Advertising by :

Advertisement

Tuesday, August 25, 2009

School Rumble Naruto Version!

Fic ini terinspirasi spontan setelah menonton anime School Rumble! AU high school fic!

“speech,” thought

Disclaimer : Baik Naruto ataupun School Rumble bukan punya saya!

School Rumble Naruto Version!

by: ReadR

Sakura’s POV

Suka…kata-kata yang aneh…

“Sudah musim semi. Sekarang sudah tahun ajaran baru, ya…” kata seorang cewek berambut pink pada dirinya sendiri.

“Aku pasti akan mengatakannya! Kali ini…Aku pasti akan mengatakan rasa sukaku pada Sasuke!” Cewek ini bernama Haruno Sakura. Dia menyukai Uchiha Sasuke, cowok kelas sebelah yang terkenal dengan sikap dingin dan juteknya.

Panjang umur, cowok bertampang dingin yang dibicarakannya itu berada di depan gerbang sekolah. Ia sedang berbicara dengan Rock Lee, teman sekelasnya.

“Hei, Sasuke, kita sekarang sekelas yah?”
”Ya,” kata cowok itu, dingin seperti biasa. Sementara Sakura, yang berusaha menguping dari jauh, merasa hatinya berdebar-debar penuh semangat.

Asyik! Tahun ini dia sekelas denganku!

“…tapi mulai lusa aku pindah. Ke sekolah Akatsuki,” kata Sasuke, tanpa ekspresi. Sakura langsung merasa lemas. Ia merasa semangatnya jatuh ke dalam lubang yang dalam…

Naruto’s POV

Suka…kata-kata yang aneh…

“Baiklah, sudah tahun ajaran baru, aku akan berusaha!” ujar seorang remaja cowok berambut oranye, dengan jaket oranye juga, bangkit berdiri dan menaiki motornya. Di sekitarnya tergeletak beberapa orang pria berjubah hitam dengan hiasan awan merah. Geng Akatsuki.

“Ukh, bocah sepertimu, jangan sok belagu mentang-mentang punya Kyuubi!” teriak pria bercadar di dekatnya, mencoba menangkap kakinya. Naruto menendangnya tanpa ampun.

“Berisik!”

Namaku Uzumaki Naruto. Gampang ditebak, aku ini anak berandalan. Bukan salahku sih sebenarnya, hanya saja ada orang-orang yang ingin mengambil Kyuubi dalam tubuhku. Kalau hanya mau ngambil Kyuubi sih sebenarnya ambil saja, aku juga nggak perlu. Masalahnya…mereka hanya bisa mengambilnya dengan membunuhku. Tapi itu cerita lain… sekarang aku punya masalah yang lebih penting.

Sekolah Konoha mulai terlihat dari kejauhan, dan terlihatlah sesosok cewek manis berambut pink yang sedang berdiri di depan gerbang sekolah.

Sakura Haruno…aku jatuh cinta padanya!

Naruto bergegas turun dari sepeda motornya, dan berjalan memasuki sekolah. Kerumunan murid-murid di depan papan pengumuman mendadak bergerak menjauhinya, ketakutan.

Aku harus sekelas dengannya!

Mata Naruto menerawang melihat papan pengumuman dan mencari namanya. Tidak ada. Tidak ada di manapun.

“Naruto, namamu tidak ada di papan tersebut. Kamu tidak naik kelas,” komentar santai salah seorang guru berambut putih, yang entah kenapa selalu menutupi sebelah matanya, Hatake Kakashi.

Naruto mendadak shock, “APA!?!?”

Dan dengan lesu ia meninggalkan papan pengumuman. Sementara murid-murid lain kembali mengerumuninya.

Sakura’s POV

Malam hari itu. Di flat kecilnya, Sakura berteriak pada diri sendiri, memandang cermin, “Tidak bisa..! Aku tidak bisa bertemu dengannya lagi! Dia akan pergi begitu saja tanpa menyadari perasaanku…perasaanku…”

Mendadak lampu kecil menyala di kepala Sakura.

“Aku tahu! Kalau tidak bisa mengungkapkannya secara langsung, pakai surat cinta saja!”

Dia bergegas mengambil selembar kertas, amplop dan pena, dan mulai menulis.

“Aku…sudah lama…suka padamu…” dia ragu-ragu menulis kata terakhir. Nama orang yang dicintainya.

“Sa…Sas….Sasu…Sasunaru?” dia mendapati dirinya sendiri terkejut melihat tangannya entah bagaimana menulis kata tersebut. Ia segera membuang kertas tersebut dan menulis ulang suratnya. Namun masalah yang sama kembali terulang.

“Sa…Sas…Sasori? Siapa itu??” Ia kembali menulis ulang.

“Sas..Sashimi?” Sakura kembali merobek kertas tersebut, menulis ulang.

“Sasu…Sasugay? Bukaan!!” Sakura lama-kelamaan putus asa dan menangis.

Keesokan paginya ia menyadari ia ketiduran di meja, suratnya sama sekali belum selesai.

“Bagaimana ini? Kertasnya sudah habis….”

Sejam kemudian, di depan loker sekolah. Sakura memasukkan gulungan berisi pernyataan cintanya di loker Sasuke.

“Biarlah…aku sudah berbuat sebisaku…” katanya, kemudian pergi dengan raut wajah ceria sebisa mungkin.

Sore harinya…

Sasuke membuka lokernya, sementara Sakura diam-diam mengintip dari balik dinding. Gulungan sepanjang 2 meter itu dibaca singkat oleh Sasuke, menggunakan sharingannya. Ia tidak bereaksi sedikitpun, bahkan sampai bagian terakhir, malah membaca ulang untuk kedua kalinya. Setelah selesai, ia menggulung kembali gulungan tersebut.

“…” Sasuke terdiam sebentar.

Bagaimana reaksinya? Apa dia juga suka?

“Ternyata memang nggak ada namanya…” komentar Sasuke, lalu bergegas pergi

Aduuh!! Sakura menangis menyadari kebodohannya sendiri, “Berakhir sudah…cinta pertamaku…”

Keesokan harinya, Sakura tidak bersemangat pergi ke sekolah, mengetahui Sasuke seharusnya sudah pindah. Namun betapa terkejutnya dia, menemukan Sasuke masih di kelas yang sama dengannya.

“Katanya ia minta izin sama kakaknya untuk tinggal setahun lagi,” kata Tenten, saat Sakura menanyakan hal tersebut. Sakura kaget, tapi merasa senang pada saat bersamaan.

Sementara itu Sasuke melihat ke gulungan surat yang ia bawa ke mejanya.

Hanya ada satu kalimat di surat itu, tertulis berulang-ulang, dan membuatnya berubah pikiran.

Kumohon, jangan pergi.

Naruto’s POV

Pikiran Naruto melayang ke sehari sebelumnya (hari yang sama saat Sakura menulis surat untuk Sasuke, tapi tentu saja dia tidak mengetahuinya).

Dia memohon-mohon di ruang guru, untuk dapat dinaikkan ke kelas 2.

“Kumohon guru Kakashi! Akan kulakukan apa saja untukmu! Mentraktirmu ramen, memijatimu…”

“Naruto, apapun yang kau katakan takkan membuatku berubah pikiran…”

“Baiklah,” kata Naruto, mengeluarkan jurus terakhirnya, “seri terbaru icha-icha paradise! Aku kenal dengan pengarangnya, jadi aku bisa memberi guru seri terbaru bahkan sebelum sampai ke penerbit!”

“Benarkah!?” raut wajah Kakashi langsung berubah, dan dengan segera negosiasi keduanya berjalan lancar…

Karena itu, sekarang aku bisa berada di kelas ini…kelas yang sama dengan Sakura-chan…

Naruto kembali ke masa kini, memandang gadis berambut pink yang duduk di sebelahnya…tidak tepat di sebelahnya sih, sebab di sebelahnya adalah seorang anak cowok berambut hitam, dengan tampang dingin dan jutek.

“Apa-apaan kamu menatapku seperti itu, dobe?” bentak anak itu, menyadari tatapannya.

Naruto merasa sangat jengkel.

“Siapa yang menatapmu, teme!” Naruto memalingkan muka. Anak laki-laki menyebalkan itu, Sasuke Uchiha, tepat di depannyalah Haruno Sakura duduk.

Kalau saja kau tidak duduk di situ…seharusnya Sakura duduk di sebelahku!

Sakura’s POV

Kalau saja anak berambut kuning itu tidak duduk di situ…aku bisa duduk di sebelah Sasuke! Sakura membatin dengan kesal, dalam bayangannya ia membayangkan ia menghajar Naruto babak belur.

Sudah sedekat ini dengan Sasuke…bagaimana caranya supaya lebih akrab?

Naruto’s POV

Waktu istirahat siang. Naruto sebenarnya ingin mengobrol dengan Sakura, tapi entah kenapa gadis itu cepat-cepat pergi meninggalkan kelas. Berhubung ia tidak punya uang, Naruto hanya pergi ke pancuran dan meminum air. Betapa terkejutnya dia menemukan Sasuke juga melakukan hal yang sama.

“Tidak makan di kantin?” ia menyapanya singkat.

“Kau sendiri?”

“Kau seharusnya menjawab saat orang bertanya padamu!” kata Naruto, sebelum akhirnya mengatakan fakta, “aku tidak punya uang. Orangtuaku sudah meninggal, jadi aku berusaha menghemat kebutuhanku sendiri.”

“Aku juga sama. Aku punya kakak, tapi tidak akrab dengannya,” kata Sasuke singkat.

“Wah, ternyata kita sama! Ternyata aku salah menilaimu!” kata Naruto, seperti biasa sok akrab, “kapan-kapan kalau aku punya uang, aku akan menraktirmu!”

“Hmph. Ternyata aku juga salah menilaimu, dobe!” komentar Sasuke pelan, sehingga Naruto tidak bisa mendengarnya jelas.

“Hah? Apa?”

“Bukan apa-apa…”

Sakura’s POV

Sakura semenjak awal berencana membuntuti Sasuke ke manapun, sepanjang jam istirahat kalau perlu. Saat itu tidak sengaja mendengar pembicaraan Sasuke dan Naruto. Sebuah ide cemerlang terbersit di benaknya.

Oh iya! Buatkan saja kotak bekal makan siang untuk Sasuke!

Maka, keesokan harinya… di sekolah Konoha.

Naruto’s POV

Naruto memasuki gerbang sekolah dengan tekad membara di hatinya.

Hari ini juga…aku harus menyatakan perasaanku pada Sakura!

Sakura’s POV

Naruto memasuki gerbang sekolah dengan tekad baja di hatinya.

Baiklah…aku bisa melakukan ini!

Waktu berlangsung lambat sekali, bagi Sakura, yang menanti momen penting dalam hidupnya. Dan akhirnya, bel istirahat siang berbunyi. Seperti biasa, Sasuke bergegas meninggalkan kelas, dan ia bergegas mengikutinya.

Naruto’s POV

Sakura meninggalkan kelas! Ini kesempatanku!

Naruto bergegas mengikuti Sakura, yang entah kenapa bergegas terburu-buru ke suatu tempat…membawa kotak bekal. Mungkin dia mau makan siang? Siapa tahu saja aku ditawari… Naruto setengah berharap.

Mendadak, seseorang menepuknya di pundak.

“Naruto,” ia menoleh, dan melihat Shikamaru memanggilnya.

Sakura’s POV

Sakura akhirnya berhasil mengejar Sasuke, dan menepuk punggungnya.

“Sasuke, aku membuatkan makan siang untukmu, kau mau?”

“…untukku?”

“Kalau kau mau!” kata Sakura, berusaha terlihat normal dan tidak gugup.

“Baiklah. Aku cuci tangan dulu,” kata cowok itu pergi.

Berhasil! Teriak inner Sakura penuh kemenangan. Ia pun duduk sendiri, ,menunggu Sasuke kembali.

Naruto’s POV

Perhatian Naruto benar-benar teralih saat itu, saat Shikamaru memanggilnya. Ia tidak menyadari pada saat bersamaan, di belakangnya Sakura sedang berbicara pada Sasuke.

“Bilang pada guru Kakashi aku akan memberi bukunya besok!”

“Dia bilang kamu janji memberinya hari ini. Bikin repot saja, nanti aku yang kena marah…” komentar Shikamaru malas-malasan. Dan lagi-lagi, Naruto tidak menyadari Sasuke sudah meninggalkan Sakura.

“Ya, ya, nanti akan kukasih! Sekarang ini aku ada urusan penting tahu!”

Naruto berbalik ke belakang, dan menemukan Sakura sedang terduduk sendiri dengan kotak bekalnya.

Baiklah, sekarang kesempatan…

“Naruto!” tegur guru Kakashi yang entah semenjak kapan ada di belakangnya.

“Gu-guru Kakashi…”

“Sudah kubilang…Kamu bikin repot saja…”keluh Shikamaru.

“Kamu janji memberinya sekarang.”

“Iya - tapi itu…” Naruto bingung, setengah melirik pada Sakura, setengah melirik pada guru Kakashi. Kenapa dia mesti menagih sekarang? Dan semenjak kapan guru Kakashi tepat waktu? Mungkin dia hanya tepat waktu dalam menagih.

“Naruto, ikut ke kantorku sekarang!”

Naruto tidak berdaya saat guru Kakashi menyeretnya paksa ke kantor, dan meninggalkan Sakura.

Sakura’s POV

Semua berjalan baik bagi Sakura. Ia berhasil makan siang berdua dengan Sasuke, meskipun Sasuke lebih banyak diam saja.

“Jadi, bagaimana dengan kakakmu?”

“Dia masuk tim elit di Akatsuki,” jawab Sasuke singkat.

“Lalu…keluargamu yang lain?”

“Tidak ada. Aku tinggal sendiri di rumah.”

“….”Sakura mulai kehabisan ide bahan pembicaraan, “kamu tidak ikut eskul olahraga atau apapun?”

“tidak…”

Sakura mulai bingung dan gugup. Ditambah lagi, saat itu Sasuke sedang melihat ke arahnya…melihat ke wajahnya.

Argh! Tidak! Padahal tadi pagi kan aku hanya cuci muka asal saja! Pasti penampilanku sekarang berantakan! teriak inner Sakura.

“Sa-Sasuke, aku perlu ke toilet dulu…”

“Silakan.”

Sakura bergegas pergi, meninggalkan jaket pinknya di tanah. Ia menghabiskan banyak waktu di toilet, sibuk berdandan, seraya menyesali kebodohannya sendiri saat itu.

“Seharusnya hari ini aku berdandan…tapi tadi pagi aku sibuk menyiapkan bekal…”

Naruto’s POV

“Naruto, percuma saja kabur!” teriak guru Kakashi. Sementara itu Naruto sibuk bersembunyi di balik dinding, berusaha tidak sampai ‘tertangkap’ lagi.

Aku tidak punya waktu untuk seperti ini!

Pokoknya hari ini aku harus menyatakan cintaku pada Sakura. Setelah itu, jangankan diberhentikan dari sekolah, matipun aku rela!

Maka, dengan menggunakan segenap kemampuannya, Naruto berlari secepat mungkin melewati guru Kakashi (saat ia sedang lengah) dan kembali ke tempat Sakura berada.

Gadis itu terduduk sendiri, memegangi jaketnya, dan memandang langit luas.

Sekarang, atau tidak selamanya…

“Hosh…hosh…Dengarkan aku…sebenarnya aku…Naruto Uzumaki…sudah lama menyukaimu!!”

Sakura’s POV

Sakura baru saja keluar dari toilet, terkejut sekali mendengar pernyataan itu.

“Apa?”

Naruto’s POV

“Oi, dobe, kau sadar apa yang kau katakan?” terdengar suara berat muncul dari mulut ‘Sakura’. Mendadak Naruto menyadari, dengan penuh horror, siapa yang ada di depannya. Cowok itu melepas jaket sakura yang dari pundaknya, dan memperlihatkan rambut hitam legam alih-alih pink.

“KAU!?” teriak Naruto. Tapi bukan hanya dia yang berteriak. Sakura juga sama. Bahkan, mukanya terlihat lebih merah dan shock dibanding Naruto.

Sakura’s POV

Aku tidak mempercayainya! Pernyataan cintaku… Sebelum aku sempat mengatakannya…telah dikatakan oleh orang lain? Cintaku sudah berakhir…

Cowok itu… Sakura merasakan api kemarahan membakar dirinya.

Akan kubunuh dia!! teriak murka inner-Sakura

Dalam kenyataan, Sakura secara insting memukul keras Naruto sampai anak itu terhempas ke tanah. Naruto Uzumaki, cowok berandalan yang katanya bahkan tidak bisa dikalahkan geng Akatsuki sekalipun, dijatuhkan dengan mudah oleh cewek berkekuatan super ini.

Naruto’s POV

Naruto terhempas ke tanah dengan keras, dan menyadari betapa sakit hatinya, dibanding tubuhnya.

Sakura…kau salah paham! Aku mencintaimu…

Tapi ia hanya bisa diam saja terbaring saat Sakura berlari sambil menangis.

Tapi kenapa dia memukulku seperti itu?Jangan-jangan… Aku tahu! Dia…ternyata juga menyukaiku! Dia pasti cemburu…

Sementara itu Sasuke bersikap tanpa reaksi, seperti biasa, meninggalkan Naruto terbaring di tanah. Namun sebelum pergi, ia berbalik dan mengatakan sesuatu.

“Aku tidak tertarik, maaf ya.”

Kurang ajar…! tangan Naruto mengepal. Tapi ia tetap hanya bisa terbaring begitu saja. Efek pukulan Sakura rupanya masih bertahan lama, berbekas di kepalanya.

Sementara itu, Sasuke pergi meninggalkan TKP. Ada sedikit senyuman di wajahnya.

“Sepertinya sekolah ini tidak semembosankan yang kukira.”

END

GARDENIA

Mata biru itu begitu indah, seperti warna langit yang sering di pandangi oleh Shikamaru. Warna mata yang bahkan membuat Neji terkagum-kagum. Rambut pirangnya dibiarkan sedikit memanjang, menambah elok parasnya.

Lalu... Warna hitam di sebelahnya itu, warna yang sama untuk mata dan rambutnya. Warna yang kontras dengan kulit tubuhnya yang pucat. Membuat hati para gadis bertekuk lutut di depannya. Namun hanya teman-teman terdekatnya yang memahami, untuk siapa hati pemuda itu di berikan. Yang pasti bukan untuk gadis-gadis di konoha ataupun di negara lain.

Ya, mereka itu Uzumaki Naruto dan Uchiha Sasuke yang ku kenal dulu dan sekarang. Dua orang yang selalu memproklamirkan diri mereka sebagai ‘Rival abadi’. Bahkan ketika Sasuke-kun kembali ke Konoha pun ‘Hubungan’ mereka masih seperti dulu saja, seolah tak ada ketegangan apapun yang terjadi diantara keduanya. Mereka tetap saja bertengkar untuk alasan-alasan kecil yang tidak jelas. Seperti pasangan yang sudah lama menikah saja.

Dua orang terkuat Konoha yang disegani kawan maupun lawan. Sasuke-kun dengan Kejeniusannya serta Naruto-kun dengan Kebesaran Hatinya. ‘Tampan’ dan ‘Cantik’.

Dari sudut pandangku mereka berdua tampak begitu bercahaya...

Uuuuuuuwwwaaaaaaaaaaaaa... !!!

Oh ya, aku harus ke Kantor Hokage hari ini, Tsunade-sama memanggilku. Mungkin ada misi.

YOOOSSSHHHH!!! INILAH SEMANGAT MASA MUDAAAAAA~ ~!!!


Karena yang ‘cantik’ tak selalu dengan yang ‘tampan’ dan yang ‘tampan’ tak selalu dengan yang ‘cantik’.

Yuuya’s Present.....

~ * ~* ~* ~* ~*~*~*~*~*~

GARDENIA

by: Shirayuki Sakuya

~ * ~* ~* ~* ~*~*~*~*~*~


“Shizune-san! Konnichiwa!!” sapa Lee saat melihat Shizune baru saja keluar dari kantor Hokage.

“Oh, Lee-kun! Konnichiwa!! Oh ya, kau di tunggu Hokage-sama di dalam,” kata Shizune sambil tersenyum.

“Yosh! Sankyuu Shizune-san!!”

Criiinnggg!!!

Kilatan cahaya seperti iklan pasta gigi di TV tampak muncul ketika Lee mempertontonkan deretan giginya yang putih dalam sebuah cengiran lebar. Tak lupa dia menghadiahi Shizune dua buah acungan jempol sekaligus. Shizune hanya sweatdrop melihat tingkah ‘Bocah hijau’ itu.

Yaah, walaupun baju super ketat berwarna hijau itu sekarang sudah ditambah jaket Chuunin, tetap saja seorang Rock Lee masih terlihat…

Ummm… Hijau?

Mereka berpisah di Koridor itu. Shizune tampak kepayahan membawa tumpukan laporan yang telah berhasil diselesaikan oleh Hokagenya (Tumben ^^). Sementara itu Lee mengetuk pintu kantor Hokage.

“Permisi, Hokage-sama. Saya Rock Lee,”

“Masuklah,”

Segera setelah Lee mendapatkan ijin, diapun memasuki ruangan itu. Tampak Wanita berambut blonde dan berkucir dua sedang menikmati secangkir Sake di kursinya yang nyaman.

“Ada keperluan apa anda memanggil saya, Hokage-sama? Apakah ada misi untuk saya? Yosh! Saya akan berusaha sebaik-baiknya, tapi mana Team saya yang lain? Oh, apakah ini Solo misi? Hmmm-hmmm… saya mengerti, di sinilah kemampuan saya akan di uji, Yosh! Semangat masa muda saya semakin bergelora saja! Saya tak ak-”

“URUSAI, LEE!!!”

Sebuah cangkir melayang melewati Lee yang secara reflek menghindar, membentur tembok di belakangnya dan mendarat sempurna di lantai. Hancur berkeping-keping.

Lee hanya sweatdrop membayangkan Hokagenya bisa berubah mengerikan seperti itu.

“Hufffff…!!! Ya aku memanggilmu Lee dan memang benar ada misi untukmu tapi kurasa aku akan meminta Naruto dan Sasuke saja yang menyelesaikannya. Dan jangan coba-coba untuk membantah!!!” kata-kata Tsunade sedikit meninggi ketika melihat Lee tampak cemberut (?) dan hendak protes. Lee langsung tertunduk.

“Dan sebagai gantinya, aku minta kau menemani dia seharian ini,”

Lee mengikuti kemana arah Tsunade menunjuk. Dia baru menyadari kalau ada orang lain selain dia dan Tsunade-sama. Orang itu memakai jubah yang sama seperti Hokage, matanya terfokus pada pemandangan di luar sana, sementara itu rambut merahnya sedikit berantakan tertiup angin.

“Ka-Kazekage-sama?!!”

Orang yang Lee sebut sebagai Kazekage-sama itu menoleh kearah Lee. Tak ada senyum yang terlihat di sana, namun dia sedikit mengangukkan kepalanya sebagai bentuk balasan atas sapaan Lee barusan.

Kalau saat ini boleh mengcopy, mungkin Lee akan meniru ucapan yang sering dilontarkan Shikamaru.

Ck, Mendokusei~


Bukannya Lee tidak suka menemani pemuda stoic ini. Dan bukannya dia takut pemuda ini akan berusaha ‘membunuh’nya lagi seperti dulu. Lagipula Shuzaku sudah tak ada lagi di tubuhnya. Dan lagi pemuda bertatoo Ai ini sudah banyak berubah. Tapi…

Lee hanya Nervous saja. Hahahaha…

Sejak didepak oleh Tsunade-sama dari kantor Hokage, mereka berdua sudah cukup lama berkeliling desa. Berkali-kali Lee mencoba menghidupkan suasana dengan mengajak mengobrol pemuda Suna itu. Namun hanya jawaban singkat yang selalu dia terima.

Kadang hanya ‘Iya’, ‘Tidak’, ‘Terserah kau’ ataupun menggumam ‘Hn,’ seperti yang sering Sasuke-kun ucapkan saat menanggapi ocehan Naruto-kun.

‘Huuuuuuuaaaaaaaaaaa… T___T Naruto-kun, tolong aku! Sepertinya dia hanya ‘jinak’ denganmu saja, ‘ pikir Lee.

“Sa~ Kazekage-sama, apa ada hal yang penting sampai Kazekage-sama sendiri datang ke desa Konoha?” tanya Lee. Lagi.

“Hn, rapat rutin seperti biasanya, Kami hanya ingin membicarakan mengenai hubungan Suna dan Konoha serta beberapa hal lainnya termasuk mengenai pertahanan masing-masing negara,” jelas Gaara panjang lebar.

Lee hampir menangis terharu karena akhirnya sang Kazekage mau berbicara lebih dari satu dua patah kata.

‘Gai-sensei! Aku berhasil!!!’ sorak Lee dalam hati. .

“…Gaara,”

“Eh?!”

Karena terlalu senang, Lee jadi tidak memperhatikan kalau Gaara kembali berkata dengannya.

“Jangan panggil aku Kazekage, panggil aku Gaara,” ucapnya lagi.

Mata hitam Lee agak sedikit terbelalak, mereka saling bertatapan. Sejenak kemudian Lee memasang aksi bak iklan pasta gigi.

“Haik, Gaara!”

Criiinnggg!! Criiiinnggg!!

Tampaknya kali ini kilatan cahaya dari deretan gigi putih Lee, semakin terang saja.


LEE POV

Entah kenapa aku begitu senang saat Kazekage, ah bukan! Maksudku Gaara memintaku memanggilnya cukup dengan ‘Gaara’ saja, tanpa embel-embel apapun.

Detik itu juga dunia seakan membeku, jantungku rasanya berhenti berdetak ketika mataku melihat seulas senyuman tersungging di wajah Kazekage muda itu, eh maksudku… Gaara.

Ya, Gaara tersenyum. Padaku.

U… U… Uuuuuuwwwaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaaa!!!

I-itu benar senyuman kan?!

Orang yang tak pernah tersenyum dan biasa memasang wajah datar seperti Gaara kalau sekali tersenyum ternyata…

K-Kakkoiiiiiiii~ ~ ~ ///

Dia benar-benar berubah, bukanlah seseorang yang dulu haus membunuh untuk membuktikan keberadaan dirinya. Semuanya itu berkat Naruto-kun.

Aku sempat terkejut ketika pertama kali megetahui Gaara menjadi Kazekage desa Sunagakure menggantikan ayahnya, namun aku yakin dia bisa menjadi sosok pemimpin yang baik. Terbukti saat dia di incar oleh Akatsuki, tanpa mempedulikan nyawanya, Gaara malah mati-matian menyelamatkan desa serta penduduknya yang dulu sempat mengucilkan dirinya.

Hampir saja tangisanku meledak begitu mengetahui tubuh Gaara sudah terbujur kaku dan tak bernafas. Beruntung ada Chiyo-baasan di sana, beruntung pula Naruto-kun mau memberikan Cakranya meskipun kondisinya sendiri sudah kepayahan.

Dan saat mata hijau muda yang indah itu terbuka, aku kembali hendak meledak karena bahagia. Dia kini menjadi seorang pahlawan, seorang Kazekage yang dihormati serta dicintai rakyatnya. Sosok yang begitu dikagumi banyak orang. Termasuk aku.

Yaaah, aku iri padanya.

Gaara berubah bukan seperti Gaara yang dulu. Dia bertambah kuat meskipun tanpa Shuzaku di tubuhnya, dia baik, pintar dan juga… Cantik. Walaupun kata-kata itu rasanya kurang cocok untuk seorang laki-laki, tapi ‘cantik’ memang pantas untuk menggambarkan dirinya.

Kalau diperhatikan semuanya memang sudah berubah ya?

Naruto-kun semakin mirip saja dengan sosok Yondaime, aku yakin sebentar lagi cita-cita yang selalu diteriakannya itupun segera akan menjadi kenyataan. Sasuke-kun juga, meskipun belum bisa menjadi ANBU karena kesalahannya dulu, namun dia kini lebih… ummm…bersahabat? Bahkan sepertinya dia terlalu Overprotective pada Naruto-kun. -.-

Ya ampun…

Lalu Neji serta Shikamaru, kejeniusan mengantarkan mereka menjadi Kapten ANBU yang di percaya oleh Hokage. Sakura-chan, Ino serta Hinata juga menjadi Medic nin yang begitu hebat. Chouji, Kiba, Shino, mereka berusaha menjadi yang terbaik dengan kemampuan masing-masing.

Lalu aku…

Hmmm… Apa ya hebatnya diriku?!

Hei Hei Hei, bukannya aku tak menyukai diriku sendiri. Aku menyukai potongan rambut ini, meskipun mereka bilang bentuknya seperti mangkok terbalik. Aku menyukai pakaian hijau ketat yang kini aku kenakan saat ini. Dan walaupun aku tak memiliki kemampuan Ninjutsu, Gai sensei juga sudah mengajarkanku Taijutsu yang belum tentu semua orang mampu menguasainya. Yups! Aku menyukai diriku, hanya saja…

Hanya saja terkadang dalam hati kecilku, aku merasa… Kecil?

Hhhhhhhh….

END LEE POV


“…jobu, Lee??”

“…”

“LEE?!!”

Mata hitam Lee terbelalak kaget. Lamunannya barusan langsung buyar, sebuah sentuhan hangat mendarat di salah satu pundaknya.

Pemuda berambut merah itu memandangi Lee dengan sedikit khawatir. Dia sudah jauh melangkah ketika menyadari Lee sudah tak ada lagi di sampingnya dan menemukan pemuda beralis tebal itu berdiri mematung dengan tatapan sendu. Seakan-akan Lee ada di dunianya sendiri, sepertinya dia tak memperdulikan sekelilingnya lagi. Bahkan ketika Gaara mendekati dan memanggil namanya, Lee tetap tak meresponnya.

‘Ada apa dengannya ya?’ pikir Gaara

“Ga-Gaara?! A-ada apa?” tanya Lee sedikit terbata. Pipinya sedikit memerah ketika menyadari jaraknya dan Kazekage muda itu begitu dekat.

“Hn, seharusnya aku yang bertanya begitu. Kau melamun, Lee?!” kata Gaara sambil terus menatap Lee tajam.

“Ahahahaha, aku ba-baik-baik saja,” sanggah Lee mencoba menyembunyikan apa yang barusan dipikirkannya tadi.

“Hn, kau buruk kalau berbohong,” ujar Gaara yang tak percaya begitu saja. Wajah boleh saja tersenyum tapi kata orang, mata itu tidak bisa mengelabuhi. Segalanya bisa terpancar di sana. Senang, marah ataupun sedih.

“…”

Lee hanya terdiam, kemudian menunduk ketika Gaara masih terus menatapnya tajam.

“Kalau kau tak mau mengatakannya juga tak apa-apa,” ucap Gaara sembari melangkah hendak meninggalkan Lee sendiri. Rasanya Gaara tak memiliki alasan agar Lee mau memberi tahu masalahnya.

“Ah, Ga-Gaara! Chotto!” cegah Lee sebelum Gaara meninggalkannya lebih jauh. Dia berlari kecil menghampiri Gaara. Wajah merahnya belum juga hilang.

“Hn?!”

“Aaa….” Lee mencoba mencari kata-kata yang tepat. Saking nervousnya, pipinya yang tak gatal di garuk-garuk dengan jari telunjuknya.

“…”

“Apapendapatmutentangaku?” tanya Lee cepat.

“…”

Diam sejenak.

“…”

Mereka hanya saling bertatapan saja. Membuat wajah Lee semakin panas.

“…”

“Terlalu cepat, aku tak mengerti…” kata Gaara setelah beberapa saat mereka hanya terdiam dan saling pandang. Lee hanya sweatdrop mengetahui sang Kazekage itu tak memperhatikan pertanyaannya yang super cepat.

“Emmm, A-apa pendapatmu ano… te-tentang a-aku?” ulang Lee, kali ini lebih jelas.

“Eh?” Gaara mengerutkan keningnya. Sepertinya belum juga paham maksud pertanyaan Lee tadi.

“Emmm, ma-maksudku ba-bagaimana menurutmu… a-aku ini?”

“…” Hening.

“…” Hening.

Gaara terdiam tak tahu apa yang mesti dia katakan ketika mendengar pertanyaan Lee barusan. Rasanya otak Kazekagenya sama sekali tak berguna disaat seperti ini.

Bagaimana Lee menurutnya ya? Selama ini dia hanya menganggap ‘pemuda hijau’ ini adalah biang ribut yang gemar berteriak-teriak mengenai semangat masa mudanya yang menggebu-gebu. Apalagi kalau sudah berkumpul dengan sensei tercintanya itu, mereka seperti badut kembar dua yang bertingkah konyol.

Namun Lee bukanlah orang yang pantas diremehkan, walaupun lengan dan kakinya hancur sekalipun, Gaara tahu kalau Lee tak akan mudah menyerah begitu saja. Waktu misi mengejar Sasuke contohnya, Gaara tak pernah mengira Lee akan berhadapan langsung dengan Kimimaro. Padahal luka-luka yang Gaara berikan waktu itu belum sembuh benar, namun Lee ada di sana. Dengan modal Taijutsu serta kepercayaan dirinya, Lee berdiri tegap menantang anak buah Orochimaru itu.

Bukan cuma itu saja, dua kali dia membantu Naruto dalam misi menyelamatkannya. Saat penculikan oleh Akatsuki dan Gaara bangkit dari ‘kematiannya’, Lee juga ada disana. Gaara sempat tersenyum kecil melihat Lee yang berpose ‘Dua jempol untukmu’ padanya. Senang rasanya kembali bertemu dengan pemuda ceria seperti Lee.

Tunggu?! Senang…???!!!

“Ahahahaha, sudahlah lupakan saja, itu pertanyaan bodoh ya?” ujar Lee kemudian, membuyarkan day dreaming Gaara yang telah sampai kemana-mana.

Entah kenapa Gaara merasa sedikit bersalah ketika melihat sebersit kekecewaan tampak di wajah Lee. Walaupun pemuda itu tersenyum namun Gaara tahu Lee sedikit berharap Gaara mengatakan sesuatu. Sesuatu yang setidaknya membuat pemuda itu lebih yakin akan dirinya sendiri.

Namun Gaara tidak bisa berkata apa-apa. Apa yang harus dia katakan mengenai seorang Lee, dia tak ada ide sama sekali.

Gaara hanya mengikuti Lee yang kembali menuntunnya menyusuri jalan di desa Konoha. Mereka berjalan dalam diam yang tidak nyaman. Terlarut dalam pikirannya masing-masing.


Mereka tiba disebuah bangunan rumah yang sedang di perbaiki. Beberapa anak kecil tampak bermain-main di sekitarnya. Yeah, beberapa bangunan di Konoha memang sedang di reparasi, selain karena sudah cukup tua, mereka juga bermaksud menambah bagian di beberapa tempat. Kedua pemuda itu tampak asyik melihat orang-orang bahu membahu menyelesaikan pekerjaannya. Hingga sebuah teriakkan mengejutkan mereka dan membuat sang Kazekage melesat pergi. Mata Lee terbelalak.

“AWAAASSSS!!!”

BRUAAAAKKKKK!!!!

“Huuuuaaaaaaaaaaaaaannnnnn!!!”

Teriakan, suara benda jatuh disusul dengan tangisan anak kecil kini membuat semua orang menghentikan pekerjaannya dan terfokus pada tumpukan kayu yang tiba-tiba terjatuh. Lee belum juga beranjak dari tempatnya, padahal dia sadar Gaara sudah tak ada di sampingnya.

Gaara.

Ya, Tuhan….

Buru-buru Lee menghampiri tumpukan kayu itu, tangannya gemetar ketika mencoba menyingkirkan balok-balok kayu yang cukup berat itu. Beberapa orang pekerja membantunya, sementara itu tangisan bocah kecil itu semakin menjadi-jadi.

Akhirnya Lee bisa melihat Gaara lagi, pemuda stoic itu mendekap seorang gadis kecil di pelukannya. Ajaib karena mereka tak terluka, hanya pakaian mereka sedikit robek dan kotor disana-sini. Para pekerja masih mencoba menyingkirkan kayu-kayu itu dan menatanya kembali. Salah seorang diantaranya menghampiri Gaara dan meminta maaf, Gaara hanya mengangguk menanggapinya. Dia sedikit melepaskan pelukannya dari gadis kecil yang masih terisak-isak itu. Sebuah luka memar terlihat di lengan kanan bocah kecil yang diselamatkannya itu.

“Daijobu ka?” tanya Gaara kepada bocah cilik itu dengan wajah dingin. Mata gadis kecil itu kembali berair ketika memandang Gaara. Dan dalam hitungan detik bocah kecil itu kembali menangis.

Gaara dan Lee hanya sweatdrop melihatnya. Gaara mengutuki dirinya sendiri karena tak bisa menenangkan seorang anak kecil.

‘Agh! Sepertinya aku bukan ayah yang baik,’ pikirnya dalam hati.

Lee yang tak tega melihat wajah bersalah Gaara serta raut ketakutan bocah kecil itupun kemudian mendekati mereka. Lee menggambil gadis kecil itu kemudian menggendong di pelukannya. Gadis itupun tak berontak sama sekali ketika Lee mengangkatnya dari dekapan Gaara.

“Sudah sudah, cup cup cup… sakitnya hilang, sakitnya hilang… naahhh! Sudah hilangkan sakitnya?” ucapnya sambil mengusap-usap lengan bocah itu yang sedikit memar.

Bocah itu memandangi Lee yang tersenyum manis (?) menatapnya.

“Un, aligato Niichan,” gadis itupun akhirnya tersenyum kembali. Lee hanya menyengir, dikecupnya ubun-ubun gadis kecil itu dan mengusap pelan rambutnya yang hitam.

‘Calon ayah yang baik,’ pikir Gaara lagi.

Lee lalu menurunkannya dan membiarkan gadis itu kembali berkumpul dengan teman-temannya. Sebelum pergi gadis itu sempat melambaikan tangannya kepada mereka berdua. Atau lebih tepatnya pada Lee, karena sepertinya bocah kecil itu masih takut melihat Gaara meskipun sebenarnya Gaara lah yang telah menyelamatkannya.

“Gaara, daijobu ka?” tanya Lee yang masih khawatir dengan keadaan Gaara.

“Hn,”

“Woooaaaah, Gaara! Keningmu berdarah?!!!” teriak Lee histeris ketika melihat darah segar mengucur dari kening sahabatnya itu.

“Daijobu,” kata Gaara mencoba menenangkannya.

“Iie, daijobu janai!” Lee lalu menyeret Kazekage keras kepala itu ke sebuah pohon rindang di dekat sungai. Mau tak mau Gaara menurutinya.

Lee berlari kecil menuju sungai, membasahi kain saputangannya dan segera kembali untuk membersihkan luka kecil Gaara, dengan hati-hati Lee membalut luka itu dengan perban yang selalu dia bawa kemana-mana. Maklum Master Taijutsu seperti dia pasti membutuhkan banyak perban untuk membalut luka-lukanya.

“Yosh! Selesai! Sakitnya sudah hilangkan?” ujar Lee sambil memperhatikan ‘Hasil karya’nya.

“Hn,” Gaara memegang keningnya yang kini sudah terbalut perban. Padahal cuma luka kecil saja kan? Rasanya ini terlalu berlebihan ya?

Tanpa pikir panjang, Lee bergerak maju ke arah Gaara. Mencium tanda Ai di kening Gaara yang telah tertutup perban itu. Suara ‘Cup’ dari efek ciuman singkat itu membuat Lee membelalakkan matanya ketika menyadari apa yang telah dilakukannya. Darah naik kemukanya dan membuat wajah Lee semerah tomat.

“Wa-“

Mata Lee membesar, sementara itu Gaara hanya memandangnya dingin.

“Waaaaaaaaaaaaaa, Go-gomen Ka-kazekage-sama! O-Ore…” teriak Lee dengan tampang mengerikan. Wajahnya terlihat pucat bercampur malu.

“Gaara,” ujar Gaara datar. Sepertinya ciuman tadi tak berefek sama sekali padanya.

“Eh,”

“Sudah kubilang panggil aku Gaara dan terimakasih sakitnya memang sudah hilang,”

“U-Ummm,” Emosi Lee yang bercampur aduk itu kembali tenang, namun dia masih belum bisa menyembunyikan rasa malunya.

‘Hooowaaaaaaa~ apa yang telah kulakukan tadi?!’ pikirnya. Mungkin kalau sekarang ada lubang di depannya, Lee pasti akan mengubur dirinya hidup-hidup.

Mereka terdiam, Lee sendiri masih menunduk menyembunyikan wajahnya yang memerah, sepertinya masih malu dan syok atas sikapnya barusan. Sementara itu Gaara masih memperhatikan sosok sahabatnya itu.

Bukannya Gaara tak menyadari sih, tapi dia cukup kaget juga ketika Lee mencium keningnya tadi. Setahunya hal semacam itu biasa dilakukan oleh orang tua kepada anaknya, saudara dengan saudara ataupun juga seseorang dengan orang yang dikasihinya.

Entah ciuman tadi masuk kategori yang mana. Sepertinya masih banyak waktu untuk menanyakannya pada Lee nanti.

“Kau orang yang Unik dan kau juga orang yang baik, Lee…” kata Gaara memecah keheningan diantara mereka.

“Eh?” Lee memberanikan diri menatap Gaara. Perlahan dia mencoba mencerna kata-kata Gaara barusan. Walaupun itu hanya komentar singkat Gaara mengenai dirinya, tapi…

“Itulah seorang Lee yang aku tahu, aku senang bisa mengenalmu,” kata Gaara lagi, kali ini disertai senyuman tulus yang membuat wajah Lee tambah memerah dan kehabisan kata-kata.

“Arigato, Gaara…” ujar Lee sambil menyengir lebar.

“Hn,”

Tak ada yang tahu pasti bagaimana perasaan Lee sekarang. Senang, terharu, malu. Entahlah… yang jelas Lee pun merasa bersyukur karena bisa mengenal Gaara.

“Ne~ Lee?”

“Hmmm?”

“Apa yang tadi itu namanya ciuman? Kakashi-san pernah memberikan buku Icha-icha paradisenya di hari ulang tahunku kemarin, di buku itu di jelaskan tentang ciuman…” kata Gaara datar.

“Eh?”

Wajah merah Lee hampir berasap ketika mendengar Gaara mengucapkan kata ‘ciuman’ tanpa perasaan canggung sedikitpun.

“Tapi kalau yang tadi benar ciuman, kenapa tidak di bibir ya?” tanya Gaara dengan muka polosnya.(*)

-

-

-

-

-

“EEEEEEEEEHHHHHHHHHHHHHHH??!!!”

Sadar akan apa yang barusan Gaara katakan padanya, muka Lee mendadak berubah menjadi Horror. Dia sukses terjatuh pingsan dengan suara ‘THUMP!’ yang cukup keras.

‘Eh? Apa ada yang salah ya?’ pikir Gaara yang hanya sweatdrop melihat Lee yang kini terkapar tak berdaya itu.

Yare-yare~

FIN


A/N :

* (Watdepak??!!)

Huweeeee~ T.T Kakashi-pervert, tega nian dirimuw meracuni Gaara dengan buku macam ntu, hohoho…

BTW, siapa ya yang meneruskan serial Icha Icha sepeninggalan Jiraiya ya? =.= Loh kok jadi ngaco ya? –LoL-

Yuupppzz! Ini adalah fic GaaLee, gomen baru bilang diakhir Fic *dibantai*

Hehehe, Yuuya pernah bertanya pada salah seorang teman di FB, bagaimana kalau Yuuya akan membuat fic tentang GaaraLee… Dia langsung Fainted O.O Ada juga yang mengatakan kalau Yuuya itu ‘jahat’.

Kukukukukukukukukukukuku *Orochi Laugh Mode On* XDD

Kenapa memakai judul Gardenia? Itu juga ada artinya loh, hohohoho… teman-teman yang pernah membaca salah satu status Yuuya di FB pasti tahu, XP

Gomen buat FG Gaara kalau Yuuya membuatnya ber-Pair dengan Lee di Fic ini (Meskipun ini tidak pas di sebut Yaoi, ini lebih ke Shounen-ai saja). Yups, Rock Lee Salah satu Konoha Green Beast –setelah Gai-sensei sepertinya- yang keberadaannya ‘jarang’ sekali tersentuh. Banyak yang menganggap dia Weirdo –kita sama Lee T__T- dan tidak ada menariknya sama sekali. Bayangkan Mata Hitam Bulat Besar, Alis Tebal. Baju Ketat di badan.

Uuuuggghhh!!!

*di Konoha Senpuu!!!*

Tapi justru di situlah menariknya chara yang satu ini. Dari awal dia tampak biasa namun sebenarnya dia adalah orang yang luar biasa. Kalau misal tidak begitu menyukai pair yang saya ketengahkan di Fic ini, anda bisa menekan Back Button, hohoho... Udah telat ya?! *digampar*

Met Puasa Minna-san~ !!!

A PERVERT

Disclaimer: Masashi Kishimoto.

Genre: Romance, Humor

Warning: OOC

Pairing: NarutoxHinata

A PERVERT

#~#

Penulis: Guavary'DarkLavender

#~#

Siapa yang tidak kenal Naruto? Ninja hyperaktif tempat bernaung Mas Kyuubi yang bercita-cita menjadi Hokage? Ah… Yang telah berhasil menjadi Hokage, meski sebelum pelantikan harus ada acara caci-maki perihal gelar Hokage ke-tujuh yang ia anggap kurang keren dibandingkan gelar Hokage ke-enam.

Makin jauh sudah posisinya dari Gaara yang jadi Kazekage ke-lima.

Padahal Gaara tidak lari-lari keliling kampung mengumumkan cita-citanya, atau pake tambahan ‘dattebayo!’, atau punya jalan ninja yang AMPUH, atau berlatih bersama dua guru yang… mesum.

Tapi, siapa jualah dirinya sehingga mampu menyebut orang lain mesum? Naruto sadar ia juga termasuk anggota grup itu.

Grup yang menyenangkan. Daerah magangnya sering berkisar di onsen –wanita-. Sebagai Hokage, Naruto harus membagi waktunya dengan baik dan juga harus ekstra berhati-hati, Bukan berita bagus bagi siapapun mengetahui Hokage-nya anggota gank mesum.

Pertemuan dengan Ero-Sannin adalah bagian yang paling ia tunggu. Ero-Sannin punya mata yang bagus, incarannya pun oke punya.

Tapi, tidak untuk kali ini. See? A big no-no.

Hari ini bukan onsen, bukan kali, bukan pantai, bukan danau, bukan waduk, apa lagi sumur. Intinya, bukan tempat sejenis itu, melainkan tempat bernaungnya salah satu klan terhormat di Konoha.

Hyuuga Compound.

Dari semua tempat yang ada harus Hyuuga Compound. Tidakkah Ero-Sannin tahu bahwa tempat ini di isi ratusan pengguna byakugan? Mereka bisa ditangkap dan dibunuh kapan saja.

Terlalu berlebihan. Ia dan Ero-Sannin tidak akan tertangkap semudah itu. Ok, sebenarnya letak permasalahan bukan pada tempatnya, tapi targetnya. Kalau orang lain ia tidak perduli, asalkan jangan yang itu. Karena ITU bagiannya sendiri! Bukan untuk dibagi-bagi!

“Kenapa jaketnya belum dibuka? Ayo, buka. Bukaaaaa.” Bisik Jiraiya, gregetan.

Naruto menahan diri untuk langsung me-rasengan gurunya saat ini juga. Ia lalu kembali fokus pada seorang gadis yang sedang berlatih taijutsu di traing ground milik Hyuuga sambil harap-harap cemas. Jangan sampe jaketnya dibuka. Jangan sampeeee.

Naruto kemudian membetulkan posisinya yang tengkurap di atas atap bangunan Hyuuga yang berdiri megah, mencari posisi yang lebih nyaman namun tetap tidak terlihat. Jiraiya berada di sebelahnya, mata tak lepas dari gadis yang sekarang mulai berkerigat, di tangan kirinya sebuah pensil dan tangan yang lain memegang buku.

“Semakin panas. Sebentar lagi pasti dilepas.” Ujar Jiraiya semangat dengan senyum-senyum mesum.

Naruto bernafas keras. Kini, ia berharap hujan segera turun membasahi Konoha. Dengan begitu, kecil kemungkinan terjadinya hal-hal yang tidak diinginkan.

Ia berkonsentrasi sekali lagi pada gerakan gadis itu. Lembut, anggun, tapi mematikan. Rambut indigo menari mengiringi setiap gerakan yang ia lakukan, matanya menunjukkan kemauan keras, keringat membasahi leher jenjangnya, lalu---

Naruto nosebleed.

“Gehe… Fantasi indah, Naruto?” Goda Jiraiya. Senyumnya melebar, memasang wajah aku-tahu-apa-yang-kau-pikirkan.

Naruto mendengus, merona karena tertangkap basah namun tidak bicara lebih lanjut. Terlalu merepotkan. Ia punya tugas yang lebih besar.

“Sayang ya jaketnya belum dilepas?” Tambah Jiraiya.

Naruto memberikan satu death glare ke arah belakang kepala Jiraiya atas komentarnya tadi. Ia justru berharap jangan sampai dilepas. Kalaupun mau dilepas, tunggu waktu yang pas. Saat Jiraiya atau pengganggu jenis manapun tidak ada dan yang ada hanya dirinya. Nah, itu baru bagus!

Ia rindu masa-masa ketika hanya dirinya seorang yang menjadi pengintip. Begitu damai… Ia bisa menikmati semuanya dengan tenang. Sekarang? Jangan ditanya. Ia teralu sibuk melindungi si gadis dari mata-mata nakal.

Sebenarnya, ini memang ada unsur kesalahannya. Ia keceploson ngomong tentang gadis yang punya tubuh aduhai dari Hyuuga berinisial H. Kalo bukan karena keasyikan dengan deskripsinya yang sempurna, Naruto mungkin akan berhenti sampai di situ. Namun, apa daya, mulutnya tidak mau berhenti hingga nama si gadis terbongkar.

Dan para pervert itu punya ingatan yang bagus.

Mereka berusaha mati-matian mencari tahu apa yang tersembunyi di balik jaket lavender tebal sementara Naruto mati-matian menyembunyikan apa yang ada di baliknya. Sungguh peperangan yang menguras darah, keringat, dan air mata. Sialnya, si korban tidak menyadari hal tersebut.

“Jaketnya hampir dilepas!” Seru Jiraiya tiba-tiba.

Naruto menoleh cepat, menimbulkan bunyi mengerikan dari tulang-tulang lehernya yang bergemeretak. Bola matanya membulat menyaksikan tangan mulus Hyuuga Heiress perlahan naik menyentuh resleting jaketnya. Tangan itu berhenti, hanya diam tak bergerak di tempat semula.

Naruto mengucapkan kata syukur begitu Hyuuga Heiress melepaskan tangannya dari resleting disusul dengan penyesalan Jiraiya, kemudian gadis itu duduk sebentar, mengambil handuk kecil untuk mengelap keringat disekitar wajahnya. Ia mengipasi wajahnya yang memerah ditimpa cahaya matahari dengan tangan kanannya selama beberapa menit, menstabilkan nafasnya yang memburu usai sesi latihan kemudian duduk diam tak bergerak.

Naruto menghembuskan nafas lega. Selesai sudah. Tidak ada yang perlu ia takutkan. Seharusnya, menurut jadwal, sehabis ini si gadis akan langsung masuk ke kamarnya untuk beristirahat sejenak dan meracik ramuan-ramuan khas Hyuuga.

Jadi pengintip ternyata berguna juga. Ia bisa tahu jadwal gadis itu secara lengkap.

Mission complete.

Naruto nyengir “Ne, Ero-Sannin.” Katanya, menepuk pundak Jiraiya keras “Mau bagaimana? Kali ini gagal. Kita cari target yang lain saja. Aku mau ke Ichiraku Ramen.”

Jiraiya tak bergerak. Binocular masih tetap digunakan. Naruto melanjutkan “Menyerah saja.”

Jiraiya menyuruh Naruto diam dengan satu kibasan tangan “Shhh… Liat, hampir dilepas.”

Naruto mendesah “Ero-Sannin, sudah. Masih banyak wanita yang lain. Jaketnya tidak mungkin dilepas. Pulang saja.” Naruto menoleh berbalik menghadap arah target “Lihat. Dia masih menggunakan ja—”

Semua bagai hitam-putih, bersatu dalam ke-lebayan slow motion pada detik-detik bersejarah ketika tangan Hyuuga Heiress meraih resletingnya. Naruto memekik tertahan, ekspresi horror terpampang jelas. Jangan! Jangaaaaan!!

Tangan kiri sang Heiress membawa resletingnya turung perlahan… 2 cm… 4 cm…

Naruto mulai menggigiti kukunya. Berhenti!

Jiraiya tersenyum semakin lebar.

5 cm…

Aku mohon! Berhenti!

6 cm…

8 cm….

-

-

-

“TIDAAAAK!” Teriak Naruto, kontan berdiri dari posisi tengkurap ala putri duyungnya di atas atap bangunan Hyuuga. Jubahnya berkibar ditiup angin, ekspresi wajah? Silahkan buka manga Naruto chapter 430 hal 1 saat Naruto akan maju ke medan pertempuran melawan Pein.

Aku akan menyelamatkanmu, Hinata-Chan!

Niat mulia Naruto ia wujudkan dengan langsung melompat turun, membawa Hinata yang tampak bingung namun merona dalam dekapan dua lengan kekarnya. Ia melompati pagar beton super tinggi yang dibangun mengelilingi kediaman Hyuuga, menapaki cabang tiap pohon, lalu mendarat di daerah yang menurutnya ‘Bebas Ancaman’.

Ia mulai mempertimbangkan untuk menugaskan ANBU untuk mengatasi masalah ini. Hey! Keselamatan calon pemimpin Klan juga menjadi tanggung jawabnya kan?

“N-Naruto-kun…”

Mendengar suara yang ia kenal baik, Naruto menghentikan segala hal yang hilir mudik di dalam otaknya, menatap Hinata lurus pada matanya. Dua tangan Naruto berada di masing-masing bahu Hinata, mencengkeram erat. Menangkap wajah Hinata yang seolah tanpa dosa, ia jadi merasa kesal. Ia menarik nafas panjang, bersiap untuk sebuah start dari ceramah tanpa thema khusus yang mengalir begitu saja dari mulutnya.

“Baiklah.” Katanya “Ada apa dengan jaketmu?! Ini tipis, terlalu pendek! Tidak menutupi tubuh dengan sempurna. Terlalu ketat! Tidak sopan. Sudah kadaluarsa! Cari jaket yang lain! Yang lebih tebal, lebih panjang, lebih longgar. Jangan seperti ini! Aku akan minta Shino membuatkan ratusan jaket untukmu. Ya…ya… Shino… Shino…” Naruto manggut-manggut atas pernyataannya sendiri “Lagi pula, siapa yang mengizinkanmu memakai jaket seperti ini? Hyuuga-sama pasti sudah gila. Mulai sekarang, pakaian apa yang kau gunakan harus mendapat izin dari Hokage!”

Naruto melihat Hinata lagi untuk mengetahui reaksinya. Ia mendecak sebal begitu melihat Hinata –sudah sangat merah- mengamati jaketnya beberapa kali, kemudian takut-takut menatap Naruto penuh tanya. Ia merasa tidak ada yang salah dengan jaketnya. Ini jaket yang sama yang ia gunakan sejak menginjak remaja. Tidak pernah berubah. Malah teman-teman sesama kunoichi-nya menyarankan untuk meninggalkan jaket yang mereka anggap membuat Hinata tampak gemuk.

Naruto melanjutkan “Menurutmu tidak ada yang salah. Menurutku jaket itu sangat salah.”

Hinata makin memerah.

Naruto membahas topik baru “Dan celana panjangmu. Bukan. Bukan celana panjang. Pendek. PENDEK! Bagaimana bisa kau memakai celana sependek ITU!” Jari telunjuk Naruto mengacung ke arah kaki Hinata yang hampir ke-seluruhannya dibalut kain biru tua “Sangat terbuka. Ini bisa mendatangkan pikiran-pikiran buruk! Cari yang lebih pantas. Yang lebih panjang. PANJANG, bukan PENDEK! Aku akan memerintahkan seseorang membuatkannya. Aku akan memerintahkan…” Naruto mengernyit, memikirkan siapa orang yang bisa ia mintai tolong.

Lima menit berlalu tanpa hasil. Ia tidak menemukan seorangpun yang mampu. Kebanyakkan shinobi memakai jenis celana yang sama seperti Hinata. Sedangkan kunoichi sudah ia coret dari awal. Naruto mendengus sebal. Biru laut berbinar begitu teringat satu nama “Gaara! Aku akan minta tolong pada Gaara!”

Hinata ingin pingsan sekarang juga.

“Tidak.” Naruto menatap kaki Hinata lama. Senyum mesum muncul. Naruto menggeleng, fokus! “Yang dipakai Gaara tidak cocok untukmu. Menurutku masih tidak sopan. Harus lebih longgar. Kalau begitu… Akan kubuatkan sendiri!”

22-juli-2009

Kejadian besar : Hyuuga Hinata mencapai rekor baru dalam keahlian untuk memerah setiap saat.

“T-tapi… kenapa?” Tanya Hinata, berhasil menemukan suaranya yang sempat hilang.

“Karena tidak ada yang boleh melihatmu dalam keadaan seperti itu. Hanya aku! Hanya aku yang berhak!!” Jawab Naruto pasti.

Dan Naruto belum selesai dengan ceramah panjangnya “Satu lagi! Jangan pernah berlatih di tempat terbuka. Kau tidak tahu? Itu sangat berbahaya! Mulai sekarang, berlatih di tempat yang tertutup, yang tidak berpotensi memperbolehkan adanya pengintip!” Lalu dia sendiri? “Kecuali Hokage…”

“N-Na-Naruto-kun…”

“…karena Hokage perlu mengetahui sampai di mana kemajuan shinobi-shinobi Konaha!” Naruto ngeles dengan sukses.

“Y-yang tadi i-itu…”

“Oh,ya! Kamu kan calon Pemimpin Klan, Hinata-Chan, sedangkan aku Hokage. Aku rasa kita perlu lebih sering bertemu! Maksudku, ada banyak hal yang perlu kita bicarakan. Sangat banyak sehingga akan memakan banyak waktu kita berdua. Jadi…”

“…apa k-kau baru saja m-memintaku menjadi… uhm… i-is-istrimu?”

“…kita akan menghabiskan waktu bersama!!” Naruto mengerjap. Hinata bilang…? “Huh?”

Hinata mengeluarkan suara yang terdengar seperti jeritan kecil, membekap mulutnya sendiri, lalu berbalik sehingga yang dapat Naruto lihat hanya punggungnya. Naruto bisa menebak Hinata sedang memainkan kedua jarinya.

Naruto terdiam, memiringkan kepalanya ke samping sembari berpikir. Tadi apa yang Hinata katakan? Kalau tidak salah… Naruto blushing. Memangnya dia bilang apa sampai-sampai Hinata bisa mencapai kesimpulan itu? Kan dia hanya bilang…

Menyadari apa yang baru ia katakan, wajah merah Naruto kini menyaingi wajah merah Hinata.

“B-bukan! Tentu saja tidak! Tidak mungkin!! Eh.. Mungkin? Gyaah! I-i-iya… Err… hehe.” Naruto salting, menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal. Suatu kebiasaan yang tetap ada walaupun ia telah berada pada kedudukan tertinggi di Konoha.

“Ehem… Mau tidak?” Tambah Naruto. Sungguh cara melamar yang tidak romantis.

Ia meraih pinggang ramping Hinata, membuat Hinata kini berbalik menghadapnya. Entah rasa percaya diri yang datang dari mana, Naruto menekan “Hmm??” sembari mengelus lembut rambut Hinata.

Hinata menunduk kemudian mengangguk “I-iya.”

Pelukan Naruto mengerat “Terima kasih!! Terima kasih! Ok. Kita akan punya anak berapa? Aku mau sepuluh! Makin ramai, makin bagus. Atau dua puluh?”

Ini sudah berlebihan bagi Hinata. Maka ia-pun pingsan. Di dalam pelukan Naruto.

“Hinata-Chan? Hinata-Chan!” Naruto mengguncang-guncangkan tubuh Hinata “Kenapa harus pingsan di momen penting?”

Naruto mendesah. Ia lalu membawa tubuh Hinata di bawah bayangan sebuah pohon besar, menyandarkannya dan duduk di sebelahnya.

Sulit dipercaya. Ia akan segera menikah! Naruto terkekeh, membelai lembut pipi Hinata. Setelah itu memberikan satu kecupan kecil.

Ia terus mengamati wajah Hinata. Wajah damai-nya seolah hidup yang ia miliki begitu sempurna, ketenangan yang dimiliki… Naruto terkekeh lagi melihat bibir pink Hinata. Satu ciuman tidak apa-apa kan?

Dan ia menunduk, mendekatkan bibirnya ke bibir Hinata namun berhenti beberapa detik untuk tersenyum tulus, mensyukuri apa yang telah ia dapatkan… Wanita yang ia cintai… Naruto semakin mendekat. Tepat ketika bibirnya akan menempel dengan bibir Hinata, raungan keras terdengar.

-

-

-

“UZUMAKI NARUTO!! HOKAGE MESUM! KAU APAKAN PUTRIKU?!” Raung Hiashi yang mencengkeram Jiraiya (babak belur) tapi masih sempat-sempatnya melambai. Dibelakangnya Hyuuga Neji menyeringai sadis. Tidak beberapa jauh darinya ada seorang Hyuuga lain.

Dan Hyuuga lain.

Dan Hyuuga lain. Hyuuga lain. Hyuuga lain. Hyuuga lain. Hyuuga lain. Hyuuga lain. Hyuuga lain.

Stop! Terlalu banyak untuk dihitung.

Naruto berjengit “Hyuuga-sama ini tidak seperti yang anda bayangkan!”

“NARUTOOOO!!” Raungan keras kali ini berasal dari Neji, menjadi aba-aba bagi setiap Hyuuga untuk memulai ‘urusan’ mereka. Raugan begitu keras yang melewati 5 negara besar…

-

-

-

Di suatu tempat di sekitar hutan Otogakure, Sasuke yang sedang mendiskusikan rencana penyerangan bersama Tim Hebi-nya merasakan sisi kemanusiaannya bangkit. Ia menangkupkan tangan di depan dada, berdo’a dan diakhiri dengan,

Semoga kau tenang di alam sana, Dobe.

#~#

#---o---o---o---o---o---o---o---o---#

T H E E N D

#---o---o---o---o---o---o---o---o---#

Internet Cafe

Language: Indonesia

Nyohoho~ saya buat sekuel ‘Games Online’!! Kali ini temanya puasa ramadhan sih ToT nggak perlu baca yang games online untuk memahami isinya kok. Lol.

Untuk yang puasa, selamat berpuasa ya~

Alternate universe, out of character, mengandung spoiler, lebay, gila, gak jelas, gak waras (sama aja sama gila kali!).

Catatan: Tidak ada yang pantas ditiru dari fic ini.

Internet Cafe

Naruto © Kishimoto Masashi

Penulis: Daniiii

“Mou sukoshi~ mou sukoshi~ kimi no soba ni irareta nara~”

Terdengar lagu Mou Sukoshi milik Saori Atsumi dari speaker yang ada di kamar Sasuke. Sang pemilik kamar pun kini sedang chatting Y!m bersama teman-temannya. Di depannya ada sebungkus keripik kentang dan es kelapa muda sisa buka puasa barusan. Jari-jari tangan kirinya bergerak lincah memencet-mencet tombol keyboardnya, sedangkan tangan kanannya menjejalkan kelapa muda yang diambilnya dari gelas.

Tak lama kemudian, Mikoto masuk ke dalam kamar tersebut, wanita tersebut telah mengenakan mukena. Dia tersenyum ke arah Sasuke.

“Nak, ikut tarawih? Ayo gih... Mama mau berangkat sama Kak Itachi dan Papa,” kata Mikoto.

“Iya, Ma... nanti Sasuke berangkat sendiri. Aku tarawih di masjid kampung sebelah, janji sama temen-temen, jadi Mama, Papa, sama Kak Itachi pergi aja duluan,” kata Sasuke sambil mengetik.

“Oh...” Mikoto angguk-angguk. “Ya sudah, nanti jangan lupa matiin lampunya, kunci pintunya dan ditaruh di pot seperti biasanya ya. Mama mau berangkat dulu.”

“Yoa!” sahut Sasuke. Pintu pun kembali ditutup oleh Mikoto dan rumah menjadi sepi dalam sekejap.

Usai mengucapkan salam offline ‘sejenak’ pada teman-teman virtualnya (dan beberapa teman sekolah semacam Shikamaru, Naruto, dkk.) dan membereskan sisa makanan serta gelasnya, dia pun mematikan komputer dan langsung pergi ke arah kamar mandi untuk mengambil air wudhu. Setelah itu dia langsung berjalan ke arah lemarinya dan mengambil sarung serta peci dan memakai benda-benda itu. Tak lama, dia pun keluar rumah, mematikan aliran listrik, dan meletakkan kunci di bawah pot.

-time skip-

Sasuke melepas sandalnya, meletakkannya di rak, dan masuk ke dalam tempat itu, tempat yang beralaskan keramik putih, tempat yang menenangkan dan menyejukkan hati, tempat dimana orang saling bersosialisasi, dimana orang berjamaah, dan tempat yang dianggap suci... bagi para gamers dan onliners, apalagi kalau bukan WARNET.

“Oy! Cuy! Wakakakakak... kenapa lo? Pake sarung gitu? Biasanya ke warnet juga pake boxer!” kata seseorang di dalam warnet itu, berambut pirang, berkulit coklat bagaikan usai berjemur di bawah Matahari terik, bermata biru bak langit dan samudra yang tak lain dan tak bukan bernama Namikaze Uzumaki Naruto yang merupakan anak semata wayang dari Ustadz Namikaze Minato dan Ustadzah Uzumaki Kushina. Entah bencana macam apa yang melanda dan membuat pasangan suami istri itu mendapat anak yang maniak internet seperti dia sampai bertaruh tarawih.

“Diem lo! Stress gue!” ucap Sasuke sambil mulai melepaskan sarungnya dengan napsu.

“Iih!! Sasuke porno!!” teriak Naruto parno.

“Apaan sih lo?” Sasuke memelototinya sambil menyelempangkan sarungnya bak orang ronda.

“Oh... lo masih pake celana pendek toh di dalemnya, kirain lo mau nari striptease!” kata Naruto sambil melirik speaker operator yang mengumandangkan lagu Nagin. Sasuke pun memandang ke arah meja operator, dimana di sana ada Temari yang sedang blushing sambil membelo memandangi Sasuke. Sasuke hanya membuat ekspresi jijik sambil berjalan ke arah salah satu komputer yang belum ditempati. Hampir semua komputer tidak ditempati karena sepi. Karena hanya ada dia dan Naruto selaku pelanggan yang ada di sana.

“Teh, Gaara mana?” tanya Naruto mengusir suasana yang hambar saat menyadari Gaara tak ada di sana.

“Tarawih sama Kankurou,” jawab Temari yang telah menyudahi blushingnya.

“Teteh ngapain nggak tarawih hayoo?” tanya Naruto lagi sambil menyeringai jenaka.

“Lagi nggak boleh,” jawab Temari lagi. Kemudian dia bertanya balik. “Lha kamu?”

“Bosen, teh...” jawab Naruto sambil nyengir penuh dosa.

“Teh! Ganti lagu dong! Masa lagu ular sanca gini sih! Bergidik gue,” protes Sasuke sambil memasukkan username dan password untuk member warnet Sabaku tersebut.

“Apa, Sas? Lu inget Pak Orochimaru gara-gara kemarin dipake praktek biologi yang ngejelasin tulang pubis dan alat kelamin, ya? Hihi, gimana rasanya dipegang-pegangin gitu?” Naruto mengikik saat membayangkan kejadian beberapa waktu lalu saat di laboratorium biologi dimana Sasuke dipaksa maju oleh Pak Orochimaru dan ditunjuk-tunjuk serta dipegang-pegang untuk menunjukkan organ yang dimaksud dalam materi.

“A-Apaan sih lo?” teriak Sasuke. Terlihat semburat merah di pipinya yang seputih susu itu begitu mengingat peristiwa waktu itu.

“Lha... gue lihat kayaknya lo keenakan pas disentuh-sentuh bagian sensitip lo!” kata Naruto.

“Resek lo! Gak usah diomongin napa!” ucap Sasuke kesal.

They’re selling postcards of the hanging

“Nah! Gini dong! Lagu Desolation Row-nya My Chemical Romance!” kata Sasuke.

“Halah, biasanya kalo pake headset lo ngedengerin lagunya Ridho Rhoma juga!” sahut Naruto.

“Urusai Dobe!” teriak Sasuke.

“Udah, jangan bertengkar,” kata Temari melerai mereka.

Sasuke membanting pecinya ke atas meja, kemudian matanya yang berwarna onyx menatap lurus ke arah layar, memperhatikan jendela conference chat yang baru saja dibukanya bersama teman-temannya yang nista.

Smarty (Sasuke): WOI!

Ramennn (Naruto): Hihihi... Tem~

WhiteFang (Kiba): Kalian dimana?

Ramennn: Warnetnya Gaara!

Shukashukague (Gaara): Oi, Kib, kalo pake nama itu dimarahin bokepnya Kakashi-sensei lo.

WhiteFang: XP

Smarty: Lha? Gar! Katanya Teh Temari kau tarawih? Lo ke warnet lain, ya? -piip- lo! Nggak ngelarisin warnet sendiri!

Shukashukague: Suka suka gue.

Smarty: O.o

Smarty: *nampar*

Ramennn: Ganti username ya, Gar? Kemarin Shukaku, trus Shukashukaku, sekarang ‘ku’-nya diganti gue. Hihihi...

Shukashukague: Hn.

WhiteFang: to Sasuke, aku ma Gaara buka messenger lewat HP!

Smarty: ...

Ramennn: Kalian nggak tarawih malah Y!m-an!

MalesssAhh (Shikamaru): Mereka ngetik sambil sujud.

Ramennn: Lha? Lo juga?

MalesssAhh: Gue di belakang kagak ikut tarawih.

MalesssAhh: Tidur aja dah.

Smarty: Che...

Smarty: -Offline-

Sasuke langsung keluar dari conference itu dan mulai membuka facebook dan gaiaonline lewat Mozilla. Saking rajinnya dia, dia adalah makhluk terkaya di antara teman-temannya dalam urusan gaia, bahkan dia memiliki semua envolving item dari generasi pertama sampai final. Biasanya beberapa anak minta disumbang olehnya. Kemudian dia membuka Onemanga untuk membaca Naruto chapter yang paling baru. Entah ini hanya perasaannya atau apa, tokoh di dalam cerita itu mirip sekali dengan wajah-wajah dan nama-nama yang pernah dia kenal. Dia jadi curiga bahwa Kishimoto Masashi adalah seorang stalker yang mengintai desanya.

“Oi! Nar! Dah baca Naruto chapter yang paling baru kagak!?” tanya Sasuke heboh setelah membuka chapter 666 yang belum keluar di Amerika, apalagi Indonesia, bahkan Jepang, dan juga Kishimoto Masashi sendiri belum mengeluarkannya (?).

“Apa? Apa? Belum nih! Gue lagi buka Onemanga!” kata Naruto yang segera membuka Onemanga.

“Baca deh! Keren banget! Orochimaru bangkit lagi sambil nari striptease di depan para kage!” ucap Sasuke penuh semangat saat melihat tokoh favorit keduanya (setelah tokoh bernama Uchiha Sasuke) menampakkan batang hidungnya di chapter 666.

“Astagah!!” teriak Naruto sambil memegang hidungnya yang mulai mengeluarkan darah. “Mana para kagenya nyawer lagi! Gaara juga! Astaghfir...”

Sasuke kembali menelusuri halaman demi halaman dari chapter 666 tersebut. Dan matanya membelalak kaget saat tiba-tiba dalam satu panel Uchiha Sasuke, tokoh favorit nomor satunya di Naruto, menghampiri dan menyentuh Orochimaru yang sedang membuka kimononya secara perlahan-lahan sambil tersenyum ala om-om maniak.

“YA TUHAN!!!” teriak Sasuke histeris.

“Hiii... norak dan menjijikkan banget sih Uchiha Sasuke itu! Nggak seperti Uzumaki Naruto yang suci dan berhati baik,” ucap Naruto lirih, tidak tega jika dia mengatakan hal tersebut di depan fans sejati Uchiha Sasuke—yang bahkan lebih fanatik daripada Haruno Sakura dan Yamanaka Ino di manga itu, yang tak lain dan tak bukan adalah penghuni komputer nomor dua berambut hitam jabrik bernama Uchiha Sasuke.

Makan duren di malam hari paling enak dengan Kakashi...

Tiba-tiba terdengar lagu Belah Duren. Sasuke yang menyadari bahwa itu adalah ringtone handphonenya pun segera mengambil handphone Blackberry miliknya dari saku celana dan melihat nama sang penelefon. Di sana tertulis ‘Pedofil Incest’. Sasuke pun langsung panik.

“Teh Temari! Ganti lagunya dong! Ganti lagu religi gitu!” kata Sasuke pada Temari.

“Kenapa, Sas?” tanya Temari.

“Gawat! Pokoknya ganti aja, Teh!” jawab Sasuke. Temari pun mengangguk dan mengganti lagu Ridho Rhoma yang direquest Sasuke melalui Y!m secara diam-diam agar Naruto tidak menggodanya dengan lantunan surat Yasin.

Klik.

Sasuke mengangkat telefonnya.

“Halo, Itachi?” jawab Sasuke.

“Sas, lo dimana? Belum pulang tarawih?” tanya Itachi dari seberang sana.

“Di masjid lah! Belum nih,” kata Sasuke.

“Kapan lo pulang?” tanya Itachi lagi.

“Bentar, ini mau pulang nih!” sahut Sasuke.

“Ya udah... Rajin ya lo sekarang, gue kira lo di warnet.” Glek. Sasuke menelan ludah.

“Lo masih pengajian surat Yasin, kan? Nanti kalo udah kelar aja,” lanjut Itachi.

“O-oke,” jawab Sasuke.

“Gudbai, otouto~ Klik.”

Panggilan pun berakhir. Sasuke mengunci handphonenya dan memasukkannya ke dalam saku celana. Dia langsung meng-sign out semua accountnya, menutup mozillanya. Kemudian dia keluar dari billing, mengambil pecinya, berdiri, dan langsung berjalan ke arah Temari.

“Berapa, Teh?” tanya Sasuke sambil menurunkan sarungnya dan memakainya dengan baik dan benar.

“Ditelefon Itachi, Sas?” tanya Naruto.

“Iya,” jawab Sasuke.

“Dua ribu,” kata Temari setelah melihat ke arah layar.

Sasuke merogoh ke dalam sarungnya dan mengambil dompet dari dalam saku celana di dalamnya. Dibukanya dompet berwarna hitam itu dan dia pun mengeluarkan uang 2000 untuk diserahkan pada Temari.

“Ya udah, Teh, saya pulang ya. Titip salam buat Gaara sama Kankurou,” kata Sasuke sambil mengambil sandalnya dari rak dan keluar dari warnet.

“Lo udah mulai menaruh perhatian sama Gaara, ya?” ucap Naruto. Sasuke pun langsung melemparnya menggunakan sandal butut miliknya sendiri.

“Makan tuh sandal lo!” kata Sasuke.

“Salam juga buat keluargamu, Sas,” sahut Temari.

“Halah, paling-paling juga gak disampein karena entar bakal ketahuan keluarganya kalau dia main di warnet,” kata Naruto.

“Jangan cerewet lo!” teriak Sasuke sambil berlari menuju rumahnya.

“Salam buat nyokap lo aja, Sas!” teriak Naruto dari dalam warnet.

-

Fin

-

Pesan moral:

Jangan mencontoh kelakuan bejat SasuNaru *ditampar* eh, maksudnya Sasuke dan naruto ya, adik-adik sekalian. Tarawihlah saat tarawih, dan kalau ke warnet izin aja.. OwO (sama aja!!)

Yah~ maaf cerita ini tidak ada klimaksnya kayak yang games online (gak tahu juga sih ini ada klimaksnya apa enggak. Lol), tapi endingnya nggak cliff kayak yang games online. Ahahahaha~

Lebih pendek pula. Kali ini saya taruh di humor aja... Cocok gak, ya? TwT Yang games online aja di general parody...

Setetes Darah

Language: Indonesia

WARNING: OOC-ness, lebay-ness, plotless humor, not meant to be yaoi.

--

Setetes Darah

Penulis: Blissaster

Suna, Kantor Kazekage…

Gaara sedang duduk di kursinya, ditemani dua kakaknya, mengerjaka tugas Kazekage-nya seperti biasa, ketika…

‘Srat!’ tanpa sengaja, jari Gaara tersayat oleh pinggir kertas.

Gaara berkedip beberapa kali. Merasakan adanya rasa perih yang tidak biasa di jarinya, dia memperhatikan jari tersebut, dan menyadari ada cairan kental berwarna merah mengalir di sana. Gaara berkedip beberapa kali, sebelum otaknya mencerna sepenuhnya apa sebenarnya cairan merah itu…

“… Darah…” bisik Gaara lebih pada dirinya sendiri, menatap takjub sedikit cairan merah yang keluar dari jari telunjuknya.

“’Darah’??” ulang Temari dan Kankurou bersamaan. Kepala mereka tersentak ke arah adik bungsu mereka. Otomatis, mata mereka mengikuti ke mana mata Gaara terpaku. Dan melihat…

“DARAH!!?” teriak keduanya bersamaan, panik.

Kedua tangan di kepala, Temari berjalan mondar-mandir, “Darah?? Darah!? Darah!!? Gaara berdarah!!?” Temari histeris, “Tenangkan dirmu, Temari. Tidak ada gunanya panik,” Temari menaruh tangan kanannya di dada kirinya, menarik nafas panjang, berusaha untuk menenangkan diri. Hening. “GAARA BERDARAH!!!” teriaknya dalam kepanikan yang sma – kalau tidak lebih dari—yang sebelumnya.

Sementara itu Kankurou..

“GAARA! JANGAN MATI!!!” teriak Kankurou, mengguncang bahu adik kecilnya, air mata mengalir deras dari pipinya.

Dan aara…

Dia masih terpesona memperhatikan darah di jarinya. Dan entah bagaimana, bisa tidak menyadari kehebohan Temari (“DARAH~~~!!!”) atau Kankurou (“BERTAHANLAH!!”)

Beberapa waktu kemudian…

Kankurou yang mulai bisa mengontrol dirinya –akhirnya—sadar kalau dia harus membalut luka Gaara, menghentikan pendarahannya.

“Tenang, Kankurou… Tenang…” Kankurou menggumam pada dirinya sendiri, sebuntal perban di tangannya yang kini gemetaran, “Nyawa Gaara bergantung padamu. Kau jarus membalut lukanya sebelum lukanya terinfeksi atau Gaara kehabisan darah…” Kankurou membeku di tempat, matanya melebar seolah terhipnotis, “… Darah… Kehabisan darah… GAARA!! JANGAN MATI!!!” Kankurou menjadi histeris, lagi.

“Bodoh! Sini biar aku yang lakukan!!” Temari menendang adiknya, mengambil secara paksa perban dari tangan Kankurou, “Tenang saja, Gaara! Kakakmu ini akan segera menolongmu!” Temari menepuk dadanya.

Dan Temari pun membalut Gaara dengan perban…

Terus…

Dan terus…

Hingga…

“Selesai!” Temari mengelap keringat dari keningnya. Memperhatikan adik bungsunya yang kini berbalut perban dari ujung kaki hingga kepala. Tidak ada yang terlewatkan. Kecuali mata kanan Gaara dan… jari telunjuknya yang berdarah. Mata Temari melebar menyadari jari Gaara yang masih berdarah, “Maafkan kakakmu yang tidak becus ini, Gaara!!” teriak Temari, memegang kepalanya, frustasi.

Dan Gaara masih tepesona…

Begitulah, dalam keadaan seperti itulah, Taka –merpati pengantar pesan tercepat Suna—dikirim ke Konoha. Di dalam gulungan itu tertulis pesan…

Nyawa Kazekage dalam bahaya. Meminta bantuan secepatnya.

‘Brak!!’ Naruto menggebrak mejanya.

“Dia menaruh dirinya dalam bahaya macam apalagi sih!?” teriak Naruto frustasi. Walau toh dia segera bertolak ke Suna, Sasuke dan Sakura di sampingnya.

Beberapa waktu kemudian, Suna, Kantor Kazekage…

Temari terbaring di kursi, kompresan basah di keningnya, menutupi matanya, dia terus bergumam, “… Darah… Gaara berdarah…!!!”

Sementara Kankurou berjalan mondar-mandir di tengah ruangan, menggigiti kukunya dalam panik. Gaara, dalam balutan perbannya, masih tidak bergeming.

‘Brak!’ pintu itu terbanting terbuka. Kepala Kankurou segera menghadap ke arah pintu.

Naruto –yang ekspresinya campuran antara marah dan khawatir-- masuk. Sasuke dan Sakura mengikuti di belakangnya.

“Naruto!” Kankurou memgang kedua tangan Naruto, matanya bersinar penuh harap, “Syukurlah kau datang!!”

“Ada apa memangnya?” tanya Sakura, mengkhawatirkan keadaan Gaara –yang seluruh tubuhnya terbalut perban, dengan mata menatap ke arah jari telunjuknya.

“Dia… Dia… Dia berdarah!!!!” teriak Kankurou histeris.

“Ha?” Sasuke dan Sakura menatap Kankurou seakan cowok itu sudah jadi gila.

Sakura menggelengkan kepalanya, menyadarkan diri, sebelum berjalan ke arah Gaara, memeriksa cowok berrambut merah itu. Naruto mengikuti di belakangnya. Menyadari luka yang diderita Gaara ternyata hanya luka sayatan kecil di jari telunjuknya, Sakura menghela nafas lega.

“Oh. Bukan masalah besar kok. Dia hanya—“ Kata Sakura, tapi kata-katanya terputus.

“Dia benar berdarah!!” teriak Naruto tidak kalah histeris.

“Tuh kan! Dia berdarah!! Dia memang berdarah!!!” Kankurou menimpali kehisterisan Naruto.

“Ah. Justru itu—“ Sakura hendak menjelaskan, tapi kedua pemuda di depannya itu sibuk sendiri.

“Darah! Darah!! Darah!!! Dia berdarah!! Gya~~!! Gimana dong!?”

“Iya kan!? Iya kan!? Dia berdarah!!”

“Ah, umh… Makanya aku mau bilang—“

“Dia berdarah!!”

“Gaara, jangan mati!!!”

“Eh? Eh??” Sakura jadi ikut bingung, “Apa itu bukan sayatan biasa!? Jangan-jangan sayatan itu beracun!!”

Sasuke menatap kekacauan di depannya dengan tidak percaya.

‘Duak! Duak! Duak!!’ Sasuke memukulkan bagian belakang Kusanagi pada kepala Naruto, Sakura dan Kankurou.

“Sadar dong! Apanya yang membahayakan nyawa? Itu kan Cuma sayatan kecil biasa!” kedua tangan di pinggang, Sasuke mengomel, “Dan kau, Sakura! Jangan ikut-ikut dua orang idiot ini dong!” Sasuke menunjuk Naruto dan Kankurou. Sakura menggaruk belakang kepalanya, tersenyum malu.

“Tapi dia berdarah!” protes Naruto.

“Iya! Dia berdarah lho!” Kankurou menimpali.

Sasuke memutar bola matanya dengan tidak sabar, “Lalu? Dia kan sudah bukan host Ichibi lagi! Wajar kalau dia berdarah!” kata Sasuke.

“Tapi dia berdarah!!” Naruto berkeras.

“Iya! Berdarah!!” Kankurou ikut-ikutan.

Sasuke memutar bola matanya. Tampaknya tidak ada gunanya bicara dengan dua orang idiot ini. Lebih baik di segera menyelesaikan masalah bodoh ini dan pulang ke Konoha. Dia tidak percaya dia pergi ke Suna –dan meninggalkan Itachi, kakaknya yang berharga—hanya untuk alasan konyol seperti ini.

Sasuke berjalan ke arah Gaara, memperhatikan jari telunjuknya yang berdarah. Sasuke mendengus, “Luka seperti ini sih, dijilat juga sembuh,” kata Sasuke sebelum menjilat jari Gaara.

Hening.

Sakura hanya menatap Sasuke dengan mata tidak percaya, mulut terbuka lebar.

Gaara berkedip. Sekali. Dua kali. Kemudian seolah tidak pernah terjadi apa pun dia bertanya, “Lho? Kenapa kalian ada di sini?”

Naruto dan Kankurou terdiam. Kepala menunduk, aura gelap mulai mengelilingi keduanya. Lalu…

“Dia menjilatnya!!” teriak Naruto, menunjuk Sasu dengan gaya menuduh. Sedetik kemudian, sudah terdapat beberapa klon Naruto yang terlihat murka.

“Dia menjilatnya!!” teriak Kankurou histeris, sebelum mengeluarkan gulungannya dan memanggil kugutsu kepercayaannya.

“Tidak termaafkan!!” kata keduanya bersamaan.

“Apa sih?!” tanya Sasuke kesal. Dia sudah membantu, bukannya berterima kasih! Malah…

“Serang!!” kata Naruto dan Kankurou, memerintahkan klonnya (Naruto) dan kugutsunya (Kankurou) untuk menyerang Sasuke.

Gaara berkedip beberapa kali, “Ada apa sih?”

--

“Aku tidak percaya!” gerutu Sasuke yang kini berbalut perban –terima kasih pada Naruto dan Kankurou—menyilangkan tangan di depan dadanya, memberikan deathglare-nya yang paling mematikan pada Naruto dan Kankurou, yang hanya tersenyum sok tidak berdosa. “Bagaimana mungkin hanya karena setetes darah--,” Sasuke mengatakannya dengan penuh dendam, “—kalian membuat gempar Konoha-Suna!?”

“Yah… Namanya panik…” Kankurou mengaruk belakang kepalanya, tersenyum malu.

Sasuke mendengus, “Dasar overprotektif.”

“Halah! Kayak kau pantas bicara begitu,” celetuk Naruto, menyilangkan tangannya di belakang kepalanya, “Memangnya siapa ya, yang teriak-teriak panik hanya karena Itachi terkena cipratan minyak?” balas Naruto.

Wajah Sasuke memerah. Memalingkan mukanya, dia berkata, “I-itu kan beda!”

“Apanya yang beda, hm?”

“Erh… Yah… Pokoknya beda!” kata Sasuke seenaknya.

“Sudahlah,” Naruto mengibaskan tangannya santai, “akui saja, kalian—“

“Kita, Naruto,” ralat Sasuke, “Kita.”

Naruto terdiam untuk beberapa saat, berpikir, sebelum melanjutkan, ”… Yeah, kita memang kumpulan orang overprotektif.”

”Hanya kali ini aku setuju denganmu.”

-End-

Bersin Syahdu

Language: Indonesia

Moshi moshi!!!

Summary: Pengalaman Naruto mengajarkan Konohamaru game online! Hatttchiiiiiiiiiiiiiii!! Naruto bersin bersin+muncrat muncrat. ONESHOT. R&R??

Disclaimer: Kan udah dibilangin Naruto milik Mas Masa-sih, Kishimoto?

Warning: Gila, OOC, mengandung bahan pengawet (?).

A/N: Karena ga ad aide, saya buka , baca pengalaman lucunya, trus saya ambil n saya edit sana sini tambah sana, tambah sini, n I update!! (^_^)

Bersin Syahdu

Penulis: Re-L'Fujiki-chan

Naruto berdiri didepan warnet ‘Paru paru ada dua bilik dan usus ada yang 12 jari’ (?)

Hari ini Naruto berjanji pada Konohamaru untuk mengajarkannya bermain game online, maka dari itulah ia berdiri disana. Sudah setengah jam ia menunggu, Konohamaru tidak kunjung tiba. Hawa disekitarnya sangat dingin. Ia pun bersin bersin. Ingus keluar dari hidungnya, ia pun mengelap ingusnya. Tak sadar, Konohamaru sudah berdiri disampingnya.

“IIhhh, Naruto! Jorok banget sih loe!!”

Spontan, Naruto kaget. Lalu segera memukul kepala Konohamaru.

BUk!

Pak!

Mas! (?)

“Dasar loe!! Udah gue tungguin dari tadi kog lama banget sih datangnya??? Mati gue disini jadi penguin beku!! Dingin neeh!!”

“IIh, Naruto, kan ga perlu mukul mukul gitu, ancur dah rambut gue, kan gue udah pake Gatsby!!!”

“Alah, banyak cencong loe, jadi ga?”

“Iya iya…”

Lalu mereka berdua pun masuk kedalam warnet ‘Paru paru ada dua bilik dan usus ada yang 12 jari’ itu. Mereka memilih tempat yang komputernya Pentium 4. Warnet ini tidak ada pembatas diantara komputernya, jadi kita bisa ngeliat apa yang orang itu lagi browse. Jangan jangan….. -Ditampar

- PLAKKK!!

INi bulan puasa tauukk!!

Hee, kan gue belum sempet ngeleyesein kalimat gue….

Jangan jangan,,,, dia lagi ikut biro jodoh!!

Sweatdropped

Disebelah mereka berdua ada seorang laki laki yang kelihatannnya sangar banget. Naruto yang sedang asik asiknya mengajarkan Konohamaru tiba tiba saja ingin bersin

“Hatciuw!!!! hatchiiiiiuuuuuU!!!”Naruto bersin kearah sampingnya, ingusnya keluar, dan mengenai pemuda yang ada disamping mereka. Dia melihat Naruto dengan tatapan membunuh.

Naruto gelagapan, takut, “ntar mati gue dimakan bulat bulat ama tu orang”Batinnya. Kerah baju Naruto ditarik dan tangannya siap memukul Naruto. Tiba tiba saja Naruto bersin lagi, lalu, kali ini ingusnya mengenai wajah pemuda tersebut. Pemuda tersebut langsung pergi ke toilet untuk membersihkan mukanya dari ingus Naruto. Sebelumnya, ia berteriak

“Awas kau bocah semprul!!! Ta swobek swobek mulutmu!!”

Naruto dan Konohamaru tertawa terbahak bahak. Pada saat itu pun, Naruto bersin lagi dan kali ini mengenai wajah Konohamaru.

“Wuaattcchhhiiim!!!”

“AAAAAAAAAAAAAAAAA!!! WAJAHKU!!! PADAHAL TADI PAGI BARU DIPAKEIN MASKER!!! UWAAA!!!”Konohamaru jejeritan gazebo sambil berlari keluar warnet.

Naruto terdiam sejenak, mencerna apa yang terjadi, lalu tertawa terbahak bahak, lalu bersin lagi, kali ini mengenai baju barunya.

“UWAAAA!!! MHOAMHAA!!!!”

The End

GAZEBABO banget ya,,,, hehe.,, gemana pendapat kalian?? hayO???

White Horse

So-So-So Fun

Title: White Horse

Pairing: Kiba/Ino

Rating:T

Disclaimer: I do not own these Naruto characters and stand to make no profit from posting this story.

Summary: This is actually a Kiba/Ino break-up story - so sorry - no romance here but hopefully a little humor.

White Horse

Author: lovesrainscent

Ino steeled herself with a firm resolve. It was unfortunate but inevitable. The two of them would just never work out. Although their relationship had been intensely physical (intensely she thought breathlessly to herself, biting her bottom lip) it was nonetheless nothing but physical. There was no deep connection there, no spiritual bond, no promise of something eternal, everlasting, undying.

Yes, she was just going to have to break it off with Kiba. And the sooner the better, it would only be cruel to the poor boy to draw it out any longer than necessary. (But she was wondering if it would be too cruel to have just one more romp...nope never mind, she squelched that thought. Too cruel indeed, she admitted, more's the pity.)

Ino sighed and reaffirmed to herself that it was true that sometimes you just had to be cruel to be kind. It would really be better this way.

Because she had found someone with whom she shared that deep-spiritual-eternal-everlasting bond. Sai, she sighed. She'd realized it as soon as he'd asked her if she'd model for him. He studied her so earnestly, seeking to portray every nuance, every curve, every expression of her perfectly. One day as he had posed her, positioning her hands 'just so' for his portrait, his own hands had strayed and they had wound up embracing each other and tumbling into bed together.

Sai was a tender lover, a gentle lover, a patient lover. Unlike the sweaty-breathless-I-can't-wait-to-get-you-all-the-way-naked-so-I-won't-bother sex she had with Kiba. That was sweaty. And breathless. Really, really breathless. Ino chewed her bottom lip again, wondering if maybe she really should give the poor boy one more chance to leave her breathless, err... one more chance to love her. And leave her breathless.

She thought again of her new love, her soul mate. Sai was such a gentle lover she could easily fall asleep in his arms, sometimes even drifting off in the middle of his tender lovemaking. (Tender was better than sweaty wasn't it?)

But Sai made art of her, for her, with her. He made beautiful, enduring portraits that would last just as surely as their love would last (and certainly a lot longer than his relationship with Sakura had lasted - he'd already painted more pictures of her than he ever had painted of Forehead!) His art was as enduring as it was beautiful just as their love was as eternal as she was beautiful. Yes. She was meant to be with Sai. She'd just have to make Kiba understand.

Earlier she had tried explaining the whole thing to her teammates but Shikamaru fell asleep and Chouji looked...hurt...for some reason. Stupid boys. They should just make all-kunoichi teams then she'd have some teammates who understood her, who would listen to her and confirm that she was indeed making the best decision.

She inhaled sharply. There Kiba stood, across the street in front of her. It was now or never.

He flashed that crooked little smile at her that revealed the sharp tips of his teeth that felt so good when he nipped just right... Her knees went a little weak as she remembered his husky voice teasing her, promising to make her howl at the moon all night long. A promise he had most definitely kept.

'Now or never' she chided herself as she crossed the street to speak with him.

"Hey, Ino," he said reaching to take her hand.

"Kiba, we need to talk," she interrupted, determined not to let him get a kiss in because she knew it would be kinder this way and she was afraid of her wobbly knees from a moment ago.

"Okay, shoot," he replied, waiting for her to say whatever was on her mind.

She could hardly bring herself to look at him, so trusting, so loyal, so devoted to her. It was cruel but it had to be done.

"Kiba we...we can't go on...now don't stop me let me finish...it's really better this way... I know you must feel it too just like I do I mean the sex is great and all and you're really a great guy and I've really enjoyed our time together but sometimes it's time to move on and you know unfortunately sometimes one person just realizes that before the other person does and that hurts the other person but they'll get over it because there's something more waiting for them because there just has to be and I know you know what I'm talking about and oh I'm so sorry to have to do this but well you know that's just he way that it is no maybe you don't know so it's like you know there's a princess in the castle and she's waiting to be rescued and the prince comes along and it's not just any old prince but it's got to be THE prince the right one the one just for her and it's usually the one on the white horse like in the movies you do see what I'm saying don't you?"

Bewildered, Kiba just looked at her with his head cocked to one side and said, "Umm...yeah...I think so?"

At this Ino nearly cried because it was just too sad and too poignant and too heartbreaking. The poor boy was so devastated that he couldn't even begin to comprehend what she meant. It was denial, she knew it, he was refusing to accept the inevitable. She'd just have to try harder to explain it to him.

"It's the prince on the white horse, Kiba, it has to be don't you see? It can't just be the prince on the brown horse or the black horse or the tan horse but only the white horse. Because that's the prince that's meant to be, not that the others are any less princes because they are just like you are a really great guy honest I mean that but just you know not with the white horse like the fairy tale and then The End but this isn't The End because this is over well of course that means 'this' is at an end as in us but not 'The End' as in the end of the story where the prince rides off with the princess on the white horse, don't you see? And there was a time when I would have thought that Sasuke was the one with the white horse but he's not you know obviously he's like the dark wizard in the tower now but of course that's beside the point but still not because he's not riding in on a white horse either. "

"Ino? Do you want to break up? Is that what this is about?"

There it was again, that look of confusion in his eyes as if he couldn't bring himself to acknowledge the truth of the matter. Ino nearly sobbed out loud to think how much his heart must be breaking over what he was hearing. And the poor boy was masking his pain with feigned confusion and bewilderment.

"Yes," she did sob this time as she said it, "Yes, Kiba, I do."

"Well, okay, then Ino. If that's what you want."

"Really," she looked up at him through tear stained lashes. She'd cried just enough so that her eyes were sparkling wet with tears but not so much to let her face get blotchy. "Really, you mean, you...understand?"

"Look, Ino, it was fun while it lasted. You're a great girl. But you know, if you want to move on I understand. If it doesn't work out, give me a call, okay?"

"Oh, Kiba," she threw herself into his arms and for a moment she'd forgotten how strong they were, how broad his shoulders and chest were, how good he smelled, how he held her so tight...

Kiba was patting her on the back now as she reluctantly disentangled herself from him. "Okay, well, see ya around, Ino." He waved as he turned to walk up the street.

Ino watched him walk off into the sunset, so tall and strong, bearing his grief so stoically that anyone who didn't know the truth of the situation might not be able to see just how devastated he really was.

Ino went back home and cried for the rest of the evening going through one whole box of chocolates and one box of tissues as she tried to process just how much grief she had caused Kiba.

Meanwhile, Kiba went out to dinner with Shino and Hinata.

A couple of weeks later, Kiba happened to draw a mission assignment out of town with Shikamaru. While they were traveling, Kiba asked, "Hey, Shikamaru, you've known Ino a long time. Did she like, ever have a white pony or something?"

"Not to my knowledge. Why?"

"Ehh," Kiba shrugged. "Just wondering."

Valentine Chocolate

From Neptune: Mmmm, this story is very short. that's no prob... cause this story very funny

Title: Valentine Chocolate

Author: sakurachrys

-------------------------------------

Disclaimer:

I do not own the Naruto character’s, I’m just borrowing them for my story. So please, don’t sue me.

Thank you.

------------------------------------

He’s the hottest bachelor in Konohagure,

He’s the so called prodigy of the century,

He’s one of the strongest nin in Konoha,

He’s the youngest ANBU Captain,

The future heir of the Uchiha Clan

The one and only Uchiha Itachi.

In short he is God’s gift to both men and women…

So how come he is stuck in a kitchen wearing a pink frilly apron, melting a stupid concoction that caused nightmares to half of the Uchiha men

How?

It’s because of a big irresistible emerald colored puppy eye look from a certain pink haired angel of his, that’s how.

“Itachi-san! Your so cool!” the pink haired angel exclaimed

“Hn.”

“You really are a life saver you know Itachi-san, I wouldn’t know what to do if you were not here to teach me.”

“It’s nothing… though I wonder why can’t you just buy one from the store?” Itachi asked as he looked… ahem glared down at the melting concoction that seemed to mock him

“I would… but I wanted to give someone a homemade chocolate for Valentine ’s Day…” the pink haired girl said shyly, oblivious of the silent raging anger that seemed to emit from Itachi

“Do I know this person?”

“Yup, you know him very well.”

“Tell me his name, Sakura…” Itachi said and then thought at the same time ‘So that I may kill him and never bother you again’

“It’s a secret, Itachi-san.” Sakura replied as she gave him a huge smile

Never in his life time he feel so torn, torn between destroying the guy that made her smile and keeping her smile. Atleast he could put all his anger in the stupid concoction that keep on mocking his dilemma.

How he wish he could just chuck out the stupid thing out of the window and just disappear and train… atleast that will relieve him of his current stress.

“Yum, its really delicious!” Sakura exclaimed as she tasted the chocolate Itachi had been melting. “Here, taste it!” she continued as she offered her chocolate covered finger

Itachi blinked twice and looked at her innocent face and then at the chocolate delight… gulped and then looked at her again, uncertain if he really should

“Don’t worry, I cleaned my hands.” Sakura said cheerily as she offered her finger near his lips

Itachi prayed for control and then took her finger in his mouth. It was heaven and hell at the same moment… really heaven and hell… having the chocolate slowly melt in his mouth as his tongue touched her little finger locked between his lips as he watched her mouth open as if in response to his touch…

And then he let go… he could not trust himself to go on further, as he savored the taste of the mix taste of chocolate and her scent

“Yes… it is delicious…” Itachi said gruffly as he turned his back away from Sakura to compose himself again

Unbeknownst to him, Sakura blushed after he released her finger and smiled softly while she held her finger close to her heart… before blurting out… “It’s for you…”

Itachi turned and then looked at the blushing Sakura and then at the chocolate that had tormented him, “Can you say that again?” his eyes suddenly turning red

“I was planning to give you the chocolate for Valentine ’s Day… but I was not good at it…” Sakura explained, bowing her head in shame unable to look at Itachi’s glaring red eyes

Itachi could not describe the feeling that rushed through him like a train, “Why?” he asked gruffly as he studied her features

“It’s because I really like you Itachi-san… I really do… Ino told me that…” Sakura stuttred before Itachi grabbed her and pulled her in a tight embrace, “Itachi-san?”

“Say it again, Sakura…” Itachi demanded, his sharingan eyes looked straight at her emerald colored eyes, “Say it!”

“I like you… I really like you Itachi…” Sakura replied before Itachi’s mouth covered hers, kissing her senseless

He kissed her with all the passion that he had kept, before he broke their kiss and cradled her face, “As I like you too…” he whispered before he noticed the bowl of chocolate that still seemed to mock him for his insecurity

Itachi grabbed the bowl, finally lowering himself to his own childishness before chucking out the chocolate concoction out of the window

“Itachi!” Sakura wailed, “Why did you do that?”

“It annoyed me… besides I already have what I want for Valentine’s.” Itachi said before kissing Sakura again

--------------------------------

The Things We Do For Love

The Things We Do For Love
Author: Sanshain

Rated for some swearing. Drabble-ish. Just something to ease me in to writing for the fandom again.


The first time it happened, Naruto nearly rasenganed his teammate and Sasuke hadn’t even known. Naruto had thought they were being attacked, and it was probably a good thing Sasuke was asleep because he was sure his manly yell was more of a girly shriek. In any case, he let his rasengan dissipate and shoved Sasuke back to his side of their tent, and his teammate still didn’t wake. Naruto thought that was a little alarming. Sasuke was a ninja after all and being such a heavy sleeper in the shinobi’s line of work was pretty much on par with potential suicide…or murder-suicide considering the threat to teammates as well. As such, Naruto thought it prudent to make sure Sasuke got plenty of sleep during missions, because certainly the last thing he needed was Uchiha to fall asleep if he needed to keep watch. Then, apparently, Naruto’s first sign of knowing they were in danger would be an enemy’s kunai in his neck while Sasuke snoozed blissfully unawares. He might have found the newfound fault endearingly human and kind of amusing if it wasn’t so damn worrying and hazardous. Though Uchiha’s death sleep was a second-hand discovery of learning that his teammate was some sort of affectionate cuddle machine in his sleep. Naruto had woken up when an arm squeezed his waist, and predictably yelled. After nearly killing Sasuke, he had discovered it was only Sasuke, making himself cosy against Naruto. Naruto also wondered over the distance his teammate had migrated to wind up so close anyway, staring at the sizable three foot space that separated their bed rolls as well the obstacles in that space…including their backpacks, strewn clothes they hadn’t bothered to pack away and the occasional shuriken or kunai that hadn’t been stored properly.

So the first time Sasuke sleep-cuddled him was a little out of the ordinary, but only memorable due to the fact that Naruto was floored that his teammate didn’t wake from his yell, churning chakra and not particularly gentle shove.

The second time it happened was during a short stop over at Wave Country to visit Inari a few weeks later. They were sleeping on tatami mats in Tsunami’s living room when Naruto again woke immediately from a weight pressed in to his side. The pair had shared a couple of drinks with Tazuna in a sort of celebratory farewell so Naruto’s reaction was much more subdued this time round, plied as he was with a reasonable amount of alcohol. Thus, he blearily pushed Sasuke back to his own mat and returned to sleep almost immediately, wondering why this problem hadn’t cropped up in their genin days. Not really remembering the occurrence the next day, Naruto was not yet aware of a problem.

The third time Sasuke breached his sleep space was also the moment Naruto discovered why it hadn’t been an issue when they were younger. They were at Sakura’s, crashing in her lounge after a small get-together for her birthday. Naruto woke when a hand smacked him in the face before settling to rest on his neck. Sasuke’s fingers were freezing, and Naruto realised that Uchiha himself was shivering slightly. Not that Naruto felt much sympathy because if the guy just stayed in his own bed, there wouldn’t be a problem. But, while rolling Sasuke back to his own space, he realised his teammate was too tall for the sleeping bag he’d had ever since Naruto had known him. Obviously he didn’t bother to zip it up around him anymore because his chest and shoulders wouldn’t be covered. So Naruto made a mental note to buy the stupid bastard a new goddamn sleeping bag so he could zip up and stay put, and perhaps a foghorn to wake Sasuke in emergencies…and sometimes just for shits and giggles.

The real problems emerged when Sasuke began boarding with Naruto after his house was destroyed during a short skirmish on the village. When Sasuke needed a place to stay, Naruto hadn’t even hesitated in offering to share his place. But when he woke to Sasuke spooning him, he began to harbour some second thoughts over the situation. Firstly, and this was probably the most concerning, Uchiha’s temporary bed was the futon in the lounge room. Not a big deal, perhaps, until one considered the kitchen, hallway and door that separated Naruto’s bedroom from Naruto’s lounge room. His teammate was immediately pushed out of bed which, surprisingly, did have the effect of waking Sasuke. Staring down at the confused teen sprawled on his bedroom floor, Naruto wasn’t quite sure how to broach the subject.

“Go back to bed,” he eventually settled on.

Sasuke mumbled something sleepily and headed back to his futon, but after that Naruto started locking his bedroom door.

Still, it wasn’t a firmly ingrained habit, and so a couple of nights later he forgot. This had the not particularly unexpected outcome of waking to find Sasuke climbing over him to squish in to the free space between Naruto and the wall.

“What the fuck,” said Naruto, since it was clear that his teammate was, in fact, very much awake, “are you doing?”

“Hm,” said Sasuke, and seemed to think that was the end of the conversation.

He stole some of the bedsheets and pulled them up to his chin, cramming himself against Naruto’s side. Naruto’s single bed was perhaps a tad on the small side in terms of accommodating two built shinobi, but this seemed to do little in deterring Sasuke. When his teammate made no signs of leaving or being persuaded to get the fuck out, Naruto hmphed and got comfortable in his much tinier space, not minding Sasuke’s presence quite as much as he imagined he would.

Sasuke sighed with relief when Naruto finally relented. He was fairly certain his life had been in danger several times over the past few months, but the wear-em-down-til-they-eventually-cave approach he’d seen Lee successfully use on Sakura seemed to have merit. Now Sasuke hoped it wouldn’t take nearly as long to get Naruto coming to bed naked.


Condoms

from neptune: i don't know what i think about this story, but after i read it... it's so funny

Condoms

author: YumiXD

it's complicated. Trust me.



"Eto....Naruto-chan, what's that you're holding?" A 6yr old Hinata asked curiosly, while eying the foreign, circular object that rested on Naruto's palm.

"Ahh! Hinata chan! This?"A 7 yr, old Naruto asked, pointing at his palm then grinned like an idiot. "This is a condom!"

Hinata tilted her head to her side, confusion still present in her face. "A condom?"

Naruto nodded his head in response, still grinning. "Hai, a condom"

"What does it do?"

This time, Naruto stopped grinning as confusion crept to him also "Actually, I dont know Hinata-chan..."

"Then why'd you buy it?"

"Ehh.... Kakashi told me to buy it!"Naruto smiled "Besides, I'll get free Ramens for the whole week!!!" he exclaimed happily, pumping his fist into the air.

Hinata still had her attention to the small, foreign object. "Maybe it's a candy" she whispered, but loud enough for Naruto to hear as she scrutinized the circular shape the seemed to resemble her favorite candy.

Naruto shook his head, as if rejecting her idea. "No, Hinata-chan! When I bought it from the convenience store, the man was looking at me weirdly and muttered something about 'kids these days...' yadayada, so it couldn't have been a candy because when people buy candies, they're suppose to be super happy! But that man was not!"

"Ohh.... I see, you're right. Maybe it's a spooky circular toy thingy!"suggested Hinata

"You're right! Hinata! Why else would Kakashi want that thing?" Naruto frowned "But just to make sure, we must open it!"

Her face lit up immediately from his brilliant idea. "Hai!"

Naruto began biting the plastic wrapper off. "this will take a second" he said as he raised one finger up. "Okay it's done!"

"Wow...." Hinata was the first to react. "It........"

"stretches." Naruto contined for her then grinned.

"Ohhh.... so condom in other words is a...."

"Balloon" they both said in chorus

"Awesome!" Naruto exclaimed joyfully. "We should tell Kurenai-sensei!"

Hinata gave him a confused expression "Why?"

"Have you already forgotten? Kurenai loves balloons..."

"Oh right! we should tell the other kids as well"

fin