiba dan Lee menepuk-nepuk bahu Sasuke.

"Waaduuh… enakne yang teamnya lengkep semuaa~"

"Sa-sasuke-kuun… se-selamat da-datang ke-kembali…" Udah tau kan siapa yang ngomong?

"Gimana tuh waktu lu ngebunuh kakak lu?"

"Sas… lu udah dapet cewek belum?"

Pokoknya mereka banyak bacot sampe gak ngerasa ada 4 orang guru mereka yang lagi menguntit.







Chapter 2: Mission with Sakura

Lagi asyik-asyiknya reuni-an, 4 guru pembimbing mereka menguntit adegan err… ehm… uhuk!

Sasuke: buruan ngomongnya!
Rin: Kudu gimana? Ntar gue dibilang ngeres, lagi!
Sasuke: alaah! Lu 'kan emang orang ngeres!
Rin: Gak mau!

BTS

"Ho… murid tengilmu yang satu itu ternyata kembali juga, Kakashi!" Guman Guy sambil meperin upil ke jounin vest-nya Kakashi.

"Enak aja lu kate dia tengil! Si batok itu lebih tengil plus autis tauk!" Balas Kakashi membela Sasuke. Untung dia ngomong gitunya nggak di depan Lee FC… klo sengaja ngomong gitu di depan FC-nya si Lee, yang ada udah disate! ==''

"Udah, udah! Malu donk ah berantem mulu! Meningan kita laporin semua ini ke hokage-sama aja!" Lerai Asuma dan Kurenai.

Bagian murid-murid…

"Jangan sentuh Sakura-chan ku!" Teriak Lee sambil mengangkat tangannya, berniat menggelepak Sasuke.

"DASAR TUKANG KELAPA! BIARIN DULU MEREKA MELEPAS RINDU!" Bentak Tenten sambil menjitak kepala batok(?) Lee.

'Kurang asem! Kenapa, coba gue harus ketawan!' Batin Sasuke geram. Kemudian ia melepaskan pelukannya dan berbisik pada Sakura.

"Sak… pelukannya ntar lanjutin lagi, ya? Di sini banyak cecunguk pengganggu!"

"I…i…iya…" Ujar Sakura sambil mengangguk. Mukanya hampir saja ditelan bulat-bulat sama Sasuke(?)

Setelah beberapa lama adu mulut, *yang adu mulut ntu cuma Sasuke, Sakura, Lee, ama Tenten doang… yang laen pada nonton* keluarlah para guru-guru tengil*plak* tadi dari persembunyiannya.

"Yo, Sasgay!" Sapa Kakashi. Sasuke mendengus kesal.

"Jangan panggil aku dengan sebutan itu, BAKA-SENSEI!"

"Kalau begitu apa dong?"

"PANGGIL KAYAK BIASA AJA, SENSEI!"

"Ya berarti Sasgay…"

"…" Sasuke dkk sweatdropped =.=''

"Sudah, sudah! Sasuke, seharusnya kau lapor dulu pada hokage-sama, bukannya malah peluk-peluk Sakura!" Ujar Kurenai sambil garuk-garuk lubang idung. YA KEPALA LAH! *digampar readers*

"O…o…okelah kalau begitu!" Mendadak Sasuke jadi menyanyikan lagu-nya 'warteg boy' dan akhirnya anak ayam itu *dichidori* ngeleos ke kantor hokage bersama keempat jounin tadi, dan semua bubaaar~

Di kantor hokage…

"Jadi, Sasuke! Kau kembali kesini dan BERJANJI untuk TIDAK MENGKHIANATI Konoha lagi, 'KAN?" Tegas Tsunade dengan kata-kata penuh penekanan dan memang sengaja menyemburkan kuah soto gebrak khas Jakarta tepat di muka Sasuke. Keempat guru tadi menatap si Uchiha itu dengan tatapan menahan tawa dan kasihan.

"Ha…hai, shitsurei itashimasu…" ujar Sasuke geregetan, eh gemeteran… Tsunade memicingkan matanya kembali.

"Selama kau menjadi missing-nin, apakah kau punya surat-surat penting seperti KTP, gitu?"

"Punya, Tsunade-sama!"

"Coba lihat!" Tsunade menengadahkan tangannya. Sasuke merogoh saku celananya dan mengeluarkan secarik kertas kusut yang udah ke-ompolan tikus. Tsunade mengambilnya dan membuka kertas itu. Isinya adalah tulisan Sasuke sendiri:

Nama: Uchiha Sasuke bin Uchiha Fugaku

Umur: Lebih dari 1 tahun…

Tempat Tanggal Lahir: Cianjur, 12 April 1998 eh! 23 Juli 1994 *kali!*

Jenis kelamin:

Orang tua: ibu saya Uchiha Mikoto, bapak saya Uchiha Fugaku.

Alamat: Uchiha's Mansion nomor 999(?)

Ttd,

Saya: UCHIha SAsKeY

Tsunade sweatdrop saat melihat tanda tangan alay Sasuke. Satu kesalahan lagi,(padahal semuanya bener-bener salah) ia melihat Sasuke tidak mengisi data jenis kelaminnya dan melihat ada coretan besar di bagian halaman belakang kertas itu.

"Sasuke…"

"Ada apa?"

"Jenis kelaminmu nggak diisi?" Tanya Tsunade. Semua guru mengangkat sebelah alisnya heran. Sasuke menyeringai malu.

"Hehe… digambar…"

GUBRAAAK!

Esoknya…

Siang itu, Naruto dkk pada asyik ngopi di warkop.

Naru: OI! PIKUN! DI SINI KAGAK ADA YANG NAMANYA WARKOP!
Rin: O iya! Di sini mah adanya warteg, ya?
Naru: WARUNG RAMEN!
Rin: SLOW DOWN!

BtS~

Siang itu, Naruto dkk lagi asyik nge-ramen di warung ramen. Uum… benernya cuma NaruSasuSakuSai doang, sih… =.=

"Jadi, Sas… kemaren digimanain aja ama Tsunade-baachan?" Tanya Naruto sambil menyeruput mie-nya dengan ganas(?)

"Err… biasa aja…" Jelas Sasuke. Bohong banget tuh dia! Udah tanda tangan alay, jenis kelamin digambar *jangan dibayangin, hehe!* en kesalahan-kesalahan lainnya. Kalo jujur, pasti aib-nya disebar-luaskan ama si rubah duren ini! *author dichidori+dirasengan*

"Sas, aku penasaran sama tanda tangan kamu… kira-kira kayak gimana?" Tanya Sai tepat sasaran.

'BROOOSH…!'

Sasuke menyemburkan kuah ramennya yang masih panas ke bawah kursi tempatnya duduk (mang bisa? =='')

"Kamu kena―" belum juga omongan Sakura selesai, seorang pengacau*plak* ato bisa kita sebut tokoh yang kagak kebagian peran lah, dengan seenak emprul-nya memotong omongan Sakura.

"Maaf, Sasuke-san ama Sakura-san, anda dipanggil hokage bwad…"

"Dikawinin?" Ujar Sasuke keceplosan. Ia menutup mulutnya sendiri. Untung Sai and Naruto masih asyik neleg ramen. (masak sih gak kedengeran? O.O) Muka Sakura merona merah.

"Jangan banyak cocod dan jangan memotong omongan saya! Kalian berdua diberi misi, tau!" Ketus chuunin itu sambil berbalik pergi.

"Shinjimae!" Teriak Sasuke dan Sakura, lalu berjalan menuju kantor hokage dengan menghentak-hentakkan kaki.

"Hey, mau ke mana?" Tanya Naruto dan Sai yang baru nyadar. Tapi nggak digubris ama Sasuke dan Sakura. Akhirnya mereka makan lagi. Rakus amat seeh… ketuleran si Chouji, ya? *di baika no jutsu+choujuu giga+rasenshuriken*

"Hohohohohhoohoho! Datang juga kalian! Kupikir ketuleran Kakashi! Jadi… misi kalian itu hanya mengambil…ehm, lebh tepatnya nyolong gulungan rahasia milik Danzou!" Ujar Tsunade sambil ngorek-ngorek idungnya. (baca: ngupil)

"Haah~ misi aneh!"

"LAKSANAKAN!" Teriak Tsunade.

"IYA! DASAR BERISIK!"

"SASUKE!" Bentak Tsunade lagi. Tapi terlambat karena Sasuke sudah membawa Sakura ke depan gerbang Konoha.

TO BE CONTINUED


Promise





Author: aRaRaNcHa
Disclaimer : Naruto © Masashi Kishimoto
Rated : T
Genre : Friendship/Romance
Pairing(s) : SasuSaku
WARNING : AU, OOC, rada gaje, oneshoot (di sini Sakura umur 20, Sasuke 23)
Summary : Kalau begitu berjanjilah, saat kita sudah besar nanti, kau akan menikahiku. Nanti kau akan selalu jadi yang spesial untukku






Sakura's POV

Pernahkah kau memiliki janji dengan seseorang? Tentu saja ya! Seperti aku yang memiliki janji pada teman kecilku, Sasuke, yang amat dingin, pendiam, namun bisa berubah menjadi hangat di depanku. Telah lama aku meninggalkannya, lima tahun, untuk menyelesaikan pendidikanku di luar negri. Aku ingin tahu, apakah ia masih mengingat janji itu, janji ketika kami masih sangat kecil? Janji yang mungkin terucap tanpa sengaja, tapi terus terukir indah dalam ingatan hatiku.

End Sakura's POV

.

.

Normal POV

Konoha, 13 tahun yang lalu...

Sore hari, seorang gadis kecil berambut pink dan berpita merah yang baru berusia 7 tahun, Sakura, berlari-lari dengan riang gembira sambil sesekali berhenti untuk mengejek anak laki-laki kecil berambut raven yang mengejarnya, Sasuke. Keduanya tengah bermain dengan gembira di pinggir sungai jernih yang mengalir tenang.

"Sasuke payah! Sasuke payah!" ejek Sakura lagi sambil menjulurkan lidahnya.

"Hosh, Sakura, hosh, awas kau ya," kata Sasuke yang nafasnya sudah terengah-engah, namun tetap tak menyerah untuk mengejar Sakura.

"Kalau kau tak berhasil juga, kau harus mentraktirku es krim!" ujar Sakura sambil berlari lagi.

Sasuke tak menjawab apapun, hanya tersenyum kecil, lalu menghentikan langkahnya, bungsu Uchiha itu kelelahan. Sakura akhirnya ikut berhenti berlari, lalu menghampiri Sasuke yang sedang kelelahan. Tentu saja Sasuke tak menyia-nyiakan kesempatan dan langsung dengan cepat menangkap tubuh Sakura ke dalam pelukannya.

"Kau tertangkap Sakura," kata Sasuke semangat.

"Sasuke curang!"

"Yang penting aku menang," Sasuke tersenyum menyeringai lalu melepaskan Sakura.

"Tidak adil!"

Sasuke sepertinya tak perduli dengan protesnya Sakura, ia hanya memandang Sakura, tapi lalu malah duduk di pinggir sungai. Sakura ikut duduk di samping teman baiknya, kedua kakinya di lipat ke belakang.

Sasuke menoleh ke arah Sakura, lalu ia pun meletakkan kepalanya di atas kaki kecil Sakura. Sakura hanya tersenyum, lalu menoleh ke arah sungai, ada ikan-ikan kecil yang berenang di situ, membuat Sakura tersenyum sendiri melihatnya.

"Kenapa kau tersenyum sendiri?"

"Hn? Tidak, tidak apa-apa."

Sasuke menoleh ke arah mata Sakura memandang, sungai. Pastilah Sakura tersenyum karena melihat ikan-ikan kecil yang berenang di situ. Sasuke hanya menghela nafas panjang lalu memejamkan matanya, mencoba mendengarkan riak air, suara burung yang terbang, atau mungkin suara angin.

"Sasuke," panggil Sakura, membuat Sasuke membuka matanya lagi.

"Hn?"

"Bunga itu cantik ya," Sakura menunjuk bunga kecil dengan mahkotanya yang berwarna putih.

"Ya, cantik sepertimu."

Sakura hanya tersipu, tersenyum kecil mendengar jawaban Sasuke. Tapi tak hanya menjawab, ternyata Sasuke bangun dari kaki Sakura, lalu memetik bunga kecil itu. Dengan tangannya yang lihai dan terampil, Sasuke membuatnya menjadi cincin kecil yang lucu, dengan bunga itu seolah jadi berliannya.

"Bagaimana menurutmu?" tanya Sasuke.

"Bagus."

"Kalau begitu, pakailah."

Sakura mengulurkan tangannya pada Sasuke, dan ternyata bungsu Uchiha itu peka. Ia pun memakaikan cincin kecil itu di jari manis Sakura, yang ternyata cincin itu sangat pas dan cocok berada di jari manis gadis Haruno itu.

"Manisnya," puji Sakura pada cincin hasil buatan tangan Sasuke.

"Aku senang kalau kau suka."

"Hei Sasuke, katanya kalau laki-laki memberi cincin pada perempuan, itu artinya spesial."

"Maksudmu?"

"Ya, spesial."

"Hhh, kalau begitu berjanjilah, saat kita sudah besar nanti, kau akan menikahiku. Nanti kau akan selalu jadi yang spesial untukku."

"Iya, kau juga janji, ya!" Sakura tersenyum manis, namun gadis kecil itu tersipu.

Sasuke tersenyum, lalu memandangi ikan-ikan kecil yang berenang di sungai itu, membiarkan sore itu berlalu, menunggu langit semakin gelap. Semilir angin meniup lembut helai demi helai rambut keduanya, dan sore itu pun terucap janji dari Uchiha kecil pada Haruno kecil.

.

.

Konoha, now...

Sasuke Uchiha, pemimpin tertinggi Uchiha Corporation, baru saja selesai meeting dengan kliennya, pria dewasa dengan rambut raven itu kini tengah berada di sebuah restoran mewah bersama dengan sekretarisnya, Yamanaka Ino, sedang menikmati makan siang mereka.

"Setelah ini, ada meeting dengan Hyuuga Corporation, Sasuke-san."

"Ya," jawab Sasuke singkat, lalu kembali melahap steak di hadapannya.

"Ng, Sasuke-san."

"Hn?"

"Boleh saya bertanya sesuatu?"

"Ya?"

"Sasuke-san sudah punya kekasih?"

"Mungkin."

Sepertinya jawaban itu tak cukup untuk menghapus rasa penasaran Ino, ia berharap jawaban lebih dari bosnya. Namun sayangnya, sepertinya Sasuke tak ingin menjelaskan lebih dari itu.

========== P ==========

Selesai makan siang, Sasuke dan Ino kembali ke kantor untuk mengambil bahan meeting dengan Hyuuga Corporation. Sasuke masuk ke dalam ruangannya, dan ternyata sudah ada seorang gadis manis berambut pink sebahu memakai terusan berwarna merah selutut, tentu saja Sasuke mengenalinya, Sakura. Mata bungsu Uchiha itu membulat seketika, namun tak menunjukkan ekspresi apapun. Menyadari kehadiran Sasuke di ruangan itu, Sakura menoleh, dan menatap Sasuke dengan wajah yang berbinar.

"Sasuke!" sambut Sakura gembira.

"Sakura," gumam Sasuke datar.

"Hei, apa itu caramu menyambutku yang sudah jauh-jauh pulang untukmu?" Sakura berkacak pinggang.

"Jauh-jauh pulang? Hei, kau tak sadar?" Sasuke tampak kesal.

"Sasuke?"

"Kau tak pernah memberiku kabar, Sakura! Aku bahkan ragu kalau aku mengingatmu setelah lima tahun berlalu!"

"Maaf, aku..."

"Sudahlah," Sasuke berlalu melewati Sakura dan mengambil beberapa berkas yang ada di mejanya.

"Sasuke, aku bisa jelasin..."

"Cukup. Aku sibuk," Sasuke membawa berkas-berkasnya keluar ruangan.

Sakura tak berusaha untuk mengejar Sasuke, ia hanya terdiam, lalu menangis di ruangan itu, ruang pemimpin tertinggi Uchiha Corporation, yang mana di meja kerjanya terukir indah nama Sasuke Uchiha. Sasuke. Laki-laki yang baru saja menyakiti hatinya hingga terasa teriris begitu dalam. Sasuke telah melupakannya, melupakan semua kenangan tentang Sakura, bahkan mungkin melupakan janjinya pada Sakura.

========== P ==========

Sakura sampai di rumahnya dengan lesu, sepertinya semangat menggebu yang ada saat ia baru sampai di Konoha telah hilang. Sikap Sasuke yang dingin dan melupakannya semudah itu, seolah cukup untuk membuat Sakura down.

"Tadaima," gumam Sakura lemah.

"Ah, kau sudah pulang, Sakura?" ibu Sakura menyambutnya dengan senang.

"Aku mau ke kamar, bu. Tolong jangan ganggu aku," ujar Sakura lesu.

Sakura berjalan menuju ke kamarnya, masih tanpa semangat. Begitupun ketika ia membuka pintu kamarnya, lesu, namun campur terkejut melihat seorang pria berpakaian rapi dengan rambut ravennya sedang berdiri sambil bersandar pada tembok dekat pintu kamarnya.

"Jadi nona Haruno ini sudah pulang, eh? Hm, bahkan aku harus membatalkan meetingku untuk menunggunya," ujar Sasuke sambil melirik jam tangannya.

"Sasuke?"

"Ya?"

"Kenapa kau..."

"Selamat datang, Sakura!" Sasuke menghadiahi Sakura dengan pelukannya, lalu mengecup lembut dahi gadis itu.

"Tapi tadi..."

"Itu hanya kejutan kecil," bisik Sasuke.

"Jahat! Jahat! Kau jahat!" Sakura memukul-mukul dada Sasuke.

"Maaf, maaf," Sasuke menghindari pukulan Sakura.

Sakura berhenti memukul Sasuke, lalu menatap teman kecilnya itu dengan tatapan kesal. Namun selanjutnya, Sakura malah tersenyum lebar, lalu menghambur memeluk Sasuke dengan erat hingga membuat bungsu Uchiha itu terhuyung sedikit ke belakang.

"Hei, semangat sekali memelukku?" goda Sasuke.

"Aku takut kau melupakanku," Sakura menangis, air matanya sedikit membasahi jas Sasuke.

Sasuke membelai lembut rambut merah muda Sakura, lalu perlahan melepaskan pelukannya dan menangkup wajah Sakura dengan tangannya. Ditatapnya wajah nona Haruno dihadapannya itu lekat-lekat.

"Bunuh aku saat aku melupakanmu, Sakura."

"Hihihi... Benar, ya?" Sakura tertawa kecil mendengarnya.

"Ya," Sasuke tersenyum, lalu perlahan menyentuh dagu Sakura.

Sakura cukup terkejut dengan respon Sasuke, ia hanya menutup matanya, membiarkan Sasuke semakin mendekatinya. Semakin lama, Sakura dapat merasakan hembusan nafas sang Uchiha di wajahnya. Lembut. Kecupan itu terasa lembut di bibir Sakura, pelan dan lembut, penuh cinta.

Hanya sebentar, karena setelahnya Sasuke melepaskan ciumannya perlahan, tapi tak membuat Sakura kecewa. Sasuke tersenyum tipis, lalu mengambil sebuah kotak kecil berwarna merah dengan bentuk hati dari balik saku jasnya.

"I love you, Sakura. Will you marry me?" Sasuke berlutut di hadapan gadis yang dicintainya.

"I will, because I love you so much," Sakura tersenyum.

"Selamanya Sakura, kau akan menjadi yang spesial untukku."

"Aku senang kau tak melupakan janjimu, Sasuke."

Sasuke tersenyum, lalu bangkit dan memeluk Sakura dengan erat, merasakan hangatnya tubuh calon istrinya nanti. Sasuke selalu mengingatnya, janji kecil yang terpatri mutlak di ingatannya kini telah ia jalani. Cincin itu, cincin yang ia beli dua tahun lalu, kini akan segera tersemat di jari manis Sakura.

Janji tetaplah janji, sekecil apapun, tak mungkin kita ingkari kan?







Yei, jadi deh fic ini! Iseng-iseng aja bikin request SasuSaku dari Utsukushi I - KuroShiro6yh. Jujur, Cha suka banget pas adegan SasuSaku masih kecil. Ngebayangin, kayaknya mereka imut banget! Alurnya kecepetan dan maksa ngga sih? Oh ya, Cha upload pake HP, jadi ga bisa di kutak katik deh.

Someone Who Loves You







Author: PokoknyaNejiTenSlamaLamanya
Disclaimer: Naruto punya abang Kishi *ditimpuk sama Kishi*, ehhm maksudnya Masashi Kishimoto-sensei. Dan Neji-niisan punya aku *digiles sama Tenten-neechan* haha, enggak kok, Neji-niisan punya Tenten-neechan. Tapi, 'Someone Who Loves You' punya gue.
Rated: T
Genre: Romance (ada family-nya dikit, sih)
Warning: Gila, aneh, abal, gaje
Pairing: NejiTen







Someone Who Loves You (sebenernya cocok ga, sih!)

Someone's POV

Melelahkan sekali setelah seharian latihan. Entah mengapa tiba-tiba mataku tertuju pada seorang anak berumur 7 tahun sedang berjalan bersama dengan ayah dan ibunya.

Aku menjadi iri, karena ketika aku seumur dia, aku harus memikul tanggung jawab sebagai bunke, ditambah lagi aku sudah kehilangan ke-2 orangtuaku. Aku terus memperhatikan anak itu sampai di kedai soba.

Someone's POV

Puah! Capek sekali latihan seharian bersama rekan tim-ku.

Eh! Neji-kun kenapa, ya? Tak biasanya dia murung. Lebih baik aku tanyakan langsung.

"Ano, Neji-kun kelihatannya ada masalah?" tanyaku.

"Hn? Tenten? Tidak apa-apa," Jawabnya.

"Tapi, kalau dilihat dari matamu, aku tahu kau berbohong. Kalau berbohang bukan Hyuuga Neji, loh,"

"Baiklah, aku memang berbohong," katanya.

Normal POV

"Kalau begitu, apa masalahmu?" Tanya Tenten penasaran.

"Hn, aku jadi ingat kejadian 13 tahun yang lalu ketika aku melihat seorang anak laki-laki yang sedang bersama orangtua-nya," jawab Neji.

"Lalu, mengapa?" Tanya Tenten lagi.

Neji tak menjawab karena mengingat kejadian 13 tahun yang lalu

Ples bek, eh flash back…

"Tou-san!" teriak Neji kecil saat melihat ayahnya tertidur kaku di futon-nya.

Cairan hangat yang keluar dari matanya terus keluar sampai saat pemakaman (A/N: bukan pemakaman yang sebenarnya, setelah didoakan, jasad Hizashi-jiisan langsung diserahkan ke raikage).

"Hu, hu, hu, Tou-san mengapa tou-san meniggalkan aku sekarang," tangis Neji kecil saat jasad ayahnya akan diserahkan ke raikage.

Flash back mode: off

Setelah mengingat kejadian pahit 13 tahun yang lalu, Neji mununduk dengan tujuan menyembunyikan cairan hangat yang keluar dari matanya.

"Eh, Neji-kun, kata-kataku tidak salah, kan?" Tanya Tenten panik.

"Tidak," jawab Neji sambil menghapus air matanya.

"Lalu mengapa kau menangis?" Tanya Tenten lagi.

"Aku menjadi ingat kejadian 13 tahun yang lalu," jawab Neji sambil menahan cairan hangat yang hampir menetes.

"Kejadian apa?"

"Waktu itu, aku harus kehilangan orang yang sangat kucintai," jawab Neji yang air matanya sudah menetes.

"Siapa?" tanya Tenten lagi.

"Otousan-ku," jawab Neji

Tenten tersentak kaget dan bertanya, "kenapa otousan-mu meninggal?"

"Otousan-ku meninggal karena kemauannya sendiri untuk menggantikan Hiashi-sama," Jawab Neji.

Tenten menghele napas, "aku juga tahu, waktu seumurmu aku juga kehilangan orang yang kucintai. Di rumah aku selalu sendiri tak ada yang menemani, seharusnya kau bersyukur kau masih mempunyai keluarga."

"Ya, memang ada Hiashi-sama yang kuanggap sebagai ayahku sendiri dan Hinata-sama dan Hanabi-sama yang kuanggap sebagai saudaraku sendiri. Tapi, aku merasa ada yang kurang dari Hiashi-sama," kata Neji panjang lebar.

"Apa itu?" Tanya Tenten

"Kelembutan," jawab Neji

Tenten tertegun. Ia tak mulai pembicaraan.

"Er, Tenten…."

"Permisi, soba ikan herring sudah datang," kata seorang pelayan.

"Oh, ya."

Hening… ketika Neji melahap sobanya karena dia sudah diajarkan agar tidak berbicara ketika makan.

"Ano, Neji-kun, tadi kau mau tanya apa?" Tanya Tenten.

Neji segera menghentikan kegiatan makannya, "hn, aku ingin bertanya mengapa kau kelihatan penasaran sekali?"

"Ah… I-i-tu, ka-kare-na, a-aku," Tenten blushing.

"Aishiteru, Neji-kun…"

Kata-kata Tenten membuat Neji terkejut. Kemudian, dia mendekati Tenten, memeluknya dan membisiki, "aishiteru, Tenten."

A/N: owww, yeah! Penpik abal ini akhirnya selesai juga. Romance-nya kerasa, gak? Tolong kritik, saran, dan flame-nya (jangan keterlaluan!).