Advertising by :

Advertisement

Friday, January 9, 2009

The Moonlight Smile

Language: Indonesia
Author: Karupin.69

A/N Hem, kali ini pairninngnya NejiTen. Sekali-kali pairing lain ah, masa SaiIno mulu =p Genrenya romance nih, gak ada humornya sama sekali. OOC pula. Hoho. Happy reading ;)

Disclaimer Yang nggak tau, pasti nggak lulus TK. -ehem- Oke, Kishimoto Masashi.


The Moonlight Smile


Neji merogoh kantung celananya untuk mengambil kunci apartemennya. Seteleah mendapatinya ia membuka pintu kayu yang berderit ketika dibuka. Kemudian meraba tembok dalam kegelapan untuk mencari sakelar. Lampu menyala, terlihat sebuah sofa tua yang kainnya sudah bolong-bolong sampai busanya kelihatan berdiri dengan lusuhnya di tengah ruangan yang kecil, ruang tamu apartemen Neji.

Di sana hanya ada sofa, kemudian meja kecil yang penuh tumpukan buku yang diberi tanda oleh kertas-kertas di halaman yang penting—dari sini terlihat sekali bahwa Neji merupakan orang yang rajin belajar—dan beberapa kaleng soft drink kosong. Ruang tamunya memang tidak seberantakan kamarnya. Yah, maklum lah. Anak lelaki. Semua orang pasti takkan percaya bahwa yang tingal di sini adalah seorang Neji Hyuuga yang anggun. Bahkan Shikamaru sempat mengira bahwa tidak hanya dia saja yang tinggal di sini. Tingkat keberantakannya hampir selevel di bawah Naruto, sih.

Ia meletakkan tas ranselnya ke sofa dan menyeret dirinya ke kamar mandi. Ia memutar keran wastafel, namun tidak ada air yang mengalir dari sana. Ia mencoba membuka keran bak mandi, tidak ada juga. Kemudian ia baru ingat bahwa dia belum membayar biaya air untuk bulan ini. Ck, beginilah derita seorang mahasiswa malang yang tinggal terpisah dari keluarganya.

Neji kembali ke ruang tamu, duduk di sofa, dan merebahkan dirinya setelah membuka sepatu kedsnya. Ia sempat berpikir, menyesal juga ia menolak tawaran pamannya untuk dibiayai. Tapi bagaimanapun juga, ia samasekali tak ingin merepotkan keluarganya meski ia tahu harta keluarga mereka lebih dari cukup jika hanya untuk membiayai perkuliahannya.

Namun, sekali lagi, Neji tak ingin merepotkan mereka. Ia sudah kenyang dengan kenikmatan dirinya selama masih tinggal di Hyuuga Mansion, lebih dari cukup malah. Dia ingin merasakan bagaimana rasanya menjadi mahasiswa biasa—kost, kerja part-time, tinggal sendiri, belajar mandiri, dan mencoba untuk tidak menggantungkan dirinya pada orang lain.

Ternyata begini, menjadi orang biasa. Tinggal di rumah seadanya, makanan seadanya, belum harus bayar sewa ini itu. Akhirnya ia mengerti bagaimana gigihnya Rock Lee berlatih karate demi mendapat beasiswa untuk belajar di luar negeri, bertanding dengan lawan-lawan yang tangguh agar cita-cita gurunya tercapai.

Segala sesuatu memang butuh pengorbanan, Neji.

Neji berjalan ke arah dapur, membuka kulkas yang ternyata isinya tinggal sebuah telur dan dua kaleng jus jeruk. Apa-apaan ini? Seingatnya, kemarin isi kulkas masih penuh. Pastilah semua makanan diembat olah Naruto dan Chouji saat mereka main kemari tempo hari. Tapi tepat sebelum perutnya keruyukan, ia mendengar pintu kayunya diketuk.

“Siapa?”

Tidak ada jawaban.

Neji perlahan membuka pintunya, kemudian melihat sesosok yang amat dikenalnya, namun sedikit berbeda dengan terakhir mereka bertemu.

“Tenten?”

Seorang gadis beambut coklat seleher yang potongannya mirip anak lelaki itu mengangguk, kemudian tersenyum dan mengangguk.

“Halo, Neji. Lama tak bertemu.”

Neji menoleh pada belakang punggung dirinya, mendapati ruangan yang sangat berantakan untuk seorang gadis yang akan duduk di sana.

Sepertinya jangan di sini, batinnya.

“Bagaimana kalau kita ke taman?”


Matahari sudah menenggelamkan dirinya di ufuk Barat, kemudian langit menjadi gelap dan dicahayai oleh bulan. Sungguh beruntung, malam ini tak berawan. Jadi bintang-bintang terlihat sangat jelas.

Di taman, sepertinya masih ada seorang bocah lima tahunan bandel yang sedang bermain ayunan. Ibunya sudah merayu atau melakukan hal apapun agar anaknya mau pulang, tetapi sepertinya si anak tak mau menurut. Terlihat dari gelagatnya—menggeleng-gelengkan kepala sambil berteriak.

Pemandangan tersebut sudah terlihat saat Neji dan Tenten hampir mendekati taman tersebut. Dengan Neji berjalan di depan dan tak lupa kedua tangan dimasukkan ke dalam saku, Tenten mengikutinya dari belakang.

“Huatchi!” Tenten bersin, Neji mendelik ke arahnya.

“Kau tak apa?” katanya sambil membuka syal biru dongkernya dan melingkarkannya pada Tenten.

“Trims,” sekilas, Neji melihat pipi Tenten merona.

Tenten yang kasihan pada si ibu, langsung menghampiri si ibu dan anaknya dengan berlari kecil. Neji mengikutinya dari belakang.

Tenten. Wanita ini tidak banyak berubah, matanya, hidungnya, gaya berpakaiannya—kaus, cardigan, skinny jeans, dan tak lupa sepatu keds kebanggaannya yang sudah sering Neji lihat sejak zaman SMA. Yang berubah hanya gaya rambutnya saja, tak ada lagi dua cepolan di kepalanya—yang berarti tak bisa diejek ‘panda’ lagi oleh Neji—dan malah potongan rambut anak lelaki. Sungguh mencerminkan dirinya yag tomboy itu. Oh, dia juga bertambah tinggi…

…dan cantik.

“Halo, adik manis…” Sapa tenten setengah membungkuk agar bisa sejajar dengan adik kecil itu. Bocah lelaki itu cemberut, membuang mukanya ke samping.

“Nak, ayolah pulang, sudah malam.” Si ibu berkata dengan pelan. “Tuh, malam-malam begini bukan anak-anak yang main, tapi kakak-kakak!”

“Iya dik, sekarang sudah malam, dengarkan kata ibumu. Ayahmu menunggu di rumah, kan?” bujuk Tenten. Namun sepertinya tidak berhasil. Si anak tetap saja cemberut. Tangan dilipat di dadanya. “Nggak mau! Aku nggak mau pulang sebelum Mama bilang kenapa Pakkun dikasiin ke orang!”

Pakkun?

“Aduh Konohamaru-chan, itu kan gogoknya galak, belum disuntik rabies. Gimana coba kalau kamu digigit? Nanti Mama beliin gogok yang baru aja ya?”

Si anak tampak berpikir, “Nggak mau, nggak mau gogok! Pinginnya babi! Nanti kalo Kono punya babi, mau dikasih nama Ten… eh, Tonton!”

Si ibu cengo. “I, iya, boleh deh.”

Si anak yang dipanggil Konohamaru pun sekarang nyengir lebar. Senyuman Tenten saja sampai kalah lebarnya dengan cengiran bocah itu.

“Nah, gitu dong dik, harus nurut sama Mama! Nih, kakak kasih permen,” kata Tenten samibil memberikan permen Dolia rasa mint beberapa bungkus pada anak itu.

Konohamaru semakin senang, “Iya, makasih Tante! Yuk, Ma!” katanya sambil menarik ibunya. Si ibu menundukkan sedikit kepalanya tertanda terima kasih. Tenten melambai pada mereka dan tertawa.

“Ada-ada saja… Pasti Pakkun yang itu, kan? Ckck… Lagipula, mengapa harus 'Tante'?” Tenten menggeleng sambil tertawa.

Neji mendekati Tenten, “Kau belum berubah, ternyata.”

Tenten memiringkan kepalanya pertanda tidak mengerti.

“Senyumanmu.”

Sesaat, mereka saling tatapan, namun mereka segera menyadari perbuatannya, kemudian Tenten mengajak Neji untuk duduk di bangku terdekat. “Du-duduk yuk?”

“I-iya…” Neji menggaruk belakangnya.


“Dari mana kau tahu alamat rumahku?” katanya sambil menatap kolam yang dihiasi dengan riakan air mancur.

Tenten mencoba tersenyum, “Hinata,” kemudian Tenten berdiri, dan bergerak mengitari kolam yang berbentuk lingkaran itu. “Kenapa memang? Kau tidak senang aku datang menemuimu?” Tenten duduk di sisi kolam, kemuadian memainkan tangannya ke dalam air.

Neji menatap Tenten dengan alis berkedut, “Tidak, tentu tidak.”

Tenten tersenyum dan mendekati Neji, “Kalau begitu, mengapa kau sedingin itu padaku? Kau marah ya karena kau tak kuberi kabar?”

Tadinya Neji ingin menjawab ‘Ya’, namun kata itu ia telan saja dan malah melontarkan “Tidak.”

Ya, ya. Sebenarnya Neji sangat kesal mengapa Tenten tak pernah menghubunginya selama beberapa tahun ini. Tenten hanya mengirim e-mail tiga bulan sekali, itupun kecil kemungkinan. Tenten sebenarnya sibuk kuliah, lagipula jauh, di luar kota. Neji menunduk, segera menghentikan pikirannya itu.

“Bagaimana… tunanganmu itu?”

Tenten diam sebentar, “Oh, maksudmu Kosuke? Dia baik-baik saja… awalnya memang agak canggung, sih, tapi hubungan kami semakin membaik. Toh kami sekarang sudah lumayan dekat. Tapi aku tidak tahan dengannya yang mesum itu… hii…” Kata Tenten sambil menduduki dirinya kembali di sebelah Neji dan bergidik.

Neji agak canggung juga mendengarnya, “Oh, begitu. Lalu, apa dia tidak marah kau menemuiku? Kita kan…”

“Tentu saja ia tidak marah.” Potong Tenten. “Dia bukan tipe orang yang akan marah begitu saja. Tepatnya sih, dia memang tak terlalu peduli padaku.” Tatapan lembut Tenten memaksa Neji untuk berpaling padanya, Tenten tersenyum lagi, “Padahal, aku pergi menemui mantan pacarku.”

Neji agak tercekat mendengar kata ‘mantan pacar’. Namun ia hanya diam, kembali menundukkan wajahnya.

“Kau ini, jahat sekali.” Tenten menyenggol siku Neji. “Bukannya menanyakan kabarku, malah menanyakan kabar tunanganku yang aneh itu. Apa kau telah berubah kiblat menjadi gay? Haha, tidak, kan?”

Mau tak mau Neji menaikkan ujung bibirnya, merasa bahwa Tenten sedang menghiburnya yang tengah tertunduk lesu ini.

“Ya, ya, maafkan aku. Bagaimana kabarmu?” Selalu seperti itu. Neji memang agak lemah terhadap wanita. Itu dia yang membuatnya tak tertarik pada wanita seperti lelaki kebanyakan. Tapi bukan berarti dia gay, dia hanya tak punya waktu untuk memikirkan makhluk manis bernama wanita. Dia kurang klop dengan wanita. Padahal, dia sendiri tidak tahu bahwa di belakang sana banyak sekali cewek-cewek yang mendirikan fans club dirinya.

Tapi hal itu tak berlaku untuk Tenten. Entah mengapa, Neji merasa nyaman jika berada di dekatnya. Apa karena ia sudah melawatkan banyak waktu bersama Tenten, Rock Lee, dan yang lainnya pada masa-masa sekolah dulu? Apa karena Tenten memang tipe perempuan yang berbeda dalam arti positif di mata Neji? Kenyataannya, keduanya menamg benar.

Tenten, Neji, dan Rock Lee. Merupakan tiga sekawan yang sulit dipisahkan. Meskipun sifat Neji dan Lee yang seperti langit dan bumi, serta Tenten si penengah yang bijaksana, mereka tetap bersahabat. Ketiganya sulit dipisahkan. Sehari tanpa Lee, sepi sekali rasanya. Sehari tanpa Tenten, guru Gai pasti repot untuk melerai adu mulut Lee dan Neji. Sehari tanpa Neji, segala kegiatan mereka pasti kacau karena tak ada mandornya. Jadi intinya, ketiganya saling membutuhkan.

Sampai SMA, mereka selalu bersama. Lee akhirnya telah meraih kemenangan masa mudanya, kerena dirinya telah mendapatkan hati gadis berambut pink bernama Haruno Sakura. Teman-temannya yang lain pun sama, ada Sai dan Ino yang-selalu-kompak dengan memakai atasan—er, tengahan serba terbuka, kemudian bocah Uzumaki yang akhirnya bersanding dengan adik sepupunya.

Namun malang bagi dirinya. Tenten, dengan senyumnya seperti malaikat yang selalu melekat di hati Neji, harus meneruskan usaha keluargnya, Panda Corporation, dengan cara menjalin hubungan dengan perusahaan lain dengan cara menikahkan kedua anak mereka. Pernikahan bisnis, yeah.

Padahal, Neji belum sempat mengatakan ‘suka’ pada Tenten walaupun kedengarannya akan sangat menjadi aneh, Tenten keburu dijodohkan—dan bertunangan dengan orang yang samasekali tak ia kenal. Ya, aneh memang, seorang Hyuuga Neji yang pendiam-serius-berwajahdingin seperti itu malah berkata soal cinta. Untung saja Sasuke berada di luar negeri, jadi tak ada yang bisa menyaingi wibawanya. Oh, kecuali dengan anak pindahan dari Suna yang tak beralis itu. Musuh abadinya.

Tapi toh, Neji rela kehilangan imejnya sebagai lelaki pendiam-serius-berwajah dingin demi Tenten. Selama sebulan mereka sempat pacaran. Meski agak canggung, sih. Bayangkan saja, sudah bertahun-tahun mereka sahabatan, tiba-tiba mereka pacaran. Waktu sahabatan saja sudah canggung, apalagi saat pacaran...

Maka dari itu, Tenten memutuskan hubungan mereka dan berkata bahwa ia akan berusaha untuk klop dengan calon suaminya. Neji sedikit kecewa, namun begitulah kenyataanya. Kenyataan bahwa dia menjadi sebodoh ini gara-gara cinta. Tahu bakalan menjadi seperti itu,lebih baik ia tak usah mengatakan ‘suka’ pada Tenten.

“Kau tak lihat, apa?” kata Tenten dengan nada riangnya seperti biasa. “Tentu aku baik-baik saja! Aku sehat wal afiat, lho. Justru kau yang bertambah kurus. Apa kau makan dengan benar?”

Ya, ya. Hal inilah yang membuat Neji menyukai Tenten. Tenten sangat perhatian pada neji, bahkan melebihi perhatian Hinata padanya. Tenten tahu, bahwa dalam rumah tangganya, Neji bisa dibilang menjadi pilar utamanya. Peran dia sungguh besar. Belum lagi dengan otak encer Neji yang dalam beberapa tahun lagi, pasti dia akan menjadi direktur hebat Hyuuga Corporation. Maka, Neji disuruh sekolah, menuntut ilmu setinggi-tingginya oleh keluarganya agar bisa menjadi direktur yang handal. Sampai-sampai ia tak pandai mengurus dirinya sendiri. Kalau saja Hinata tak mengantarkan makanan padanya—ketika ia masih tinggal di rumah—maka Neji akan terus duduk di depan mejanya, menghadapi layar komputer sambil memakai kacamata minusnya.

“Apa, makan? Um, yah, begitulah.” Kata Neji asal. Padahal Neji sendiri sudah lupa dengan menu makanan empat sehat lima sempurna dan gizi-gizi yang diperlukan tubuh. Dia asal makan saja. Ditraktir ramen oleh Naruto, dia tak bisa menolak. Makan bakso pinggir jalan bersama Chouji, pun tak apa-apa. Bahkan makan nasi padang bersama Kiba di warung sebelah komplek pun ia mau-mau saja. Lupakan gengsi, ingatlah perut. Yah, meski ia tak yakin bahwa asupan makanan yang ia makan itu sehat-bergizi atau tidak.

“Hm, aku tak yakin. Kau pasti makan sembrono, gara-gara diajak makan dimana saja oleh Chouji atau yang lainnya. Yaah, sayang sekali aku kuliah jauh dari kalian, jadi aku tak bisa mengawasimu.” Tenten tersenyum lagi sambil mengayun-ayunkan kakinya seperti anak kecil.

Sekejap, Neji merasa kupingnya panas. Ia tahu wajahnya memerah karena menyadari bahwa Tenten masih memperhatikannya. Tapi untung, cahaya minim di taman membuat semburat merah yang mampu membuat semua cewek jatuh hati karena keimutan Neji ini menyembunyikannya.

“Hn, ya, trims. Ternyata kau masih memperhatikan aku juga, ya?” Neji berdiri, kembali meletakkan tangannya di kedua sakunya dan menadah ke langit. “Kupikir, kau sudah tak peduli lagi padaku. Seperti matahari yang sudah tak peduli lagi pada manusia di Bumi dan menelantarkan bulan begitu saja. Kehilangan cahayanya.” Neji mulai bersikap sok dramatis dengan menunjuk bulan. Ia menatap Tenten dengan senyum mengambang di wajahnya. Dan untuk pertama kalinya, tatapan mereka berdua terkunci satu sama lain.

“Tentu saja aku masih memikirkanmu,” Tenten ikut berdiri, kemudian melingkarkan lengannnya pada pinggang Neji dari belakang. Neji merasa jantungnya berdebar lebih kencang dari tadi, tapi dia tak menghiraukannya. Bukankah begini rasanya berada di dekat orang yang disukai?

Katanya sih begitu.

“Tentu saja, Neji.” Tenten menenggelamkan kepalanya di punggung Neji.

“Karena aku masih mencintaimu…”

Sekali ini saja, Neji ingin waktu berhenti, dan kalimat terakhir Tenten barusan ingin ia terus menerus sampai suaranya habis.

Karena aku masih mencintaimu…

Tenten dapat mendengar detak jantung Neji yang semakin kencang, kemudian terkikik di balik punggung besar Neji.

Semilir angin malam berhembus, dingin, namun menyejukkan. Rambut gondrong Neji yang diikat bergoyang, rerumputan bergemerisik, meninggalkan suara merdu di malam hari yang menentramkan hati. Belum lagi gemercik air mancur, suara burung hantu yang ikut menyanyikan nyanyian malam. Damai, dan menyejukkan.

Tenten menutup matanya, begitu pula Neji. Perlahan, Neji menggenggam tangan Tenten. Tenten merasa seperti tersengat listrik cinta ketika tangan mereka bersentuhan. Kemudian Neji berputar, dan memeluk Tenten dengan erat. Tangannya ia lingkarkan di pinggang Tenten, dan Tenten sendiri melingkarkan lengannya di leher Neji.

Keduanya bertatapan, kemudian menutup mata dan saling menekankan bibir.

Kecupan itu berlangsung cukup lama, Neji dan Tenten saling menjauh dan membuang mukanya masing-masing. Malu memperlihatkan wajah merah mereka.

“Ma-maaf…” Tenten memulai duluan.

Neji menggaruk kepalanya lagi, kemudian ia tertawa. Tenten sampai bengong melihatnya. “Ne-Neji?”

“Ha? A-ah, tidak… aku hanya ingin bilang, aku… aku juga masih cinta kamu.”

Tenten menutup mulutnya dengan tangannya, kemudian loncat kegirangan lalu menyerbu Neji. “Haha, terima kasih!”

Neji hampir jatuh tiba-tiba dipeluk Tenten seperti itu, tetapi toh ia akhirnya mengelus kepala Tenten dan mengecupnya. “Hei, hei, mana cepolmu, Panda?”

“Ah, begini. Kemarin-kemarin rambutku kena permen karet, tidak bisa dihilangkan, jadi kupotong saja sekalian.” Jelasnya. Neji mengangguk, kemudian merangkulnya seraya kembali berjalan ke apartemen bobrok Neji.

“Yah, tak apalah.”

“Eh, ano, tapi aku bawa ini, kok!” Tenten mengambil bando dengan hiasan kuping Mickey Mouse dari dalam tasnya, lalu memakainya. “Lihat, seperti aku yang dulu, kan?” katanya dengan senyum lebar.

Neji tersenyum melihatnya, kemuadian mengacak-acak rambutnya. “Kau ini, dasar. Ayo, temani aku belanja camilan dan bantu aku bereskan apartemen bobrok itu.”

“Dengan senang hati!” katanya sambil meninju udara.

Seketika, mereka lupa status masing-masing. Lupa akan status Tenten sebagai tunangan Kosuke. Lupa akan tugas-tugas Neji yang menumpuk saking senagnya mereka saat itu. sampai-sampai mereka tidak menyadari bahwa di balik pohon ada beberapa orang yang mengintip mereka.


Chouji menangis sambil mengunyah keripik kentangnya, “Ya ampun, so sweet banget…”

“Huah, merepotkan. Kenapa harus mengintip begini, sih?” katan Shikamaru sebelum menguap dan mengorek telinganya dengan kelingking.

“Wah, harus ngabarin si Teme, nih!” kata Naruto semangat. "Woi Chouji! Jangan dorong-dorong dong! Barat tau!"

“Hei, hei, harusnya kan kita bikin tugas di rumahku, kenapa jadi begini?” kata Shino sambil membetulkan kacamata hitamnya. Sudah tahu malam hari, kenapa harus pakai kacamata, sih? Hitam pula.

“Aah, udahlah, sekali-sekali nonton romansa gratisan dong! Siaran langsung pula!” timpal Kiba. “Ya kan, Akamaru?”

“Guk!”

Akamaru pun sampai setuju.


F I N

sasunaru nontoon

Language: Indonesia

Author: Aiko-tantan

Disclaimer : saiaa.. ga pernah punya naruto… mo jungkir balik ampe pala saia di atas juga.. saia ga akan pna punya naruto… ga prcaya ?? Tanya gidah.. ama aa’ kishimoto…. Gih.. sono.. syuuh syuuh tanyaa… lgian ga prcaya ama saiaa…!!!

Summary : naruto diajak nonton ama sasuke.. gmn, tuhhh~~ XDDDD

Warning : yaaoi ?? iya.. yaoi… ga suka ??dngan berat badan, saia anjurkan untuk ga usa baca, d.. =_=”’… oyaa.. juga ada OOC dsnih.. =3

Nyaann~~ =3

Saiaa makluk baru ddunia perpenpikan… moon bantuaann~~

======----------------------===========

Di suatu pagi yang cerah, namun mendung… terlihat sebuah makhluk berambut duren kuning, berkulit kecoklatan,memakai baju terusan warna orange yang kaya dipake tukang sampah… [YA ENGGA, LAAA!!! Masa iya saia tega makein bju gtuan ke narutoo yayang saiiaaa !!! –dilempar kunai ama sasukampret~ ] ehem.. maksud saia.. naruto memakai kaos puti polos dan jaket orange kesukaannya.. dan.. bermuka yang amat sangat angat menyebalkan… hmm... kenapa dia bermuka seperti ituu ??? penasaraaaaann ???? ayo kita flashback~~~

~~~Flash back~~~

Kono gakuen... sekola super duper elit bin kaya.. yang Cuma bisa di huni ama beberapa anak” kong lo merat... [khekhe.. konglomerat.. maksud saia...] dan murit” super jenius.. nah.. mari[??] kita zoom~~

-Kono gakuen ~XI ips 2~-

Suasana kelas itu ribut.. super ribut.. amat ribut... sangat ribut.. [STOP! Iya tau.. ribut banget, kan ? =_=””]. Kita zoom di pojok kelas.. samping jendela… disitu ada 2 ekor spesies unik… 1 berambut duren kuning.. satu berambut pantat ayam item… si rambut duren bernama naruto uzumaki... dan yang berambut pantat ayam bernama sasuke uchiha..

Si naruto lagi asiikk melamun.. andaikaan aku menikah dengan rameen...~~~ sedangkan sasuke lagi sibuk nguprek di mejanya.. [seorang uchiha ? NGUPREK ?? waw..] dan tiba” si uchiha melempar sebuah tiket ke naruto yang lagi asik drooling...

”WAA!! Apaan nih !!! ”

”dobe... ”

”huh ? teme ?? naon ?”

”unn... ituu...” muka sasuke berblush”ria..

”hah ? ann.. unn... ann.. unn... gagu kamu ?”

”kaga, dobe ! err... nonton.. yu ?”

“………” naruto pun cengok.. mendengar.. SEORANG UCHIHA !! SASUKE !! mengajak naruto NONTON ??

”ya ?? pleease ???” dengan puppy eyesnya sasuke.. [hah ? kaya apa, tuh ?]

“nonton aap…” omongan naruto terputus saat melihat judul film yang akan ditonton…

’ROMEO AND JULIET’

”...........HAAAAAAAAAAAAAAAAAH ?????” naruto pun tereak selantang lantangnya... sehingga membuat kaca sekola pecah.. ampe ibu” hamil yang lagi lewat aja langsung berojol di tempat...

”SSSSSSTTT!!! Diem dobee !! ya ?? nonton, yaaa.... pliiss~~”

”err.. aa... i..ya.. deh..?” akhirnyaa.. naruto pun mau nonton dengan sasuke...

”eeh ? serius, nih ?? YATTAA!!!!” sang uchiha pun melompat lompat kegirangan... [SEORANG UCHIHA ?? O____o]. Yang ngeliat Cuma bisa sweatdrop doang..

”besok, yaa !! aku tunggu di depan bioskop!! Jam 2 siang !! ” sasuke pun jadi girang..

”eh ? jam 2 ? tapi, kan.. baru mulai.. jam.. 8..”

”kita jalan” aja duluu...~ santee... kaya dipantee..”

”err.. o.. ok.. ” naruto sweatdrop..

---~~ end of flashback~~~---

Dan.. disinilah naruto berdiri.. di depan bioskop… naruto berdiri.. sendirian.. menunggu sang uchiha... naruto pun melihat jam tangannya... sudah lewat 2 jam dari yang di janjikan....

oke.. sabar, naruto.. sabar.. bentar lagi si teme itu pasti datang.. sabar...”

Naruto menunggu....

3 detik.. 3 menit... 3 jam...

”AAAAAAAA!!!!!! INI KELAMAAANN!!! MANA SIH !! SI TEME ITUUU!!!!”

”dobee !! maaf lamaa !!!!” teriak sasuke dari kejauhan...

”TEMEEE!!!!! Kaauu laaam....” baru naruto ingin memarahi sasuke.. tiba” naruto cengo ngelliatin sasuke...

Oke... mari kita jabarkan... penampilan seorang sasuke hari ini..

Rambut... mantap seperti biasa.. pantat ayam itu semakin seksi... [hah ?]

Baju... sasuke memakai kemeja + kancingnya dibuka sebagian.. dan mengekspos badannya yang.. wuiihh... manyosss.... [makasii varaan-senpaai..~ X) mmberi saia ide buat bjuny c uchipret... ]

Celana.. sasuke memakai celana panjang warna item.. yang ngebuat ntu kaki kliatan makin seksii.. [aww..awww...]

”wah.. naruchan.. kamu lucu deh... ”kata sasuke dengan MANISNYA..

”hah ?? iya.. sasuke juga.. seksii.... ..HAH ?” naruto langsung ngebekep mulutnya dengan tangan.. dan ngeblush.. muka naruto sekarang mirip ama kepiting yang kelamaan dijemur.. eh.. direbus maksudnya...

”maafin aku, ya dobe... tadi aku bingung mau pake baju apa...”

”hm ?? i.. iyaa.. engga apa apa, ko sasuke... ” naruto masi blush..

”heemm... masih ada 3 jam lagi.. kita ngapain, yaa ?” naruto membuka pembicaraan...

”hmm... kemana, yaa ? ah... dobe.. kamu suka eskrim, kan ?”

”hah ? emm.. iya, sih.. kenapa ??”

”suka rasa apa ??”

”eng.. JERUK !!!” naruto menjawab dengan wajar SUPEERR IMUUT

MUAAAANIIIIIISNYAAAAAAA” batin sasuke.. dalem ati...

Akhirnya mereka memutuskan untuk menghabiskan waktu dari cafe... ke petshop.. butik langganan sasuke... ampe balik lagi ke depan bioskop...

”aaaa.. capeee.....” naruto ber-haaaaaah~ ria...

“hahaha.. yaudah.. kita istirahat aja disini dulu..”

”uuuh... masi 1 jam lagi, yaa ?? lamanyaaa....” naruto pun memonyongkan mulutnyaa...

Sasuke yang tidak tahan dengan ’bibir seksi’ naruto langsung menggenggam tangan naruto, dan menciumnya dengan lembut...

”uumph...” naruto brusaha berontak dari sasuke.. namun apadaya... naruto ga kuat… tenaga sasuke terlalu kuat… dan naruto pasrah pasrah aja…

Tiba-tiba…

“EEHEEEMM!!”

Sasuke dan naruto serentak melepaskan ciumanny itu.. dan menengok darimana suara itu berasal...

“YO! Naruto ! sasuke ! ”

“KI..KIBAAA!!!!!” naruto kaget.. melihat sang soulmatenya yang kayaknya daritadi ngeliatin mereka.. dan naruto langsung ngeblush~

“che… ngenganggu kamu ! ga tau apa lagi asik…” ucap sasuke dengan dinginnya…

“hehehe.. sori, men… abisan kalian berdua mesra bangeett… hahahaha”

”eng.. mang kamu lagi ngapain disini, kib ??”

”hah ?? kencaan, doong....”

”HAH ?? orang kayak kau ?? KENCAN ?? AMA SAPEE ??” sasuke spontan ngomong...

”heh..! gini” aku laku, tauu!!”

”emang ama siapa, sih kibb ??” naruto penasaraann..

”hm ?? eheheheh... ntar juga kalian tau...” jawab kiba sambil nyengir kuda.. [emang kuda bisa nyengir ?]

”ooi.. kibaaa....” suara seseorang yang pasti mereka kenal..

”HAH ?!” naruto kaget

”WHAT ?!” sasuke kaget

”ehehehehh” kiba masi nyengir...

[Nah... tau ?? xD]

Dia adalaaahh~~~

SHIKAMARU NARAA!! [eng ing eeng!!! Pairing ajaip ! ntah knapa mncul d otak gua...]

Naruto ama sasuke sweatdrop...

ko bisa ?? mereka berdua....” itulah yang ada di otak sang uzumaki dan sang uchiha...

”hah ? kalian ngapain ada disini ?” tanya shikamaru.. dengan nada.. [ya.. u kno, laa...]

”.. mo nonton..” jawab naruto..

”nonton apa, nar ?”

”...............”naruto diem..

”romeo and juliet...” sasuke nyerocos ngasi tau..

“…………” shika ama kiba sweatdrop..

“lha.. kalian sendiri ??” naruto langsung ngalihin pembicaraan..

” 50 first date” kata mereka kompak..

”ooooooooooo...”naruto dan sasuke Cuma ber oooh ria...

Tiba”..

Ting tung ting… [gni, kan ? yang di bioskop.. yang pmberitahuan pintu teater dibuka ?]

”perhatian.. perhatian... saat ini pintu teather 3 telah dibuka.. bagi anda yang telah memiliki tiket, silahkan masuk.. terimakasih... sekali lagi... ”

”nar.. ud dbuka, tuh.. masuk, yuk ?” ajak sasuke

”hm ? oiya.. udah.. hahah... yuk... dadaaah shika... dadah kibaa...” naruto melambai lambaikan tangannya ke shika ama kiba...

======------chap 1.. END------======

Citcet yuu...===

Uaaaaa... cape, yaa ? bkin penpik trnyata.. tapi asiikk... xDDD

Iyeeii~~

Hohoho.. ajaip, g c ? shikakiba ?? uda ad blon yg bkin ? *3*

Hohoho....

Ehemm... karana ini debut saiaa... tolong, yaaa.... di ripiiiww~~~

Plis ?? onegaai...?? yaa ?? yaa ??

Ibara Hime

Aku tahu, ciumanku yang biasa tidak akan bisa membangunkanmu.


Ibara Hime


“Aku memberikanmu ini,” ujar Shino dengan tangan kanannya yang membenarkan posisi kacamata hitamnya, dan tangan kirinya yang menyerahkan sekotak donat.

Dengan memasang tampang yang tidak sopan, Kiba membuka mulutnya lebar-lebar.

“A—apa kau baik-baik saja, Shino?!” Wajar Kiba bertanya begitu, biasanya Shino tidak peduli padanya. Shino hanya selalu ikut-ikutan peduli padanya kalau Hinata peduli padanya.

“Enak saja…” Dan dengan kampungan, Kiba dan Akamaru kecil membuka bungkus itu perlahan dengan ketakutan, dengan berbagai pikiran yang mengganggu otak mereka, takut kalau yang diberikan Shino itu malah racun.

“…” Shino hanya diam. “Yah, sebenarnya, seharusnya Hinata yang mendapatkannya,” Kiba terhenyak.

“Ah! Yah! Hinata! Bagaimana keadaannya?!” Tanya Kiba yang langsung bangkit dari tempat tidurnya. Dia tidak peduli lagi dengan donat pemberian Shino.

“Begitu.. jadi rupanya kau tidak tahu…” Shino berhenti berkata-kata, tapi Kiba tahu, Shino tidak bisa berbicara banyak, dia harus diberi waktu untuk melanjutkan kata-katanya.

“Kau tidak tahu karena selama ini, kau rawat inap di Rumah Sakit, tapi—” Shino menghela nafas, “—dia telah dikalahkan Hyuuga Neji,” Kiba ingat, semua pintanya pada Hinata untuk menyerah kalau-kalau Hinata harus berhadapan dengan Hyuuga Neji dalam ujian chuunin. Tapi ternyata Hinata malah…

“Seperti yang kuduga, akan sulit baginya untuk pulih.”

“…” Kiba hanya menggertakkan giginya, dan mengernyitkan alisnya. Tak sanggup menerima kenyataan.

“Baru saja, aku mengunjungi Hinata,” Shino melanjutkan kalimatnya, dan Kiba langsung menarik nafas. Shino tahu, Kiba akan berteriak.

“BAGAIMANA?! BAGAIMANA KEADAANNYA??!!” Dengan mulut menganga, Kiba berteriak di tempat yang tidak sesuai untuknya berteriak, Rumah Sakit.

“Dia selamat…” Shino memutar badannya, menghadap ke jendela, “untuk sekarang. Dia telah melampaui batasnya bertahan. Kini, aku tidak tahu lagi kondisinya, tapi yang jelas.. dia masih belum bisa mendapat kesadaran.” Kiba hanya menanggapi dengan memasang wajah pucat pada tampangnya yang berantakan karena baru bangun tidur.

“Kau bisa menjenguknya selama jam kunjungan…” Shino menoleh ke arah tempat tidur, dan menyadari kalau Kiba sudah menghilang dari ruangan itu. “…Dengarkanlah dulu apa yang dibicarakan orang…”

Greek. Jendela ruangan itu dibuka dengan perlahan, lalu terlihatlah wajah Kiba yang terbalik. Dengan lincah, Kiba memasuki ruangan itu melalui jendela. Setelah bisa masuk, dia segera mencari sosok yang dicarinya.

Hyuuga Hinata, terbaring lemah. Sekujur tubuhnya ditutupi selimut putih. Matanya terpejam. Tangan kanannya diinfus. Mulutnya ditutupi sebuah-alat-kedokteran-yang-berguna-untuk-membantu-mengatur-pernafasannya.

(a/n : maaf , lupa namanya apaaa -.-)

Dalam, tidur nyenyak dalam tidur. Sangat mirip, dengan Putri Tidur…’ Begitulah pikir Kiba yang hanya bisa terpaku melihat Hinata terbaring lemah di atas tempat tidur.

“Itulah kenapa.. aku menginginkanmu untuk menyerah, Hinata…” Kiba kecewa, tapi tidak ada yang bisa dia lakukan sekarang untuk merubah hal itu.

“Sialan!” Ujar Kiba sambil membayangkan Hyuuga Neji, orang yang telah mengalahkan Hinata di ujian chuunin itu. Kiba mengepalkan tangannya kuat-kuat.

Kiba mendekati Hinata, lalu menggenggam tangan Hinata yang masih dingin.

“Hinata…” Pandangannya tertuju pada wajah Hinata.

“…Unn”, Hinata mengernyitkan alisnya. Tidak jelas apakah dia sudah tersadar atau belum.

“Hinata! Akhirnya kau…” Raut wajah Kiba berubah positif, tapi…

“…Ru… Naruto-kun…” Kata-kata yang keluar dari bibir mungil Hinata yang masih lemah itulah, yang membuat raut wajahnya memburuk.

Ah, ya… Aku mengerti,’ Kiba merubah diri, ‘itu untuknya, ya’kan?’, menjadi Sang Uzumaki.

- Hinata’s POV -

“…Ta. Hinata!” Sebuah suara mengiang di telingaku, memaksaku untuk bangkit, untuk sadar.

Baiklah, aku menurutinya. Aku membuka mataku perlahan. Dan kulihat Naruto—bukan. Itu bukan Naruto. Walaupun matanya biru, walaupun rambutnya kuning, walaupun ada tiga goresan kumis kucing di setiap pipinya, walaupun dia mengenakan pakaian oranye-biru, aku tahu. Bukan Naruto. Samar-samar, aku bisa melihat matanya hitam tajam, rambutnya coklat, ada tato merah berbentuk taring di pipinya, dia memakai kaos putih. Itu kau, ya ‘kan, Kiba-kun?

Dasar Kiba-kun bodoh, walaupun aku tidak memakai byakugan, aku tahu, itu kau. Tapi aku hanya bisa tersenyum melihat tingkah anehmu kali ini.

“Terima.. kasih… Kiba-kun…”

- End of Hinata’s POV -

APA?! Kiba-kun katanya?!’ Teriak Kiba dalam hati sambil memasang tampang gawat-bagaimana-ini-apa-yang-harus-aku-lakukan.

BRAK!!! Kiba mendobrak kencang pintu ruang inap Hinata, seorang suster yang baru saja mau memasuki ruang inap Hinata terkejut, saat dia mau membuka pintu, ada seseorang yang berlari.

“Hei! Kau yang disana!” Teriak suster itu. Tapi, kemudian suster itu tanpa sengaja menoleh ke arah ruang inap Hinata, dia bisa melihat Hinata dengan mata lavendernya.

“Dokter! Pasien di ruang 106.. sudah sadar!” Setelah mendengar hal itu, sambil terus berlari, Kiba berubah kembali menjadi sosok dirinya yang bermata hitam tajam, berambut coklat, mempunyai tato merah berbentuk taring di pipinya, dan memakai kaos putih.

“Tidak mungkin!” Kiba menggumam sendiri sambil berlari, “Kenapa ia bisa melihat perubahanku? Kenapa dia…” Tapi, wajah Hinata yang mengatakan terima kasih kepada Kiba tadi, tidak bisa hilang dari benak Kiba. Dalam sejenak, wajah Kiba mulai memerah, senada dengan tato merah di pipinya.

Sambil menuruni tangga, Kiba loncat, “YAHOOO!!!”

Owari.


Aku tahu aku tidak akan bisa menjadi pangeran…

Tapi aku akan selalu melindungimu.


Dikutip dari doujinshi salah-seorang-penggemar-KibaHina-yang-tidak-saya-ketahui-namanya, dengan sedikit--sangat sedikit perubahan. Enaknya, kalo lagi baca ini, denger lagu Requiem punya Satsuki, Original Soundtrack Corrector Yui (anime jadul), sambil mainin lagu itu pake piano, nyanyiin deh. XD

ECCHAN KENA WRITER'S BLOCK. HUWEEEENG! Virus yang mematikan--halah. Cuma punya ide buat Lovely Days... Gara-gara itu jadi nyanyi stres YUI - Daydreamer *promosi*.

Oh iya, Out Of Topic sebentar (emangnya forum), ada user GaiaOnline enggaaak? Ato ada yang maen NeoPets? Si ecchan kecanduan game online--tapi maen Ragnarok-nya udah berhenti. Ckckck.

Seraya bersedih, sambil promosiin. Guilts punya Anima-san, cepet apdeeet. Abis baca chapter 2 nya, si ecchan langsung buka majalah lama, baca ulang tentang ulasan Ragnarok the Animation, Ragnarok Online, plus komik Ragnarok. Ckckck. Bernostalgia.

Mind to review?

Bukan Hari Ini

Disclaimer: Naruto © Masashi Kishimoto, Bukan Hari Ini lagunya Cokelat.

Rated: T

Genre: Romance/Tragedy.

Fic ini semuanya adalah Sakura POV. Dan disarankan buat mendengarkan lagu Bukan Hari Ini-nya Cokelat. Enjoy!!

****

Bukan Hari Ini

by:

Hiryuka Nishimori

Semua yang pernah

Terjalin indah antara kita

Masih terukir dengan jelas dibenakku, hari-hari indah yang kulalui bersamamu. Ketika kau terus berusaha melindungi aku yang lemah ini, yang hanya bisa menyusahkan orang saja.

Tapi, sangat jelas terlihat oleh mataku, kau tidak pernah keberatan dan merasa terbebani. Hmm, ketika aku hampir dibunuh oleh seorang ninja dalam misi pertama kita, kau berdiri gagah di depan ku menghadang ninja tersebut, dan seperti biasa tidak ada rasa takut terpetakan di wajahmu.

Pada saat ujian Chuunin-pun, kau tetap berusaha menolongku. Aku masih ingat, ketika itu kita berdua terjebak oleh aura membunuh Orochimaru hanya karena melihat matanya saja. Aku yang lemah ini, tidak tahu apa yang harus diperbuat, dan seperti biasa aku mulai menangis. Tapi, tanpa ragu sedikitpun, kau menyelamatkan aku dari kunai Orochimaru yang menyerangku. Ketika itu aku sangat takut melihatnya. Namun, perasaan takutku berubah menjadi benci ketika dia memberikan sebuah segel mengerikan di tubuhmu.

Kau tak sadarkan diri, dan akupun mulai cemas. Aku merasakan suhu tubuhmu yang tidak stabil dan kadang kau menjerit kesakitan. Aku sangat sedih melihatmu yang seperti itu, rasanya aku ingin menggantikan posisimu.

Aku sangat terkejut ketika datang tiga orang ninja dari Otogakure menyerangku. Tapi, aku harus tegar dan siap menghadapi ini, hanya kali ini saja aku harus bisa melindungimu. Dalam pertarungan itu, sudah dapat dipastikan aku kalah. Aku tidak peduli dengan rambutku yang aku potong ketika menghadapi ninja bernama Kin.

Dan alangkah bahagianya aku ketika kau sadar setelah terkena segel itu, karena hal pertama yang kau tanyakan itu adalah siapa yang melukaiku. Aku melihat wajahmu sangat marah. Dan ketika itu, sebuah tanda seperti luka bakar perlahan-lahan menjalari tubuhmu dan kau terus saja mendesak agar aku mengatakan pelakunya.

Namun, kekhawatiran mulai merasuki perasaan ku. Ketika kau tidak lagi menunjukkan rasa belas kasihan pada ninja itu, kau terus saja menyiksa mereka, dan hatiku mengatakan bahwa aku harus menghentikan semua ini.

Aku segera berlari ke arahmu, memelukmu sambil menangis dan mengatakan semuanya sudah berakhir dan jangan berbuat kejam lagi. Sepertinya pelukkan erat ku mampu mematahkan jiwa kejammu. Perlahan-lahan, luka bakarmu hilang, aku sangat bahagia sekali.

Dan ketika siluman dalam tubuh Gaara mengamuk, kau terus berusaha mengejarnya karena kau pikir pertarungan dengannya belum berakhir. Namun, sepertinya siluman itu lebih kuat darimu sehingga membuatmu tak dapat bergerak. Ketika aku sampai di sana bersama Naruto, aku berusaha tetap bertahan berada di depanmu untuk melindungimu. Gaara yang marah akhirnya melempar dan mengikatku dengan pasir cakranya.

Ketika Naruto berhasil mengalahkan Gaara, pasir di tubuh ku perlahan-lahan mulai tanggal dan aku akan jatuh. Tapi, sekali lagi kau menyelamatkan ku, kau menangkap dan membaringkan ku di atas pohon.

Haaah, aku ingin mengulang semua kejadian itu bersamamu.

Berakhir sudah

Terlalu cepat begitu saja

Namun, kenapa hari itu datang juga? Ketika malam yang dingin menusuk hingga tulang, kau tetap bertahan dengan keputusanmu sendiri untuk membalas dendam dengan kakakmu dan pergi menuntut ilmu dengan orang kejam seperti Orochimaru. Aku berusaha melarangmu. Memang, aku kelihatan sangat egois, karena tidak merasakan apa yang kau rasa selama ini. Tapi, aku sudah mengungkapkan alasanku untuk menahanmu pergi, karena aku sangat mencintaimu. Tapi, kau bersikeras tidak mau mendengarku.

Aku tidak habis pikir, kenapa kau mengucapkan terimakasih sebelum memukulku pingsan? Mungkin aku yang bodoh, tapi sampai sekarangpun aku tidak pernah tahu maksud dari perkataanmu.

Saat kau, berpaling dariku

Kau tinggalkan, kau hancurkan

Hatiku merasa

Hatiku gundah ketika kita bertemu lagi di markas Orochimaru. Aku sangat kecewa padamu, kau tidak lagi menganggap kami teman. Kau benar-benar ingin membunuh Naruto. Aku sangat sedih, dan lagi-lagi aku tidak tahu apa yang harus ku lakukan.

Hati kecilku jelas-jelas mengatakan bahwa aku merindukanmu, tapi aku tidak bisa membiarkan kau bertindak seperti itu pada Naruto. Akhirnya, tekadku pun bulat. Aku harus melawanmu! Chakra sudah kukumpulkan di tangan, aku berusaha memukulmu walaupun sebenarnya hati ini menentang. Dan, aku semakin tidak paham denganmu, kau semakin tidak berperasaan, rupanya kau juga ingin membunuhku. Sakit rasanya hati ini.

Bukan Hari Ini

Harusnya Kau Kembali

Terlalu lama engkau menyadari

Karena Hari Ini

Tak akan Ada lagi

Tersisa Penyesalan Dalam Hatiku

Slamanya

Selang beberapa tahun kemudian, kau kembali ke Konoha setelah berhasil membunuh kakak kandungmu sendiri. Aku sungguh bingung, apa yang sebenarnya yang kau rencanakan? Kau datang kembali bersama komplotan busukmu itu. Apa kau belum puas menyakiti hatiku? Apa kau belum puas membuat kekacauan?

Maafkan Aku,

Tak sanggup lupakan

Sgala Khilafmu…

Setelah kematian Jiraiya-sama, Kakashi-sensei, dan Tsunade-sama, aku semakin menguatkan hatiku untuk membasmi Akatsuki, walaupun itu termasuk kau!

Oohh..

Mungkin ini yang terbaik untuk kita

Menerima Kenyataan yang ada

Kunai, shuriken, dan peralatan ninja lainnya berterbangan di angkasa. Perang sudah dimulai. Tanpa ragu aku terus berjalan lurus ke depan. Di sana aku melihat rekan setim mu yang bernama Karin.

Saat kau, berpaling dariku

Kau tinggalkan, kau hancurkan

Hatiku merasa

Terus terang, aku sangat iri dan cemburu padanya. Karena, aku tahu kau lah yang memintanya untuk ikut bersamamu. Sedangkan aku? Aku sudah berusaha agar aku dapat ikut denganmu. Tapi, kau hanya menganggapku tidak lebih dari seorang pengganggu.

Kesempatan bagus! Karin sedang lengah, aku bersiap-siap melayangkan pukulan maut ku kepadanya. Namun, tiba-tiba saja tanganku ditahan oleh teman baik ku sendiri, “Sakura! Biar aku saja yang melawannya! Kau cari saja dia dan selesaikan semua,” katanya sambil berbisik. Aku tahu betul siapa ‘dia’ yang dikatakan oleh Ino.

“Baiklah,” jawabku mantap sambil berlari menjauhi mereka berdua. Perang masih terus berlanjut. Ada banyak mayat anak-anak, orang dewasa, sampai orang tua berserakkan dimana-mana. Akatsuki benar-benar kejam! Itulah kata yang terlintas di benakku saat ini, dan aku harus menghabisi semuanya!

Bukan Hari Ini

Harusnya Kau Kembali

Terlalu lama engkau menyadari

Dari kejauhan aku melihat dia. Perlahan dia membuka jubah Akatsuki-nya. Tidak ada sedikit noda darahpun berada di kimono putih yang dipakainya. Dia berjalan lurus ke arahku. Aku mematung. Mata sharingan-nya tidak ia aktifkan. Pandangannya mata onix-nya serasa menembus mataku.

Karena Hari Ini

Tak akan Ada lagi

Tersisa Penyesalan Dalam Hatiku

Slamanya

Ketika sudah sampai dihadapanku, tiba-tiba saja dia memelukku erat seakan-akan tidak ingin dipisahkan, kehangatan tubuhnya masih dapat kurasakan. “Sakura maaf kan aku,” dia berkata lirih kepadaku. Tekadku yang sudah kuat kembali goyah. Aku segera melepaskan pelukkannya.

“Sasuke-kun! Apa kau tidak tahu kalau aku sudah membunuh Karin teman setim-mu?” tanya ku sambil berbohong tanpa mengubris permintaan maafnya.

“Terserah. Aku tidak peduli,” jawabnya singkat dengan nada mantap.

“Apa? Kau bilang kau tidak peduli? Setelah semua pengorbanan yang ia lakukan denganmu bersama tim-mu?” tanyaku emosi.

“Aku tidak peduli Sakura, bagiku mereka hanya pion-pion. Lagipula, aku tidak pernah memaksa mereka untuk ikut denganku. Sekarang yang aku butuhkan hanya dirimu.”

Bukan Hari Ini

Harusnya Kau Kembali

Terlalu lama engkau menyadari

“HUHH!! Ternyata pikiranmu benar-benar telah diracuni! Apa kau pantas mengucapkan maaf padaku setelah kau membunuh banyak orang di Konoha?” aku bertanya dengan emosi.

“Aku tahu, aku memang tidak berhak meminta maaf padamu. Dan, semenjak datang ke sini, tidak seorang pun aku bunuh. Aku kesini hanya ingin meminta kesempatan sekali saja untuk meminta maaf padamu. Sakura, tolong maafkan aku, beri aku kesempatan sekali lagi untuk merubah semuanya. Dan aku…”

“Dan?” aku bertanya dengan menghentak.

“Dan aishiteru,”

Karena Hari Ini

Tak akan Ada lagi

Tersisa Penyesalan Dalam Hatiku

Haah? Apa yang harus aku lakukan? Hatiku kembali gundah, perkataannya membuatku merasa bahwa aku berada di bawah pengaruh genjutsunya. Tapi, tidak! Aku masih bisa melihat Shikamaru di sana sedang bertarung dengan seseorang yang memakai jubah Akatsuki.

“Apa kau masih mencintaiku?” dia bertanya lagi dengan lirih.

Tangan ku terkepal. DHUAK!! Aku berhasil memukul wajahmu. Tapi, aku merasa sangat heran, kenapa dia tidak menghindar dan membalas seranganku.

“Kau boleh memukulku sampai berapapun juga, asalkan kau mau memaafkanku,” dia kembali berkata lirih.

Bukan Hari Ini

Harusnya Kau Kembali

Terlambat Kau sesali yang terjadi

“Maaf sasuke-kun! Aku tidak bisa!” air mataku mulai jatuh, tapi aku sudah membulatkan tekad ku demi kehormatan Desa Konoha ini. Aku terus memukulnya.

“LAWAN AKU SASUKE! LAWAN AKU!!”

“Tidak Sakura! Aku tidak bisa karena aku mencintaimu,”

DHUAAKK!!

Kali ini pukulan lebih keras dari sebelumnya. Hatiku panas karena ucapannya. Aku sangat berharap dia mengatakan ini sebelumnya, tapi bukan hari ini.

Perlahan-lahan hatiku mulai mantap untuk membunuhnya, chakra mulai terkumpul di tanganku. Kali ini adalah pukulan maut. Satu kali saja aku memukulnya, sudah ku pastikan dia akan mati.

Tanganku mulai terangkat bersiap memukulnya. CRLEEB!! Tiba-tiba saja sebuah kunai tepat mengenai jantungku. Aku sempoyongan, dan mulai pusing. Aku tahu! Ini adalah kunai beracun. Aku akan jatuh tapi dengan sigap Sasuke menangkapku, seperti kejadian beberapa tahun lalu yang sangat ingin aku ulang. Tapi bukan hari ini.

Ia membaringkanku di tempat aku berusaha mencegah kepergiannya beberapa tahun lalu. Aku melihat air mata mulai membasahi kedua pipinya. “Sakura, jangan pergi!” dia memelukku.

Dengan sisa-sisa tenagaku aku berkata, “Le.. Lepaskan aku Sa.. Sasuke! Ma.. maaf aku tidak bi..sa mema..afkanmu, karena aku… Ohok!” aku terbatuk, darah bewarna hitam keluar dari mulutku. Tapi aku harus mengucapkan kata terakhirku untuknya. “Ka.. kare..na a..ku, sa..ngat mem…ben..benci..mu,” aku tahu ini sangat menyakitkan tapi, jika aku tidak mengucapkan ini aku tidak akan pergi dengan tenang.

Karena Hari Ini

Tak akan Ada lagi

Tersisa Penyesalan Dalam Hatiku

Slamanya

“Sakura, kau boleh membenciku, tapi… tapi kau jangan pergi,” ratapnya tapi sedikitpun aku tidak peduli.

Bukan Hari Ini

“Se..la..mat ting..ting..gal Sasu..ke-kun. A..ku ha..rap ka…kau mam..pu menghen..ti..ti..kan pe..rang i..ni.”

Perlahan-lahan, tubuhku rasanya melayang. Pandangan mataku semakin gelap. Aku tahu, aku akan pergi, tapi sayup-sayup kudengar Sasuke berteriak, “SAKURA! JANGAN PERGI! AKU MENCINTAIMU!”

Bukan Hari Ini

Haah, selamat tinggal Sasuke! Selamat tinggal cinta pertama dan terakhir ku…

THE END…

Hmm, gimana menurut para reader semua tentang fic ini?

Apakah sedih?

Maaf, aku sudah berusaha membuatnya dengan baik, tapi rasanya kurang sedih.

; (

Sebenernya emang authornya yang ga bakat bikin ginian..

Haha..

Oiya, lagu Bukan Hari Ini miliknya Cokelat aku bawain pake gitar waktu ujian praktek seni musik ujian semester lalu. Dan, walaupun suara ga sebagus Kikan dan permainan gitarku ga sebaik Prisa, tapi alhamdulillah! Aku dapet nilai 90.

Haha senengnya.. ^^

Aku nyanyiin lagu ini sambil membayangkan perasaan Sakura ke Sasuke yang udah nyakitin semuanya..

Huaaa..

Sedih banget!!

T-T

Dan makasih buat Hendra-senpai yang udah ngasih tau kuncinya..! *sebenernya Hendra-senpai yang maksa buat aku tulis namanya di sini*.

Sebenernya sih pengen lagu Dicintai ‘tuk Disakiti-nya Ari, tapi temen aku Iqbal udah rencanain lagu ini sebelumnya. Jadi, terpaksa deh saya ngalah. Kan ga seru lagunya sama! Tapi, suaranya Iqbal itu keren banget lho! Mirip ama Ari!!

STOP!!

STOP!!

Kenapa saya jadi curhatan aneh kayak gini ya??

Ya udah, bagi yang baca review ya!!

^_^

ITACHI’S PRECIOUS MOMENT

Language: Indonesia


ITACHI’S PRECIOUS MOMENT

By: duo-cabuLavigne/lolipopaLavigne


Disklemer: NARUTO bukan punyaku, tapi kakang Kisame punyaku!! –dicekokin isi jamban ama oom Masashi-

Fic Rate : M (kalo nggak setuju, kasi tau aku :p)

Warning : Lemon (yakin?), PWP (beneran?), Hard Yaoi (masa?)

.

.

.

Itachi menatap Kisame.

“Ayolah Kisame.. Aku telah lama menunggu momen ini ..” Itachi menatap dalam mata Kisame

“Itachi, ini akan berasa sakit. Apa kau siap?”kata Kisame sambil balas menatap dalam mata Itachi.

“Uh.. Aku siap, Kisame. Cobalah.. Ini bukan pertama kalinya, kan?”Itachi lalu menanggalkan celana panjangnya.

Kini, hanya celana pendeklah yang melekat di badannya.

“Yakin? Aku takut kau akan kesakitan..”kata Kisame ragu.

Ada sedikit rasa khawatir di benaknya.

Itachi lalu tersenyum.

“Tak apa Kisame.. Aku sudah mempersiapkannya matang-matang. Kali ini tak akan gagal seperti dulu lagi…”

“Itachi.. Aku takut.. Gimana nanti kalau keterusan?” kata Kisame keras kepala. Ia tetap saja tak ingin melakukan apa yang diinginkan Itachi.

“Kalau keterusan juga tak apa.. Toh aku juga yang menanggung akibatnya..” lagi-lagi Itachi tersenyum. Senyumannya telah meluluh lantahkan hati Kisame.

“Tapi, apa kau yakin kita akan melakukan ‘itu’?” Kisame tetap bersikukuh. Apa yang diucapnya tak sama dengan apa yang ingin dulakukannya sekarang.

“Ayolah Kisame.. Aku sudah siap.. Kau tak akan membiarkan aku menunggu terlalu lama, kan?”

Itachi lalu membimbing Kisame menuju sofa.

“Ingatkah saat kita pertama kali melakukan ‘itu’? Di sofa ini, kan? Tapi sayang, waktu itu aku tak dapat melanjutkannya sampai akhir..” kata Itachi sambil menatap Kisame.

Kisame hanya bisa tersenyum pahit.

“Ayolah, Kisame.. Kali ini aku pasti bisa melakukannya sampai akhir…” Itachi lalu membaringkan diri di sofa.

“Itachi… Aku sudah tak tahan lagi!” Kisame lalu mengambil posisi di atas sofa. Lalu ia melancarkan aksi mautnya.

“Huuumpppffttt.. Uh.. Awwhh..” Itachi mendesah, membuat Kisame semakin bersemangat melancarkan aksi mautnya.

Melihat, Itachi yang merasa kesakitan, Kisame memperlambat gerakannya.

“Itachi, kau tak apa?” tanya Kisame khawatir.

No problem.. I can handle it..” jawab Itachi.

For you, Kisame..” gumamnya.

Lalu Kisame melanjutkan aksi mautnya.

“Rileks saja, Itachi…” lalu Kisame mempercepat gerakannya.

Itachi mulai terbiasa dengan perlakuan Kisame. Kini, ia bahkan menikmatinya.

“Uh~ Oh~ Ah~.. ngh..” lenguh Itachi.

“Lebih cepat Kisame, ah..oh.. aku sudah tidak tahan..”

“Sebentar lagi aku hampir selesai. Tahanlah..” Kisame lalu mempercepat gerakannya. Sampai akhirnya..

“Uh~ Oh~ aaaaaaahhhhhh…” teriak mereka bersamaan.

“Ngghh.. Kisame, kau hebat..” kata Itachi sambil membenarkan posisi duduknya.

“Kau juga..” kata Kisame sambil menyembunyikan semburat merah di pipi birunya.

“Lain kali, kita melakukan ‘itu’ lagi yah?” goda Itachi manja.

Kisame hanya bisa mengangguk lesu.

“Lihatlah apa yang telah kau perbuat Kisame.. Kakiku sudah bersih! Kau mencabuti bulu kakiku dengan sempurna! Tak ada lagi bulu yang tersisa!” teriak Itachi girang.

“Iya, tumben-tumbenan kamu tahan dicabutin bulu kakinya. Kemaren aja waktu pertama kali aku nyabutin bulu kakimu kamu udah teriak kejer-kejer!”kata Kisame datar.

“Nanti, kalau bulu kakiku dah tumbuh lagi, cabutin lagi yah?” tanya Itachi.

“Oke!” jawab Kisame sambil mengancungkan jari jempol kakinya(?)

-OWARI-

Huaaa… mimpi buruk!! Ini tak pantas disebut fic humor!! Ini fic horror!! Beneran, deh!! (dilemparin tetangga pake lemari besi gara-gara teriak gaje)

Hola~ Akhirnya saya kembali dengan adegan yaoi KisaIta \(///)/.

Gaje, kan?

Aku terinspirasi bikin ini fic pas lagi ke salon nemenin mamaku buat nyabutin bulu kaki XD (buka-buka aib mama –dicekek mama ampe mau mati-)

Segaje gajenya fic ini, saya hanya ada satu permintaan yaitu.. REVIEW!

REVIEW, please.. :D

Naruto Shippuuden 091

now enjoy for download

[DB] Naruto Shippuuden 091

Just click the tittle and download it with opera.
How to download?
After you click the tittle, automatic your web engines (Mozilla firefox, Opera, or Explore) will download the torrent. after that Click your left mouse on the torrent then open it with opera then opera will process to download the file or the movie.

Or if you have torrent software just open it with your torrent software.

if you don't have utorrent, now download the utorrent software below:

Download

Friday, December 26, 2008

Naruto Shippuuden 090

now enjoy for download

[DB] Naruto Shippuuden 090

Just click the tittle and download it with opera.
How to download?
After you click the tittle, automatic your web engines (Mozilla firefox, Opera, or Explore) will download the torrent. after that Click your left mouse on the torrent then open it with opera then opera will process to download the file or the movie.

Or if you have torrent software just open it with your torrent software.

if you don't have utorrent, now download the utorrent software below:

Download

Wednesday, December 24, 2008

Naruto Games: The Shinobi Wars 5.5 Full Version Download

Download

If you are a Naruto fan or probably just an anime fan in general, this will be a game you'll like.

Of course it features one of the most popular anime heroes ever made, who else, the Fox-boy... Naruto... and some of his buddies... You know, Sasuke. And yes, this is a A 1 on 1 action packed platform game.

Here are some key features of "Naruto: The Shinobi Wars":

· Shino Aburame
· Ino Yamanaka
· 3 Unlockable characters
· Tutorial mode
· Online mode
· 3 vs 3 match battles
· User friendly menu interface helpers

What's New in This Release:

· 2 maps
· 2 characters plus 1 special locked character
· Minigames
· A training mode

Thanks to : http://naruto-extended.blogspot.com

Naruto Adventures : Free Download

Download

Developers/creators comments and description:
Visit developer homepage

This is my first completed game... Well...its not completed yet cus this is just the demo version lol. :P But any way, this is a Naruto game that you can see. ^^
I just love naruto so i made this game. In this game are you doing missions and going on adventures. But you cant jump in it cus im not so good yet that i can make them jump... :(

But if someone can tell me how to jump then you can do it in full version. :D
So plz tell me how to do when i wanna have them to jump. ^^
Oh ye,i forgot to write down that you can throw knifes when you hit ''space''.

Plz rate and comment! ;) Hope you'll enjoy it! :D It is just my first game after all. ^^


Thanks to : http://naruto-extended.blogspot.com

naruto tactics beta

YoYoGames
Ae_f

naruto tactics ...
Added: 02 August 2008
By: jenshoofd

Naruto







Free Online Flash Games

Sunday, December 21, 2008

Naruto - Jungle Party

Genre: Hentai, M/F (Naruto/Tsunade), big boobs. English translated doujin, 42 pages.

to see the manga hentai click here
to download click here

Friday

Author : Jigoku Shoujo

Language : English


Summary: Ino falls for Shikamaru and blahblahblah you know how it goes. Starts with Ino’s POV, ends with words with “Friday”

Warning/s: Bad choice of plot but whatever

Disclaimer: I do not own Naruto. That is why I write in fanfiction. That is why I grieve at night.

talking”

thinking’

Now, on with the story!

…………………………………………………………………

Ino’s POV

When did this happen? No, how did this happen? I’ve been crushing on him for a long while ever since I’ve given up on Uchiha. And now, I’m blabbing about it to forehead, while managing to keep up the drama queen attitude. Humph, guess I can’t get rid of it.

Well, no one can blame me, can they? After being stood up by a guy you really admire and then knowing that he has a girlfriend the next day just blows. Even after all those tries of winning him back, he just wouldn’t budge. He really likes her. We are currently ignoring each other, even if it’s hard to bear. Well, alright, not we exactly but he constantly avoids me. Forehead says he just sees me as nothing but a sister and I just can’t seem to get that.

End of POV.

It goes on like this every week. On Fridays, Ino goes into the Ramen shop and finds Sakura and Naruto. Sakura, knowing she’d be there, greeted her and talked about her undying for the young Nara.(lawl. I wrote “undying love”!) Sakura was shocked at first but knowing Ino, she would get over it. She was so wrong. It took her and Ino’s father days to get her out of bed to stop eating all those junk she kept in her drawer. It was a pain but it was worth seeing Ino talk to people normally instead of curling into a fit of tears and rage.

Dealing with Ino’s heartbreak was worse than fighting Tsunade. But even though her tears were reasonable, she was still part of the reason she balls her eyes out.

Before the Uchiha left, Shikamaru was being fed up with her constant praises. He wouldn’t admit that he was jealous. Well, not to people other than himself.

After Sasuke betrayed the village, he saw his chance. He did almost everything he could to catch her. She responded by blushing and started to like him back. That is until Sai came alone and called her beautiful. That was when he fell back to square one.

You see, Ino and Shikamaru planned on meeting a couple of days, on Friday, after Sai called her beautiful. Shikamaru was assigned on a mission to Suna but wanted to see Ino instead. Friday came, the day of their “meeting”, he saw her with Sai again. They were laughing and having a great time. She didn’t mind looking at the time. They looked so happy together. He figured that she wouldn’t want him so he packed his valuables and left for Suna. The very same day, Ino and Sai had a friendly conversation and cleared up the whole Ms. Lovely thing and Ino just accepted it. She knew he was brutally honest but at least he’s honest.

After waiting patiently for the evening, she dressed up and waited for Shikamaru. Unfortunately for her, she stood there waiting until it was 11 pm. She planned on waiting longer until Sai found her.

“Now now, Sai…”

“You’re in denial”

She ended up crying and he took her to her house. Days later, he noticed her usually happy self slowly disappearing and leaving a poor heartbroken girl. He asked Chouji and he contacted Sakura to see if she was ill. Turns out, she was in denial. She couldn’t bear the fact that he left her there without any noticed. She told no one but Sai, Chouji, her father and Sakura.

It took some hard work but she finally started to grow her happiness back. It was beginning to work out well, until Shikamaru came back, hand in hand with Temari.

Ino stood at shock. “So he left me for her, huh?” She had to admit, she had good looks. She was taller, stronger and smarter. She began to feel sad again. Not as much as last time but she still cried for her loss.

She and Sakura would go over about it again and again, but this Friday was different. This Friday she won’t wait for something that’s not coming. This Friday, she’s making a change.

She looked in the mirror and finally told herself that she doesn’t need to be loved by Shikamaru, because she’s already loved by everyone else. And now, Friday won’t be remembered as the day she got stood up. It will be remembered as the day she stopped living in denial and started changing for the better. She started changing for her friends and became someone stronger for herself.

…………………………………

Naruto - Indecent Ninja Training

Genre: Hentai, M/F, group, double penetration, anal. Characters: Hinata, Kiba, Shino, Akamaru, Tsunade and Naruto. English translated, 52 pages.

to see the manga hentai click here
to download click here

Naruto - Indecent Ninja Exam

Genre: Hentai, M/F, group, anal, double penetration, toys, bdsm. Characters: Temari, Kankuro, Tsunade, Naruto, Jiraya, Shizune. English translated doujin, 47 pages.

to see the manga hentai click here
to download click here

New Year Festival

Author : Ray Kun 13
Language : Indonesia

Malam ini adalah malam jum’at (iih cerem…) di Konohagakure tepat jam 7. Terpampang di kalender apartemen Naruto tanggal 31 Desember. Di kamar, Naruto sedang mengganti pakaiannya (ya iyalah… masa ganti baju di atas genteng..). Dia terlihat bersemangat seperti tukang becak abis minum temulawak (dari kencing kuda). Dia akan memperingati tahun baru di Konoha sekalian kencan ma Hinata…(Cie.. ehm, ehhm, uhuk, UHUK, HOOOOEEEEEKKKK, OOHHHEEEK! Authornya keselek ratusan biji salak). Kembali ke LapTop… (lu kira Tukul Arwana) Maksudnya kembali ke story…

Hina-chan, tunggu aku ya….’ Inner Naruto. Bergegaslah Naruto ke rumah Hinata, dia buru-buru (kayak telat kerja) pingin ketemu ceweknya.

-Di rumah Hinata-(kita alihkan ke rumahnya, mas kameramen,-)

Di kediaman Hyuuga, Hinata juga buru-buru. Ketika ingin mengambil sandalnya,(sandal atau sepatu? Sepatu sandal kali, ya) dia bingung karena sandalnya gak ada. “Hinata nee-chan, cari apa?”(maaf kalo embel-embelnya qelirou… maklum amatir) tiba-tiba saja Hanabi datang(nah lo! Dari mane tuh anak dateng?). “Kamu lihat sandal nee-chan, gak?”, Hinata bertanya. ‘Sendal… oh, yang aku pake buat ngusir kucing barusan itu punya dia!? Gimana nih..’ Inner Hanabi kebingungan, mikir, mikir, dan mikir… karna mikir mulu, palanya jadi botak(bcandaa). “nee-chan.., maaf ya.. Hanabi gak tau kalo sandal yang Hanabi lempar bwt ngusir kucing barusan punya kakak..”, Hanabi berkata terus terang tanpa ada rasa salah..(berarti nilainya dapet 10 donkz) “Kamu lemparnya kemana?”, kata Hinata super lembut, selembut pakean abis dicuci Molto Ultra(Lho, koq malah promosi?). “Hanabi lempar ke luar jendela, kayaknya nyasar ke kamar Neji nii-san.” Hanabi jawab terus terang. Tiba-tiba Neji datang dengan kepala benjol kiri-kanan kyk tumor di kepala(Author kgk tanggung2 digampar Neji smpe mental ke ujung kulon), “Aduh, siapa sih yang lempar ni sendal..?”. Hinata en Hanabi ketawa misterius. “Nii-san, maaf ya, tadi Hanabi pingin lempar kucing yang lagi makan ikannya Hanabi, tapi gak kena… jadi yah gitu deh…”, Hanabi meminta maaf seperti pengemis minta doku. “Laen kali hati2 ya… jadi ini sandal kamu?”(Neji). “Bukan, itu sandal nee-chan!”(Hanabi), “Oh, punya Hinata-sama, kau mau kemana, malam2 sudah cantik begitu?”(Nidji, eh salah! Neji!). Hinata menjawab dengan wajah merah semerah tomat terlalu mateng, “Ah.. eh, 

aku mau-”, “Hinata-chan akan pergi ke festival bersamaku!” jawaban Hinata terpotong oleh pria seperti BERUK berambut pirang jabrik(Stress kali author, kgk jera abis digampar Neji. RASENGAN!!) yang tak lain adalah…

Adalah…

Adalah…

Adalah…(Ini fanfic gilaa kali ya…)

UZUMAKI NARUTO!!(gak segitunya kali, mas author)

“Halo calon kakak ipar…”, Hanabi membuat Naruto blushing. “Jadi kau mau membawa putriku kencan ya, Uzumaki?”Hiashi datang bertanya. Naru en Hina blushing . “Iya, Hiashi-sama. Bolehkah?” Naruto ngarep sampe sampe berlutut di hadapan camer-nya. “Bat, nou stil eit o’klok, tak apa2? Tahun baru kan masih 4 jam lagi?” Hiashi terkena penyakit Bu-Jep, alias bule-jepang(Hiashi! Niat bahsa inggris gak sieeh!) “Gak apa-apa koq, Otousama! Mereka kan ingin b’duaan dulu.. yah.. biar mesra, terus, terus biar..”, Hanabi. “HANABI!!”

Ketika NaruHina dan si BUAWEEL Hanabi pergi…-CTAKKZZ, jitakan maha dahsyat Hanabi SUCCES landing di pala Author-

“Neji… kau tdk menjemput Tenten?” Hiashi menggoda. “Ah, emm..” Neji hanya berpikir, “Nanti saja ketika jam 9..”

Lalu terlihat Hanabi sudah berpakaian rapi, “Hanabi, wer du yu won tu go?”, Hiashi bertanya(kambuh lagi nee penyakit bu-jep ngasalnya). “Aku, aku..”Hanabi gugup. “Hanabi-sama ingin bertemu Konohamaru di festifal, ya?” Neji menduga.

Lalu..

Lalu..

Lalu..(kambuh lagi penyakit fanfic-nya author)

Terjadilah kejadian dimana Hanabi blushing plus tertawanya Hiashi. “Hi hi hihihi”(Cut, cut! Hiashi, MANA EKSPRESINYA!!) Ini author ato sutradara sih..

Hiahi:Oh ya, maaf..



“Ho ho hohoho”(masih salah!) “Hu hu huhu”(SALAH!!) –Setelah take ke 99.999kali Hiashi baru berhasil- “Anakku sudah besar-besar ya..”, Hiashi berkata bangga.

-Meanwhile.. NaruHina udah aya di festival tahun anyar-(author emang orang sunda yang belum perfekt…)

Pada saat mereka berjalan-jalan di festifal dengan ditemani salju yang turun dengan indah, mata Naruto terperangkap(lu kira hewan) oleh stall yg ada di depannya.

Naruto:Hina-chan, kau mau kita ke sana?

Hinata:Kita?! Kamu aja kali, aku juga!

Naruto:Ha ha ha… Hinata-chan pinter bercanda ya..!

Mereka sudah sampai di sana kurang lebih 1 detik! (Cepet Amat!! Ya iyalah, secara mereka waktu ngobrol udh ada di depan stall!!)

M.M.Y.A.D.S(artinya Mas2 Yg Ada Di Stall):Kau mau mendapatkan hadiah untuk pacarmu, anak muda?

Naruto:Bagaimana cara bermainnya?

M.M.Y.A.D.S:Its izi! Jas cras de batel wit dis bol…(Gak ngerti ya? SAMA!! Hiashi nularin penyakitnya nieeh…)

Naruto dengan semangat melemparkan bola ke arah botol, tetapi tidak kena. Lemparan keeduaaaaaa………juga nggak.

Naruto:Mas, mas! Boleh gak ganti bolanya pake bola saya?

M.M.Y.A.D.S:Boleh, asal bentuknya harus bulat seperti ini…

Naruto:Tenang, sama koq! KAGEBUNSHIN! Naruto dengan cepat mengeluarkan jurus andalannya, JURUS DEWA MABOK LAUT! Eh Salah!! RASENGAN!!

Dengan seketika(Diapet NR donqz! SErap-KEluarkan-henTIKAn!) 3 botol tersebut mental terkena rasengan, dan dengan tidak sengaja botol2 itu dari udara langsung jatuh mementung kepala engkong2 yang botak kinclong!!



Mas2 itu langsung shock berdiri(daripada mati berdiri) karna kaget melihat bola biru yang berputar yang dapat sekaligus mementalkan botol2nya.

Naruto:Hinata-chan, kau mau apa…??

Hinata langsung menunjuk boneka chibi Kyuubi yang pake baju foto mba April Lapigne, bayangin dech!! –Mba Avril Lavigne lagi terkenal di Konoha nich!!-

--

NaruHina pun berjalan-jalan lagi……

Hinata memandang boneka yang diberikan oleh Naruto.

Hinata:Lucu, ya Naruto-kun?

Naruto:Ya, iyalah! Secara kyuubi itu ka nada di dalam tubuhku ini! Kalo aku lucu, otomatis kyuubi juga ikutan lucu!!(PEDE)

Sakura yang kebetulan lewat mendengar ucapan Naruto langsung ‘HHOOOEEEEEEKKKK!! PEDE AMAT TUH ORANG!!’

Tiba-tiba…

CTAAKKZ! DRRRRRT! DHUAR DHUAR! BUMMMM!(kayak perang, ya?)

Seorang kakek yang tadi terpentung kepalanya, langsung menjitak, menembak dengan MG-2 dan Shotgun, dan mem-bazooka Naruto!!(bcandaa.. Cuma jitakan doank!!)

Naruto:AAADDUUUUUHHHH!!

Setelah jitakan kakek itu sukses landing di pala Naruto dan benjol mengeluarkan asap(lu kira Krakatau!!), kakek itu dengan marah-marah menegur Naruto dengan MUNCRAT!!

Inner Naruto:Gak pake kuah kale…!!

Naruto:Maaf kakek…

Kakek:KAKEK, KAKEK!! Mang gw KAKEK LO!! -CTAAAKKZ, jitakan kedua dari sang kakek-

Kakek yang garang itu pun pergi….



Naruto:Kakek itu lebih GUALAK dari nenek Tsunade!!

Naruto berkata sambil memegangi kepalnya yang BENJOL.

Hinata:Kamu gak papa, Naruto-kun…?

Naruto:Sakit, Hinata-chan…

Hinata lalu mencium pipi Naruto(Mas kameramen, adegan ini di sensor, ya…)

Naruto:Aaahhh… Hinata-chan..! Itu manis sekali!!

Naruto lalu mengembalikan ciuman Hinata… (HOOEEEKKK!! Pingin muntah si author!)

Naruto en hinata kepergok ciuman ama Konohamaru en Hanabi. (Naruto & Hinata udah kepergok ciuman 99 kali!! Ama ini brarti 100!! Menurut GUE!!)

KonoHana:Cie… mesra amat!

Hinata berkata sambil blushing:Hei! Kalian tidak sopan!

Hanabi:Maaf, nee-chan! Taon baru pingin dimulai tuh..!

Mereka berempat langsung ke tempat pemeriahan tahun baru…

Para pedagang ngejualin dagangannya sambil tereak-tereak.

“Kue.. kue…!!”

“Mainannya, Dek!!”

“Korannya Pak! Korannya Bu!”

“Brosur, brosur! Brosurnya Fast World! Di Endonesia!”(Lha! Udah sampe Konoha!!)

Disana, mereka bertemu teman-teman mereka, Shino, Sasuke, Sakura, Lee, Neji, Temari, Gaara, Kankurou, Kiba&Akamaru, Shikamaru, de el el.

“Wah, udah pada ngumpyul nich..”, Naruto terkejyut.

“Kelamaan loe! Pacaran mulu sich…”, Shikamaru berkata.

“SYIRIK AJA LOO!! Lu jga udh ada Temari!!”, Naruto balikin kata-kata Shika.



“Udeh, udeh!! Ribut aje lo b’dua!! Tahun baru ½ jam lagi tuch!!”, Lee ngomong pake kuah.. Itu emang kebiasaannya setiap 8909 detik, kalo lebih dia bakalan jadi engkong2 botak kinclong!!

Setelah keributan padam seperti PLN yang mademin listrik se-Indonesia(BUUZZZYEEET!!), di panggung tiba-tiba MC(Kakashi loo, yang jadi MCK! Eh salah!! MC gak pake K) bicara,”YAA… untuk mengisi ½ jam ini, kita panggil 5 Kunoichi!! Untuk menyanyikan lagu keroncong, rock, jazz, Country, metal, and R&B campur aduk dengan diiringi oleh DJ SHINOOO!! Yang akan dilanjutkan atraksi break dance oleh The Akatshuki Crew, dan perhitungan detik-detik TAHUN BARU!!”

Semua orang bersorak sorai… SORAK SORAI BERGEMBIRA!!(nyanyi, mas?)

Setelah setengah jam yang guookil itu lewat, sekarang saatnya lah untuk perhitungan detik2 menjelang tahun baru.

23.59 lebih 50 detik..

10, 9, 8, 7, 6, LIMA, EMPAT, TIGA, DUA, SATU….(bom akan meledak)

Hening…

Hening…

Hening…

Hening…

Hening…

Hening… (Ini Fic mo hening-heningan apa?!)

TAHUN BARU……….!!

Terompet ditiup, orang tereak-tereak, anjing menggonggong, khafilah tetap berlalu…(Lha?!)

--

FINISH

Naruto - I Look Only at You

Genre: Hentai, M/F (Naruto/Hinata). English translated doujin, 22 pages.

to see the manga hentai click here
to download click here

Bukan Hari Ini

Author : Azumi Uchiha
Language : Indonesia

Waha ! Akhirnya aku bisa bikin songfic lagi, hehe… Padahal masih ada yang ngantri tuh, fic blog (istilah sendiri, fic yang dipost ke blog) ma true story fic gituwh. Tapi karena semangat lagi gak jalan sedangkan lagi ada semangat buat bikin songfic, ya sudah aku bikin deh ! -lol-

Udah liat genre nya ? Sadisnya daku, khu khu khu… Pokoke baca aja songfic ini, trus jangan lupa review ! Okeh ? –wink-

Disclaimer : Naruto ya punya Kishimoto-sama, klo lagunya ya punya Cokelat..

Setting : Non Ninja/Modern Life


Bukan Hari Ini

(a song by Cokelat)

Di suatu malam, terjadi sebuah keributan di kediaman keluarga konglomerat bernama Hyuuga. Di rumah itu, sedang diadakan pesta pertunangan antara putri sulung dari keluarga Hyuuga dan putra dari keluarga Uzumaki. Ya, Hinata dan Naruto akan bertunangan. Tapi, ada seseorang yang tidak setuju dengan pertunangan tersebut.

PRANG !!

Suara pecahan jendela memecah keheningan, apa yang sebenarnya terjadi ?

Semua yang pernah

Terjalin indah antara kita

Berakhir sudah

Terlalu cepat begitu saja

Pesta itu pun jadi kacau balau, dengan adanya perkelahian diantara dua pihak.

“Hentikan Kak Neji ! Cukup !”

“Hinata, dia sudah mengkhianatimu !”

Ya, Neji berkelahi dengan Naruto. Hinata tidak mengerti apa maksud dari Neji.

Naruto telah mengkhianatinya.

Apa itu benar ? Hinata tidak bisa menghentikan perkelahian ini, dia hanya bisa melihatnya dengan tatapan takut dan penasaran. Hiashi dan Minato berusaha untuk menghentikan perkelahian itu, tapi tak terelakkan. Perkelahian itu semakin memanas ketika Naruto berteriak pada Hinata.

“Aku tidak mengkhianatimu, Hinata ! Jangan percaya dengan perkataan Neji !”

Seketika, tinjuan mendarat mulus ke pipi Naruto. Neji semakin berambisi untuk menghabisi Naruto. Mata Hinata terbelalak, tak tega. Dia memegang kedua tangannya, gemetaran.

“Apa maksud semua ini ? Aku tidak mengerti apa maksud Kak Neji, Naruto mengkhianatiku ? Itu tidak mungkin kan ?”

Hinata terus bertanya-tanya dalam hati, dia sangat penasaran apa maksud dari Neji.

Ruang makan yang luas itu menjadi berantakan akibat perkelahian Neji dan Naruto. Sementara, Neji masih saja menyerang Naruto.

“Neji ! Apa maksud semua ini hah ?! Kenapa kau bilang aku mengkhianati Hinata ?”, seru Naruto sambil menahan pukulan-pukulan Neji.

“Kau… Sudah mengkhianatinya ! Kau adalah lelaki buaya !”, balas Neji sambil terus menyerang Naruto.

“Aku tidak mengerti apa maksudmu, tapi tolong hentikan perkelahian tidak masuk akal ini !”

Neji mendorong Naruto ketembok, lalu Neji menarik kerah kemeja jas Naruto. Dan bersiap-siap mengepalkan tangan untuk tinjuan. Sebelumnya, dia melihat ke arah Hinata yang menatap mereka berdua dengan ketakutan. Lalu, kembali dia menatap Naruto tajam.

“Hinata, lelaki ini pernah berhubungan dengan wanita lain !”

Seruan Neji membuat hati Hinata tersentak, terkejut. Hinata terperangah mendengar perkatan Neji.

“Naruto… berhubungan dengan wanita lain..?”, tanya Hinata dalam hati, tidak percaya.

Saat kau berpaling dariku

Kau tinggalkan, kau hancurkan

Hatiku merasa

ARGH !”

Hinata semakin terkejut mendengar suara kesakitan itu, suara Naruto. Dia melihat Naruto yang mulutnya mengeluarkan darah, dan Neji yang tersenyum penuh kemenangan. Karena tidak tega, Hinata menangis.

“Sudah cukup !! Hentikan !”, teriak Hinata sambil berlari ke tempat Naruto dan Neji berkelahi.

“Hinata, jangan !”, Tenten (yang kebetulan menghadiri acara itu juga sebagai kekasih Neji) memegang tangan Hinata, mencegahnya.

“Tapi…”

Dilihatnya, Naruto yang bergantian menyerang. Kali ini Neji yang terdesak.

“Apa katamu Neji ?! Aku berhubungan dengan wanita lain ? Bualan !”, teriak Naruto sambil memukul balik Neji.

“Kau pernah berhubungan dengan Haruno Sakura kan ? Iya kan ?! Jangan bohong kau !”, Neji membalas dengan teriakan.

Naruto terdiam, Neji kembali tersenyum penuh kemenangan. Tapi Naruto malah memukul Neji habis-habisan tanpa ampun, membuat Neji babak belur. Naruto menendangnya ke meja makan yang lebarnya tiada tara, dan berhasil membuat Neji tersungkur.

Bukan hari ini harusnya kau kembali

Terlalu lama engkau menyadari

Karna hari ini tak akan ada lagi

Tersisa penyesalan dalam hatiku

Selamanya…

Tangisan Hinata kembali deras, mendengar bahwa Naruto pernah mempunyai hubungan dengan Sakura. Karena dia tahu, bahwa dulu Naruto sangat mencintai Sakura. Tapi, apa karena begitu cintanya sampai-sampai…

“Hinata ! Itu bohong ! Itu hanya akal-akalan Neji saja !”

Lagi-lagi, Naruto meneriaki Hinata. Meyakinkan bahwa dia tidak pernah berhubungan dengan Sakura. Hati Hinata semakin runyam. Dia menyukainya, dia menyayanginya, dan dia juga sangat mencintai Naruto lebih dari siapa pun. Tapi kalau begini…

Neji bangkit kembali dengan nafas terengah-engah, dan dia menghantam Naruto kembali. Gantian, Naruto terdesak.

“Heh ! Apa aku punya tampang bohong ? Seminggu lalu aku lihat kau berjalan berdua bersamanya ke sebuah diskotik waktu tengah malam ! Benar kan ?!”, seru Neji sambil meninju Naruto.

Naruto tak bisa mengelak, dia hanya terdiam sambil mengerang kesakitan. Benar, semua perkataan Neji memang benar. Dia masih ada rasa cinta dengan Sakura. Tapi ketika tahu dia akan bertunangan dengan Hinata, dia ingin menghilangkan rasa cintanya dengan bersama Sakura seharian.

Hinata terus menangis meratapi kenyataan ini, dia tidak percaya bahwa Naruto masih mencintai Sakura.

Maafkan aku tak sanggup lupakan

Semua khilafmu

Mungkin ini yang terbaik untuk kita

Menerima kenyataan yang ada

Saat kau berpaling dariku

Kau tinggalkan, kau hancurkan

Hatiku merasa

Bukan hari ini harusnya kau kembali

Terlalu lama engkau menyadari

Karna hari ini tak akan ada lagi

Tersisa penyesalan dalam hatiku

Selamanya…

Sekarang, Naruto sudah terpojok. Dia tidak bisa berbuat apa-apa lagi, karena Neji sudah membuatnya tak berdaya. Yang bisa dia lakukan hanyalah menatap, menatap Hinata yang menangis.

“Hinata !!”

Hinata tersentak, suara Naruto memanggilnya. Dia melihat ke arah dimana Naruto berada, matanya terbelalak melihat Naruto yang babak belur.

“Maafkan aku, Hinata !”

Naruto berteriak lagi, membuat hati Hinata bergetar. Ternyata itu benar-benar kenyataan, Naruto masih mencintai Sakura. Hinata memegang dadanya, jantungnya berdetak kencang. Bagaimana ini ?, pikirnya.

“Aku mohon, Hinata ! Kumohon…”

Teriakan Naruto terdengar lagi, menambah bimbang hati Hinata. Apa yang harus dilakukannya membuat dia merasa menyesal. Tidak memaafkannya, sama saja dia tidak mencintainya. Memaafkannya, berarti sia-sia saja mencintainya.

Neji tersenyum kembali, dia menang. Lalu, dia merogoh sesuatu dari kantong celananya.

“Saatnya kau kuhabisi, Naruto… Keluarga Hyuuga tidak pernah menerima pengkhianat seperti kau !”, kata Neji sambil menendang Naruto.

Akh !!”

Mendengar suara kesakitan itu lagi, Hinata makin merasa tidak tega. Dia tahu, Neji ingin melindunginya dari segala hal yang buruk. Mungkin karena sifat kakak sepupunya yang overprotektif itu, dia malah jadi semakin bimbang dalam mengambil keputusan. Apalagi disaat seperti ini, disaat amarah Neji yang semakin memanas.

“Neji, hentikan !”, seru Tenten yang berada dibelakang Hinata.

Neji menoleh, melihat kekasihnya bersama adik sepupunya itu. Terlihat wajah geram tergambar di wajah Tenten.

“Diam kau ! Ini bukan urusanmu.”, jawab Neji dingin.

“Kalau kau terus-terusan melukai Naruto, berarti kau sama saja melukai Hinata !”, teriak Tenten sambil maju ke depan Hinata.

Neji memandang Hinata yang menangis, lalu memandang Naruto yang tak berdaya. Dia diam. Tenten sedikit was-was melihat reaksi Neji yang tiba-tiba diam. Tiba-tiba saja, Hiashi dan Minato yang ingin melerai mereka berdua mendekat.

“Neji ! Hentikan semua perbuatan gilamu !”, seru Hiashi yang sekarang berada sedikit jauh dibelakang Neji.

“Iya, tolong jangan lukai Naruto lagi !”, Minato akhirnya angkat bicara, mana mau anaknya dibiarkan saja ?

Neji menggertakan giginya, lalu mengeluarkan sesuatu dari kantong celananya.

DOORR !!

Peluru panas melesat ke arah Hiashi, tapi untungnya dia bisa menghindar.

“Neji ! Apa-apaan ini ?!”, teriak Hiashi yang amarah mulai keluar.

“Neji, hentikan !”, seru Tenten khawatir.

Hinata tercengang melihat Neji menembakkan pistol ke arah ayahnya, dia sungguh terkejut. Kakak sepupunya sudah gelap mata karena terlalu melindunginya, menjaganya. Akhirnya, Hinata sudah tidak tahan lagi dengan perbuatan Neji.

Neji menghembuskan asap yang ada di mulut pistol, kemudian dia mundur sedikit demi sedikit. Lalu, dia mengacungkan pistolnya ke arah Naruto. Hinata terbelalak ketika tahu Neji akan menghabisi Naruto, dia berlari ke tempat mereka berdua.

“Mati kau pengkhianat !!”

“Hentikan !!”

Bukan hari ini harusnya kau kembali

Terlalu lama engkau menyadari

Karna hari ini tak akan ada lagi

Tersisa penyesalan dalam hatiku

DOORR !! DOORR !!

Lagi-lagi suara pistol kembali terdengar di seluruh penjuru ruang makan, semua yang berada disitu terbelalak terkejut. Neji sendiri pun juga terkejut, kaget sekali. Naruto yang kesadarannya masih ada terkejut bukan main.

“Hi.. Hinata..?!”

Bukan hari ini harusnya kau kembali

Terlambat kau sesali yang terjadi

Karna hari ini tak akan ada lagi

Tersisa penyesalan dalam hatiku

Darah segar keluar dari tubuhnya yang mungil, mengotori gaun lavender yang senada dengan warna matanya. Tangannya direntangkan, nafasnya terengah-engah. Melindungi seseorang yang sangat dia sayangi, dan juga dia cintai.

“He.. hentikan… Kak Neji…”

Suara lirihnya, mengundang kesedihan. Neji tercengang. Tembakannya tidak mengenai calon tunangan adik sepupunya itu, melainkan…

Adik sepupunya sendiri.

“A.. a.. aku mohon.. tolong.. jangan lukai.. Naruto lagi..”

Lagi-lagi, suara lirih itu sedikit menyadarkan ambisi Neji untuk menghabisi Naruto. Tiba-tiba, Neji jatuh terduduk. Dia memegang kepalanya, shock.

“Na.. Naruto.. syukurlah… kau selamat…”

Bruk ! Tubuh Hinata jatuh tepat dihadapan Naruto. Naruto menatap Hinata lekat-lekat, lalu dia segera memeluk tubuh mungil itu.

“Hinata ! Kau tidak apa-apa ?!”, teriak Naruto sambil memeluk tubuh Hinata yang bersimbah darah.

“A.. aku.. tidak.. apa-apa..”, jawab Hinata sambil tersenyum pilu.

“Kau jangan bohong ! Kau ini terluka cukup parah ! Maafkan aku, Hinata ! Maafkan aku !”, seru Naruto menyesal, tanpa disadari dia meneteskan air mata.

Air mata Naruto jatuh ke pipi Hinata, membuat Hinata sedih melihat lelaki yang dicintainya menangis.

“Su.. sudahlah.. Naruto… jangan menangis.. aku tidak.. apa-apa..”, kata Hinata denga suara yang sangat lemas.

“Hinata, maafkan aku. Seandainya aku tahu betapa besarnya cintamu padaku, aku pasti tidak akan bersama Sakura. Aku pasti akan segera melupakannya ! Lagipula aku sangat bodoh, Sakura mencintai Sasuke. Mungkin dia hanya menghiburku saja waktu itu. Aku bodoh ! Bodoh !”, balas Naruto sambil menyalahkan dirinya sendiri.

Bukan hari ini harusnya kau kembali

Terlalu lama engkau menyadari

Hinata hanya membalas Naruto dengan senyuman lembut, Naruto menatapnya nanar.

“Naruto.. meskipun aku tahu.. kau mencintai.. orang lain.. aku akan selalu… menunggu kehadiranmu… untuk mencintaiku…”, kata Hinata lagi.

“Hinata, kau ini memang tegar ya. Aku kagum padamu Hinata, aku kagum.”, Naruto tersenyum, membalas senyuman Hinata tadi.

“Jadi… Naruto… kau…”

Karna hari ini tak akan ada lagi

Tersisa penyesalan dalam hatiku

“Kau… mau… menerima cintaku..? aku sudah… lelah menunggu…”, tanya Hinata sambil tersenyum kembali.

Naruto sedikit terperangah, lalu dia tersenyum.

“Tentu saja.”

Naruto mendekati wajah Hinata, lalu mencium bibir mungilnya itu. Setelah itu, mereka berdua tersenyum.

“Terima kasih… Naruto… aku… mencintaimu…”, kata Hinata dengan suara yang sangat pelan.

“Aku juga mencintaimu, Hinata..”, balas Naruto.

Hinata tersenyum, senyumanya kali ini seperti malaikat. Namun tak lama kemudian, senyuman itu hilang perlahan-lahan. Naruto terdiam, melihat Hinata yang sudah menutup matanya.

“Hi.. Hinata ! Kau bercanda kan ? Bilang kalau ini cuma bohong kan ? Hinata ! Jawab aku ! Bangun ! Kumohon bangunlah ! Hinata !!”

Teriakan Naruto menggema ke seluruh ruangan itu, lalu kembali dia menangis deras. Memeluk tubuh mungil cintanya dengan erat, yang sudah tidak bernyawa.

“Kenapa begini ?! Kenapa seperti ini harus terjadi ?! Hinata !!”

Selamanya…

--THE END--

Naruto - Howling Dog

Genre: Hentai, M/F, characters: Sakura, Hinata and Naruto. English translated doujin, 69 pages.

to see the manga hentai click here
to download click here

Naruto - Hinata Fight

Genre: Hentai, M/F (Naruto/Hinata) . English re-write, 44 pages.

to see the manga hentai click here
to download click here